
Setelah subuh, July langsung ke dapur, membantu bi sari menyiapkan sarapan.. bi sari sungguh enggan, tapi July tetap memaksa..
"non, jangan.. biar bibi ini tugas bibi.. " ucap bi sari,
"bi, tenang aja, di rumah aku nyiapin semua sendiri, makan, cuci piring, nyapu... anggap aja sekarang juga aku nyiapin sarapan kayak biasa di rumah.. "
bi sari mengalah, ia sungguh tak enak hati,
"baiklah non.. tapi hati hati takut kena minyak sama piso.. "
"siap bi" July tersenyum
Rena datang, ia melihat July sedang di dapur, Rena ikut menyiapkan piring dan gelas untuk di taruh di meja..
"selamat pagi... " Rena mengusap lengan July
"pagi bunda.. "
"bikin apa buat sarapan? “ tanya Rena
" ini lagi suir ayam. kata bi sari mau bikin nasi goreng aja" ucap July
"mantep deh. bunda siapin piring nya ya... "
"ok bun.. "
shanum telah siap dengan seragam nya, namun jam berangkat sekolah nya masih satu jam lagi
"wah.. kak Ana buat sarapan?? "
July melirik shanum,
"shanum juga harus belajar masak.. " ucap Rena
"shanum lebih suka bikin kue bun" shanum menuangkan air minum untuk mereka sarapan
"tapi perempuan yg penting masak. masa shanum mau makan kue terus tiap laper" tambah Rena
"iya ya bun, kak July udah nikah mau tinggal di sini kan??, nanti ajarin shanum masak ya... "
July tersenyum.,
"belom tau dek.. "
"tinggal lah kak, kak Nino dulu sama sekarang jarang di rumah. kalo pindah tambah aja jarang ketemu... kan seru kaya sekarang rame sarapan nya"
July hanya tersenyum, ia belum bisa menjawab apa pun..
Nino turun, ia juga sudah siap dengan kemeja kerja nya,
"hay." sapa nya pada July
July mengangguk,
"kak kalo udah nikah tinggal di sini ya.. liat pagi ini, seru rame" shanum merengek pada kakak nya,
"belum tau shan... "
"kan kalo tinggal di sini shanum jadi ada temen di rumah"
"kak Ana kan kerja" ucap Nino
shanum terdiam,
"yaaahhh... " ia kecewa,
Rena tersenyum,
"kamu juga bakal banyak kegiatan kalo udah kelas 3 nanti, bisa bisa pulang sore terus sama Rifa"
"iya bun, shan suka sepi kalo malem.. Rifa kan ga bisa tinggal di sini"
July datang, nasi goreng atas kerjasama nya dengan bi sari sudah jadi,
"hmmm wangi banget" ucap Nino
Rey belum turun dari kamar nya.. namun Nino dan shanum harus berangkat lebih awal.
"makan lah duluan.. bunda mau panggil ayah dulu ya.. "
"baiklah.. " shanum mengangkat piring nya dengan senang, July memberikan jatah nasi goreng milik shanum, juga pada Nino,
__ADS_1
"ayo sarapan.. " ajak Nino pada July
"aku belum lapar " July duduk di sebelah shanum, bersebrangan dengan Nino,
"seengga nya isi sedikit" ucap Nino
July memang jarang sekali sarapan apa lagi sepagi ini..
"Nino, jam 11 nanti aku mau ketemu Edward"
"dimana? “
" di restoran xx" jawab July, ia memilih roti untuk sarapan nya
"apa aku boleh gabung, aku belum berterimakasih sama Edward"
July tersenyum,
"tentu boleh, sekalian kita makan siang" ucap July
mereka menghabiskan sarapan nya,
Nino langsung bangun dan pergi ke RS, Nino ingin sekali di antarkan ke depan pintu oleh July, tapi itu memang belum saat nya,
"kak aku ikut ke sekolah" ucap shanum ia buru buru pakai sepatu
"ayo cepat" kata Nino menjahili nya..
Rena dan rey turun, putra putri nya sudah siap,
mereka berpamitan.
Nino menghampiri July yang sedang membereskan piring sarapan mereka.. Nino meraih tangan, dan mencium punggung tangan July,
"sampai jumpa makan siang, biar Rio yang temani nanti ya..? “
July celingukan, ia memukul pelan lengan Nino karena malu Nino melakukan itu,
" Nino kalo bunda liat gimana? “
"kan cuma cium tangan.. "
"iya bawel" Nino menghampiri nya, mereka berangkat bersama
"Ana ayo sarapan.. " ajak Rena
"maaf bun, sudah tadi.. July ijin ke kamar ya..? “
Rey tersenyum pada calon istri putra nya itu, July pasti masih canggung,
" baiklah, terimakasih sudah buat sarapan" ucap Rena berkedip
"sama sama. bun.. "
** jam 11siang
setelah minta ijin pada bunda nya dengan penuh drama, July akhirnya bisa keluar, tapi dengan syarat tidak boleh bawa mobil sendiri dan di temani Rio..
July pasrah, selain memang untuk kebaikan, July menghargai Rena seperti menghargai bunda nya, ia tidak marah Rena melarang nya ini itu,
"saya pastikan nona bertemu Edward dulu.. baru nanti saya tunggu di mobil" ucap Rio
"makasih ya.. Nino juga mau datang, kita akan makan siang, ayo kita sama sama makan siang Rio"
"terimakasih nona, nanti saya makan sendiri.. "
mobil mereka telah sampai, July melihat mobil Edward sudah terparkir, namun Rio tetap mengantar nya masuk,
"hay, kamu sehat?? " tanya July pada Edward
"sangat sehat kak..
dokter Nino jadi datang?? " tanya Edward
"ya, barusan kirim pesan sebentar lagi otw,
ed' makasih udah nolong Nino malam itu, maaf aku emosi aku nyuruh kamu pergi" July sangat menyesal,
"aku ga anggap itu serius kak, kakak itu kakak aku, lagian aku salah udah ga ngasih tau kakak soal dokter Nino"
July tersenyum.,
__ADS_1
Edward memanggil pelayan, mereka memesan minuman..
membicarakan tentang Hans sangat menguras pikiran July, entah apa yang harus July lakukan dalam kondisi seperti ini,
Nino telah tiba, namun sangat kebetulan Edward harus menjemput Al dan Rakha di bandara, ia pamit pulang setelah Nino menyampaikan terimakasih,
"aku ke toilet dulu ya..? “ ucap July,
" baiklah, aku juga lupa sesuatu di mobil aku ambil dulu ya... "
"apa itu?? “
" hadiah kecil buat calon istri ku' Nino mengedipkan matanya,
memastikan July masuk ke toilet, Nino bergegas menuju mobil..
Nino belum kembali saat July telah selesai,
"mbak maaf, seseorang menunggu mbak di atas"
"seseorang? " tanya July
"iya laki laki" kata pelayan itu,
_ Nino?? kejutan apa c..ko ga di sini aja malah di atas _ July bergumam
"makasih ya mas" ucap July,
July tidak membuang waktu, ia naik ke lantai atas dengan tangga yang lumayan banyak,
"Nino, kamu selalu menyusahkan ku kalau mau ngasih kejutan" July berbicara pada diri nya sendiri..
ia sampai di atas.. beberapa bangku tersusun rapih, saat cuaca bagus seperti ini di atas sini memang terlihat indah,
July berputar, mencari sosok Nino di sana.. namun tidak ada.. hanya berberapa pelanggan yang duduk di sudut balkon
Nino kembali, ia membawa buket kecil bunga mawar putih untuk ia berikan pada July, kebetulan saat Nino menuju resto ia melihat toko bunga, begitu saja teringat pada July,
Nino duduk, ia berpikir mungkin July belum selesai dari toilet,
namun setelah menunggu lebih dari lima menit, Nino merasa curiga.. ia menyusul ke toilet, bertanya pada petugas,
"di dalam kosong pak" ucap petugas itu, Nino tidak mudah percaya.. ia mengecek nya sendiri, dan ternyata benar, toilet nya kosong..
Nino kembali ke meja, pelayan membawakan pesanan July untuk makan siang nya dan Nino,
"mas maaf, apa liat cewe yang sama saya di sini tadi?? “
" oiya, mbak nya ke atas.. tadi ada cowok minta tolong panggilkan, "
"cowok?? " Nino merasa curiga.. ia menelpon Rio untuk ikut masuk mencari July.
July bersandar pada pagar di balkon. menunggu Nino, melihat pemandangan jalan raya yang begitu padat dari posisi nya berdiri,
sebuah tangan melingkar di leher nya, July melihat tangan itu menggunakan jam berbeda dari milik Nino, juga ia hafal wangi parfum yang Nino pakai, namun laki laki ini berbeda aroma nya, July membeku seketika.. pikiran nya tertuju pada Hans,
Nino dan Rio secepat nya menaiki tangga, menuju lantai atas yang pelayan itu bilang, Nino membuka pintu penghubung,
matanya memanas.. July takut kalau yang memeluk nya ini adalah Hans, ia memberanikan diri berbalik, dahi nya mengernyit, ia tidak mengenali siapa lelaki di hadapan nya ini...
"jullyana" ucap lelaki itu, ia tersenyum. tapi July masih berpikir keras
"siapa kamu?? “ lelaki itu merentangkan tangan nya hendak memeluk July, dengan gerakan reflex July mendorong nya..
" menjauh dari ku.. "
Nino membuka pintu, matanya langsung tertuju, pada July yang berteriak mendorong lelaki itu..
"Ana.. "
melihat kedatangan Nino, lelaki misterius itu menyandra July,
"stop, atau aku akan mendorong calon istri mu ke bawah... " ucap nya, July ketakutan mendengar itu,
"Nino.. " Nino melihat July menangis wajah nya begitu cemas
"apa mau kamu? lepasin ana.. "
pria itu tertawa...
"hahahaaa, aku mau dia, apa ada urusan nya dengan mu?? “
__ADS_1