
Suasana menjadi sangat canggung di dalam mobil, shanum yang duduk di depan dengan ayah nya, tidak bersuara sama sekali, Rena menjadi tak enak hati, tapi siapa tau kejadian ini akan terjadi, Rey lupa mengunci pitu kamar dan membiarkan nya terbuka sedikit,
membuat shanum merasa leluasa masuk tanpa mengetuk pintu,
ini masih jam 11 siang kurang, Rena belum terlalu lapar, ia memutuskan untuk berjalan jalan, melihat apa pun yang di jajakan toko toko branded di mall itu,
Rey mendapat pesan dari Frans bahwa Nino sudah sampai di bandara, frans akan segera membawa Nino ke restoran tempat yang mereka sepakati,
Nino sendiri merasa tidak sabar bertemu dengan keluarga nya, ia tidak pulang 2tahun belakangan ini,
Rey mengajak shanum dan Rena untuk segera ke restoran, Rey baru memesan kopi, shanum dan Rena cemilan saja,
"aku sebenar nya belum lapar yah" ucap Rena
"ya ta'apa kalian makan cemilan saja"
pesanan mereka telah datang, Rena tidak begitu memperhatikan siapa yang datang membawa nampan untuk mereka,
namun shanum menyadari nya, ia menahan bibir nya untuk tidak memanggil sang kakak, karna Nino meminta nya untuk diam,
Rena sibuk dengan menata cemilan mereka di meja, namun shanum dan Rey sudah tak tahan menahan tawa,
"jika butuh sesuatu panggil saya ya bunda " kata si pelayan, membuat Rena seketika menoleh, dari mana pelayan itu tau semua memanggil nya dengan sebutan bunda.
Rena langsung bangun dari duduk nya,
"kakak..... " Rena memanggil nya dengan haru
Nino tertawa, melebarkan kedua tangan nya untuk menyambut pelukan sang bunda, mereka berpelukan.
"sayang, kenapa ga kasih tau bunda kamu pulang??" Rena terisak, menepuk nepuk punggung putra nya dengan lembut
"bunda kangen kak"
"kakak juga kangen sama bunda, bunda sehat?? "
Rena mengangguk, pelukan mereka terlepas, Nino menyeka air mata sang bunda dengan jari nya,
"kalo kata ayah, bunda ga boleh nangis.. kecuali air mata bahagia"
"bunda bahagia sayang"
Nino memeluk lagi bunda nya,
"maaf ya, ini rencana kita, bikin kejutan buat bunda"
"syukurlah kakak sudah di sini, pasti cape kan? ayo kita makan"
"ayo, aku memang sangat lapar"
Rena sibuk menyusut air mata dengan ujung kerudung nya,
ia memesan makanan kesukaan sang putra, Nino sedang berpelukan dengan adik dan ayah nya.
Rena berpindah tempat,
__ADS_1
memberi ruang untuk Nino dan frans. namun frasa menolak, ia masih punya tugas lain dan akan makan siang di kantor saja.
"dua tahun kakak ga pulang, bunda sangat khawatir"
"bunda mu mengajak ayah untuk menyusul ke sana dan pulang bersama, tapi kebetulan jadwal ayah padat" kata Rey menambahkan
Nino benar kelaparan, ia terus memakan makanan nya sampai belepotan ia rindu makanan Indonesia
"kak, pelan pelan.. " Rena menyodorkan tysu untuk nya
"ini sangat enak bunda, Nino mau makan tadi di bandara, tapi Nino buru buru pengen ketemu kalian"
"ya sudah, ayo makan saja dulu"
Rey menggenggam jari tangan istri nya, Rena bersandar di dada nya memperhatikan kedua anak anak mereka, Nino yang mempunyai karakter jahil, terus saja membuat adik nya merengek karna kejahilan nya,
"terimakasih telah memberikan kejutan ini, bunda senang sekali" ucap Rena pada Rey
"ini sudah kami rencanakan jauh jauh hari"
Rey memeluk istri nya,
shanum menutup mata nya takut kejadian di kamar terulang lagi, Nino yang melihat itu tertawa,. mencoba menarik tangan adik nya agar tidak menutupi matanya.
mereka sudah terbiasa melihat adegan ayah dan bunda nya berpelukan.. bahkan di ruang TV pun mereka berpelukan begitu,
tapi kalau berciuman shanum tidak pernah melihat nya, jadi ia sedikit syok😄.
London,
saat akan pulang dari RS, ia bertemu mike, July tidak mengenal nya, namun mike menyapa nya, dan mengatakan kalau Nino telah pulang ke Indonesia,
July tidak semudah itu percaya, ia meminta seseorang mencari tahu hal itu,
dan ternyata benar, apartemen Nino pun sudah kosong, pihak pengelola mengatakan Nino masih pemilik nya. dan belum mendapat kabar apa pun soal akan di jual atau apa untuk apartemen nya.
July lagi lagi melihat pesan nya.. itu betul betul tidak terkirim, saat ia mengirim pesan berarti Nino sudah pergi,
"kamu pergi.? dan tidak pamit??, seperti nya benar kata rakha, hanya aku yang merasakan cinta di sini"
Di ruang tamu,
Al dan rakha membicarakan Nino,
dari awal sampai yang terakhir,. Al sedikit merasakan sesuatu,
" Nino.?? dari jakarta? apa mungkin ia anak nya Rey? "
Al dan Rey memang sudah cukup lama tidak berkomunikasi, terlebih setelah kepergian mendiang istri nya, biasa nya Rena lah yang rajin berkomunikasi dengan bunga,
"jadi dia seorang dokter? " tanya Al
"iya pah, kakak awal nya tidak tau ia dokter, mereka ketemu di restoran, dan malem itu aku yg jemput kakak di sana, dan bertemu Nino.
dia juga yang nolongin kakak waktu kecelakaan, dan bawa kakak ke RS"
__ADS_1
Al mengangguk,
Al akan coba mencari tahu, siapa tau Nino yang di maksud adalah anak dari teman nya Rey, jika benar bukan kah ini akan mudah, ia akan coba menjadi mak comlang untuk putri nya.
Hari demi hari berlalu,
Nino sudah mulai datang ke RS, seperti permintaan nya, ia akan mulai dari nol sebagai dokter dulu, sambil belajar tentang seluk beluk RS ini.
Rey merasa senang, ia jadi lebih sering berkunjung ke RS, Nino harapan nya, penerus untuk keluarga nya.
Hari ini Nino memiliki jadwal siang,
namun ia lebih awal datang, ayah nya meminta untuk ia mengamati tentang RS, bila ada yang harus di ganti/di rubah, Rey akan dengan senang hati menerima pendapat itu, demi kemajuan dan kenyamanan RS,
Nino berjalan di Koridor, menuju ruang praktek Farhan, ia teman Nino saat sekolah SMA dulu,
rumah sakit begitu ramai, menandakan begitu banyak nya orang-orang yang tidak sehat.
Nino berbelok, namun tidak di sangka ia bertemu seseorang, Nino menghentikan langkah nya terdiam, ia tersenyum, jantung nya tiba tiba berdegub kencang,
"assalamu'alaikum" sapa Nino
"waalaikumsalam, kamu pulang? "
Nino tersenyum lebih lebar lagi, ia mengangguk,
"sudah satu minggu" kata Nino
"siapa yang sakit? " tanya nya lagi, Nino melihat wanita di hadapan nya ini memiliki memar di sudut bibir nya, ia ingin sekali bertanya.
"aku, memiliki keluhan, baru saja selesai periksa" jawab Amira sambil mengalihkan pandangan nya, ia tau Nino memperhatikan bibir nya yang luka.
"dari dokter Farhan?" tanya Nino
"iya betul.. "
"dimana suami mu? kamu sendirian? "
Amira terdiam, ia tersenyum kecut,
"ya aku sendiri, baik lah, aku mau tebus obat, senang bisa ketemu lagi sama kamu" ucap nya.
senyum di bibir Nino hilang, Nino tau Amira menyembunyikan sesuatu, tapi itu bukan hak nya untuk bertanya, Amira telah memiliki suami.
"hati-hati, semoga cepat sembuh, salam untuk suami mu"
Amira mengangguk,
"waalaikumsalam, aku duluan ya? "
kini Nino yang mengangguk, ia memperhatikan Amira yang menjauh,
"kamu terlihat lebih kurus Amira, dan luka di bibir mu, karna apa? "
Nino mengalihkan perhatian nya, Amira sudah tak terlihat, ia melanjutkan perjalanan nya menemui Farhan,
__ADS_1
*bang Nino pulang ketemu mantan.. achiye, mana belom moveonðŸ¤*