
evan berada di kampusnya ketika sebuah telpon dari no tak di kenal masuk, ia cukup risih karna sudah beberapa kali no itu menghubungi nya, semalam dia memimpikan sang abang, memberikan sebuah buku, seperti buku harian entah apa arti dari mimpi itu,
Rumah Ferdi
sejak malam perasaan sang ibu tidak enak, ia teringat anak sulung nya, setelah pergi belum ada kabar lagi dari Ferdi,
ibu bahkan tidur di kamar Ferdi, memeluk foto nya dalam bingkai kecil,
mimpi itu sangat nyata, Ferdi mengusap kepala sang ibu yang sedang tertidur
"Buu..
dalam mimpi Ferdi memanggil sang ibu,
ibu terbangun, menoleh ke belakang di mana dalam mimpi Ferdi berada di sana,
" nak apa kamu baik baik saja? kenapa perasaan ibu ga tenang?? " (ibu menangis. ia rindu anak nya) ibu udah bilang nak, menyerah lah, dengan itu ibu bisa jengukin kamu sesering mungkin di sel, kalo gini keadaan nya, ibu nyari kamu kemana?? ibu kangen fer.. "
"selamat sore, dengan sodara evan??
" iya saya pak, ada apa ya?
"kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan, bahwa kakak anda yang bernama Ferdi, kini berada di RS xxx beliau koma, di ruang ICU lantai 4,
" apa yang terjadi pa?? ( evan bingung, kaka nya koma?)
"saudara Ferdi telah menculik anak dan istri dari bapak reynan baskara , tepat nya di pemakaman di bandung, untuk lebih jelas saudara evan di minta datang ke RS"
"baik pa, saya ke sana langsung"
aaahhhh, evan menjambak rambut nya,
"bang, lo nekat bang, (evan sangat menyayangkan tindakan sang kaka yang ingin bertemu dengan rena, tapi tak menyangka harus sampai menculik,
menyalakan motor matic nya, evan langsung g pergi ke RS, hati nya tak karuan.. ingin segera tau apa yang terjadi
ibu bangun dari duduk nya, berniat mengisi lagi air minum di gelas nya yang sudah kosong.
namun entah kenapa gelas itu melesat jatuh begitu saja dari genggaman nya, membuat pecahan gelas tersebar ke mana mana,,
"astaghfirullah" ibu mengusap dada nyaa perasaan nya semakin tak enak
ayah datang dari arah ruang tamu
"bu ada apa???
istri nya hanya diam saja memandang pecahan gelas,
" ibu duduk dulu, ayah ambilkan minum"
memberikan sang istri minum, ayah membereskan pecahan gelas dengan hati hati
"perasaan ibu ga enak yah, dari kemaren ibu inget terus sama Ferdi"
ayah menghampiri sang istri, menyentuh pundak nya, " istigfar bu, kita berdoa semoga ga ada apa apa sama ferdi"
"kasian dia yah, kenapa nasib nya begitu, dia anak baik, dia ga pernah nakal dari kecil, sayang sama ade ade nya" (hick ibu menangis)
ayah mengusap usap punggung nya,
sejak kejadian batal nya pernikahan Ferdi sang ibu drop, sakit sakitan..
"ini sudah takdir Allah bu, setiap orang punya jalan hidup nya masing masing
ayo ayah antar ke kamar, ibu istirahat ya? β
__ADS_1
ibu menurut,
berbaring di kasur nya, ayah menggenggam kan tasbih,
" istigfar ya, ayah ke dapur lagi, beresin gelas"
"iya yah....
evan sedikit berlari, menuju ruang receptionist,
setelah mendapat keterangan dari sang suster evan menuju ruang ICU.
masuk ke lantai 4 suasana sangat sepi, evan melihat 3orang polisi di depan kamar rawat abang nya,
" pak, saya evan..
"ya, masuk lah (seorang polisi mengarahkan)
evan masuk, benar itu abang nya yang beberapa hari kemarin pulang
beberapa alat terpasang di tubuh nya, mata evan memanas, abang nya sungguh menyedihkan.
duduk di kursi sebelah ranjang, evan meraih tangan abang nya
" bang, apa yang terjadi??( kenapa bisa ada di sini, dan kondisi nya sedikit parah, kaka nya koma)
evan menyandarkan dahi nya di lengan sang kaka.
ia harus tau apa yang terjadi, evan keluar menghampiri polisi di depan ruangan
"betul itu kakak anda?
" betul pak, apa yang terjadi??
tadi pagi di pemakaman xx, saudara Ferdi melakukan penculikan putra dan istri dari Bpk rey, dia bekerja sama dengan seorang yang bernama andi, (andi?? ya evan tau andi adalah teman abang nya, jadi mereka bekerja sama??)
saudara andi menculik putra nya, dan meninggalkan nya di tempat sepi di jalan xx untuk pengalihan, sedangkan saudara Ferdi menculik ibu rena istri dari Bpk rey.
saudara Ferdi membawa ibu rena ke sebuah villa, bisa di bilang menyekap nya, saat penggerebekan di lakukan, saudara Ferdi melakukan penembakan pada Bpk rey, beliau terluka di lengan kanan nya,
dan karna saudara Ferdi masuk ke kategori membahayakan, kami dari pihak kepolisian yang ikut dalam penggerebekan, melakukan tindakan penembakan kepada sudara Ferdi
evan kaget, apa? kaka nya tertembak??
"kenapa harus di tembak pak? ga ada cara lain kah? β
" saudara Ferdi mengancam nyawa yang lain nya, sebelum sesuatu terjadi kami bertindak"
evan menangis, sungguh malang nasib abang nya itu, "saya mewakili pihak yang bertugas menyampaikan permohonan maaf"
"saya ga liat ada luka tadi di badan kaka saya pa"
"luka nya di punggung kiri"
evan bingung, bagai mana menyampaikan kabar ini pada keluarga
"lalu bagaimana keadaan rey??
" pak rey sudah menjalani oprasi dan sekarang sudah di ruang perawatan, dan kejadian ini juga menyebabkan ibu rena keguguran"
evan melotot
(bang.. kenapa jadi begini, kenapa harus banyak orang yang terlibat jadi korban)
"baik pa, saya masuk lagi ke ruangan"
__ADS_1
"silahkan, nanti kami akan menghubungi lagi saudara, ada beberapa berkas yang harus di tandatangani"
"baik pa, Terima kasih"
evan kembali ke ruangan abang nya,
tak lama evan duduk, frans datang masuk ke ruang rawat,
"maaf anda siapa? (evan sedikit ngeri, pria yang datang memakai seragam hitam ini sedikit menyarankan)
" saya dari pihak tuan reynan ingin melihat kondisi kaka anda"
"saya mohon maaf atas nama kaka saya, saya pribadi ga nyangka kaka saya bisa ngelakuin ini"
"kami semua tidak menyangka nya tuan, "
tuttt tuttt tuttt,
entah mesin apa yang ada di sebelah Ferdi, itu berbunyi nyaring, evan panik tangan abang nya bergerak
"bang, sadar bang, ini evan bang...
ferdi membuka mata, frans segera memanggil perawat dan dokter
evan menggenggam jari tangan abang nya,
terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi sulit, Ferdi tak bisa menggerakan mulut nya,
" abang mau apa?? minum??? (fedi berkedip, sedikit menggelengkan kepala nya)
"istigfar bang,... (evan menangis, ia ingin pergi, tak tega melihat abang nya begini)
" van.... (sedikit tak jelas Ferdi bicara)
"iya bang ini evan..
" maaf... (Ferdi susah payah menyebut nya)
"iya bang, evan udah maafin abang, ibun juga pasti maafin abang, ayah, sama rima juga, abang harus sembuh, (evan menyemangati, Ferdi terlihat berkedip sedikit lama beberapa kali)
" bang, (engga, abang pasti sembuh, ga mungkin evan melihat abang nya kesakitan, apa ini sakaratul maut)
istigfar bang, astaghfirullah evan membisikan di telinga sangat kaka dengan berderai airmata "astagfirullah"
tangan sangat kaka terlepas dari genggaman nya, layar alat penditeksi jantung menunjukan garis lurus, evan tercengang, di tatap nya wajah sang abang, mata nya terpejam lagi,
"bang bangun bang jangan begini... (evan mengguncangkan bahu nya) bang ini ga lucu bang jangan becanda..
dokter dan perawat masuk, meminta evan sedikit bergeser, mereka akan melakukan pengecekan,
dokter menatap suster, dan menganggukan kepala nya, datang menghampiri evan..
" maaf nak, kami sudah berusaha, tuan Ferdi sudah tidak ada"
evan tak merespon, dia menatap wajah sang kakak, meneteskan air mata,
"terimakasih dok"
mendekati sang kaka,
evan berbisik di telinga Ferdi
"innalillahi wainnailaihi rojiun, Terima kasih bang, udah jadi abang yang luar biasa buat kita, selamat jalan bang,.. " ambruk memeluk sang kaka, frans melihat nya,
betapa keadaan sungguh mempengaruhi sifat seseorang, frans sempat mencari tahu Ferdi, tidak ada kejahatan/tindak kriminal yang ia lakukan sebelum ini, bahkan di kantor, di kampus, dan di sekolah ia sangat berprestasi, frans pergi akan ia kabari tuan nya,..
__ADS_1