
Rena mengaktifkan HP nya, beberapa pesan masuk dari rey, notifikasi panggilan pun tidak kalah banyak nya,
rena mendesah, harus nya hari ini dia datang ke rumah pelatihan dengan teman teman nya menyiapkan perlengkapan untuk besok,
tubuh nya kurang sehat, dan Nino pun baru baikan,
mila menelpon nya, karna melihat pesan nya sudah berubah jadi centang dua,
"assalamu'alaikum,
“waalaikumsalam bu, ada kabar ibu dan Nino sedang tidak sehat?? ( mila bertanya)
" iya mila, Nino deman dari semalam, mungkin aku kurang tidur"
"ibu istirahat lah, biar di sini kita yang atur, buat besok juga ke panti ibu ga usah ikut saja"
"iya mila, maaf ya, Kodarullah semua mendadak di luar jadwal"
"itu lah bu, manusia hanya bisa berencana bukan?? "
rena tersenyum.
"semoga ibu, dan Nino cepet sembuh, kalo sudah sembuh kita ke panti lagi sama sama"
"amiiinnn, makasih mila, kalian hati hati ya.. dan tetap semangat"
"hehee, siap bu.. mila tutup telpon nya ya? assalamu'alaikum"
"iya mila, waalaikumsalam"
di lihat nya pesan yang mila kirimkan,
semua sudah berkumpul di tempat pelatihan, mereka sedang membungkus keperluan untuk anak panti,
rey belum juga menghubungi nya, rena masih menunggu...
***
"anto urus di kantor, aku akan ke kantor fachry" (rey tak akan berlama lama, ia harus memberi teguran)
"siap tuan, hati hati"
rey memutuskan telpon nya, masuk ke dalam mobil, ia langsung tancap gas...
ana sedang di ruangan fachry ketika receptionist menelpon mengabarkan ada tamu,
ana tersenyum ceria,
"paman, nanti ambil beberapa gambar kita lagi ya.. " (katanya tanpa merasa bersalah)
"hahaa, pasti sayang"
ana keluar dari ruangan berniat menyambut rey,
rey di antar receptionist, menuju ruangan fachry
mereka bertemu di Koridor, ana tersenyum melihat rey dari jarak beberapa meter,
__ADS_1
"nona ini pak rey"
"iya terimakasih, biar saya yang bawa ke ruangan pak fachry"
rey membuang wajah nya merasa muak dengan semua nya, si receptionist undur diri
"tuan, tiga jam yang lalu kita baru bertemu, apa anda sudah rindu?? “
rey tersenyum sinis, ia mendekat,
" bagaimana cara mu mengambil foto itu? kamu bahkan mengirimkan foto pada istri ku?? licik sekali"
"foto yang mana tuan?? (ana pura pura bingung)
" ini tidak lucu"
ana mendekat, menyentuh dasi rey,
"apa istri mu marah?? apa kalian akan bercerai?? aku siap jadi pengganti nya rey"
plakkk,
rey menampar keras pipi mulus ana, wajah nya sampai berbalik ke lain arah,
"dari pertama liat kamu memang aku sudah tidak suka, dimana harga diri mu sebagai perempuan, aku mencintai istri ku, kami tidak akan pernah berpisah"
ana menatap rey, memegang pipinya yang terasa panas,
"jangan kan jadi pengganti nya, se ujung kuku mu pun tidak sebanding dengan istri ku"
rey pergi, meninggalkan ana yang masih terpaku, merasakan panas di pipi nya,
"kamu ga apa apa ana? "
ana hanya menggelengkan kepala,
"ayo kita kembali ke ruangan"
fachry membawa nya, menoleh ke sana ke sini, takut ada seseorang yang melihat
rey memukul stir mobil dengan kencang, membuka dasi, ia melemparkan nya keluar, ana menyentuh nya tadi, rey merasa jijik..
"kenapa ada perempuan seperti dia? apa dosa ku ya Allah hingga di pertemukan dengan nya"
rey memeriksa HP
pesan nya pada sang istri sudah di baca, HP rena sudah aktif, ia bergegas menelpon istri nya,
namun kalah cepat,
no baru itu mengirimkan lagi foto nya bersama rey, foto yang fachry ambil saat ana menyentuh dasi rey,
rena sedang menangis karna foto itu,
ketika rey menelpon,
"assalamualaikum, bunda... ( rey menunggu jawaban, rena diam, terdengar isakan di sebrang sana, rey memijat kening nya, sungguh ia merasa bersalah
__ADS_1
" rena sayang... "
"apa?? (rena marah, susah payah ia menjawab sambil manahan tangis nya)
" maaf... "
"untuk apa?? "
"untuk semua nya, itu salah faham sayang.. "
Rena mematikan sambungan telepon,
ia mengirimkan foto yang baru ia Terima pada suami nya,
rey menerima pesan,
"astagfirullah, (rey menggigit ibu jari nya, apa lagi ini?? ini akan semakin rumit)
" untuk apa meminta maaf, kamu bersenang senang di sana rey???? " (rena mengirimkan pesan lagi)
"aku akan pulang sekarang juga ke Jakarta, ini salah faham sayang"
"kamu pulang aku akan pergi, aku malas harus ketemu kamu lagi"
rey semakin frustasi,
"kita perlu bicara sayang, angkat telpon nya"
rey menelpon rena lagi, rena mengangkat nya, ia rindu, sungguh dalam keadaan tidak sehat begini ingin rey ada di dekat nya "
"dia sungguh cantik rey, berbeda sekali dengan ku, " (sungguh hati rey hancur, mendengar suara rena bergetar, rena menangis)
"apa yang harus aku bilang sayang, ini salah faham, dia bukan siapa siapa, foto itu di ambil, aku memang baru datang ke kantor nya, untuk menegur nya, aku bahkan menampar nya karena sembarangan mengambil foto ku"
"menampar dengan bibir mu?? " (kata rena)
deg, rey memejamkan mata nya,
"ya Allah sayang, demi Allah aku ga gitu, kamu tau aku gimana"
"aku tau kamu, tapi ga pernah tau apa yang kamu lakukan di sana rey, entah lah aku malas berdebat, nikmati saja waktu mu, aku ga keberatan jika kamu ga pulang"
"rena sayang pleaseee, kamu ga percaya sama aku??? "
"mungkin dulu percaya"
"jangan terhasut, tenang lah, kamu sedang mengandung"
"kamu bilang aku harus tenang rey??
wanita mana yang akan tenang melihat suami nya bersama wanita lain" ( rena berteriak, tangis nya pecah, rey terdiam ini kali pertama rena se marah ini, dia ceroboh, seperti nya ana memang perempuan licik)"
"sayang,. terlepas apa yang terjadi, aku minta maaf, aku salah, memberi celah untuk wanita itu, tapi percaya lah sayang, ini ga seperti yang kamu pikirkan,
siapa lagi yang akan percaya sama aku kalo bukan kamu,
aku sayang kamu, aku sayang kalian, aku harap kamu yakin akan itu rena, maaf oke"
__ADS_1
rena tidak menjawab, entah lah, -ini begitu berat untuk nya, rena memilih mematikan lagi telpon nya, biarlah, mungkin rey akan menganggap nya ke kanak kanakan,
rey menatap foto sang istri di hp nya, mengusap nya, "maaf sayang, aku yang salah, hukum aku, aku akan menerima nya".... ( mata nya memanas, sungguh rey ingin memeluk istri nya, tanpa berkata apa apa, namun dengan itu mereka saling memahami"