Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)

Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)
peraturan


__ADS_3

team yang Edo pimpin sudah berkumpul di rumah pelatihan, Edo akan membawa 5orang dan semoga bisa membantu masalah Al di Singapura yang konon akan menjadi besan tuan nya,


"Nino... " Rey memanggil putra nya, Nino baru saja duduk di belakang kemudi ia akan pergi ke rumah pelatihan,


"keluar dulu" Rey memberi arahan dengan tangan nya, Nino buru buru keluar


"ada apa yah?? "


"Nino dengar,


July di culik,


Hans mengirimkan foto July sedang berada di suatu rumah"


Nino memejamkan mata,


"astagfirullah" _ya Allah, jika kemarin Ana tidak pergi mungkin tidak begini keadaan nya, aku memang hodoh_ gumam Nino dalam hati


"temani papah Al di sana, tinggalkan saja RS, kasihan Al, rakha juga belum siuman, sekarang July di culik"


"pasti yah, Nino akan lakuin yang terbaik buat Ana"


Rena menghampiri putra nya,


"maaf bunda tadi marah marah,


bawa Ana pulang dengan selamat, kalian ga boleh ada yang terluka, bunda ga mau denger kabar selain keberhasilan kalian jemput Ana pulang"


Rena menangis, Nino memeluk nya,


"inshaAllah doa seorang ibu akan di ijabah, terus do'ain Nino bunda, Nino juga akan selalu beri kabar sama ayah.. "


"pergilah, hati hati sayang" Rena mencium kening putra nya..


Nino pergi dengan mobil nya, berkumpul di rumah pelatihan dan mempersiapkan semua nya, mereka akan terbang menggunakan pesawat ayah nya...


"kenapa serasa melepas anak mau perang gini sih yah... " Rena menyeka air mata nya


"tidak akan terjadi apa pun, mereka akan baik baik saja" Rey mengusap lengan istri nya, menenangkan nya,


"aku kira ke jadian kita dulu ga akan terulang sama anak-anak, bunda takut mereka terluka "


Rey memeluk istri nya,


betul, itu pengalaman menakutkan memang, ferdi meninggal, Rena keguguran, dan Rey mendapat tembakan di lengan nya,


Rey mempererat pelukan nya


"tidak akan terjadi apa apa, percaya lah.. kita hanya bisa mendoakan mereka.."


Rena mengangguk,


***

__ADS_1


"tuan silahkan... "


Edo menuntun Nino ke sebuah ruangan, ia menyalakan lampu, Nino terkejut melihat isi nya.. selama ia ke tempat pelatihan, Nino tak pernah tau ruangan ini..


"apa ini om"


"bekal kita" Edo meraih rompi anti peluru, ia memasangkan nya pada tuan muda nya ini


"apa semenyeramkan ini?? " tanya Nino.


jelas ia belum pernah terlibat dengan kegiatan seperti ini, Nino hanya mengikuti taekwondo, dan itu pun asal asalan di sini.


"nanti akan ter tutup jaket, jadi ga keliatan" kata Edo, lalu Edo membuka kotak seperti peti, Nino merinding melihat isi nya.


"om aku ga bisa pake itu"


"ini milik ayah Rey, ia menitipkan ini untuk tuan.


maaf tuan, pebisnis tidak pernah kosong, saya tau tuan Al juga punya ini di Singapore"


Nino menurut saja,


mereka sudah siap, frans melepas mereka untuk terbang, memberikan informasi ter update pada Rey, ia sendiri tidak ikut, karna tanggung jawab nya di sini pada Rey.


***


"tokk tokk tokk.


nona, saya membawakan makan atas perintah tuan Hans"


"ceklek... July membuka pintu


" aku ga lapar"


"mohon maaf nona ini perintah tuan.. " pelayan itu menunduk takut,, July terpikirkan sesuatu..


"masuk lah"


"baik"..


pelayan itu menyiapkan bawaan nya di meja,


" siapa nama mu? " tanya July


"Maria nona"


"kamu sudah lama di sini?? "


"bulan ini bulan ke 3, rumah ini baru"


"kamu senang di sini? bagaimana Hans, dia pasti kasar kan?? "


"mohon maaf nona, saya tidak bisa menjawab pertanyaan bersifat pribadi, di kamar ini di pasang CCTV" Maria berbicara setengah berbisik, tubuh July langsung membeku, jadi umpatan dia dari tadi Hans tau??? ah terserah, memang itu kenyataan nya

__ADS_1


"apa di ruang ganti pun ada CCTV?? di kamar mandi?? gimana aku mandi kalo gitu?? "


"untuk di ruang ganti dan di kamar mandi tidak ada nona..


maaf nona saya permisi, jika ada keperluan tolong segera telpon ke dapur"


July mengangguk, mata nya memeriksa segala sudut ruangan "dimana CCTV itu?? "


telpon di samping tempat tidur nya tiba tiba berdering, July tentu terkejut dengan itu..


"siapa yang telpon?? β€œ ucap July pada diri nya sendiri, July mengangkat nya


" makanlah sayang, aku belum melihat kamu makan, tenang saja, tidak ada racun di dalam nya"


July langsung merinding,


benar,, pelayan itu benar, ia di awasi melalui CCTV


"aku ga akan makan apa pun, dengan itu aku akan sakit, dan semoga aku bisa mati secepat nya"


jawab July sinis.


"jangan begitu, nanti aku sedih"


"terserah... " July menutup telpon nya, Hans tersenyum di tempat nya,


tuttt... tuttt


telpon nya berbunyi lagi, July sangat malas ia tidur di kasur nya.. tapi telpon itu terus berdering,


"Hans berengsek" July berteriak.. Hans tertawa melihat July berteriak melalui layar laptop nya,


July menyerah, ia mengangkat lagi telpon nya


"aku ingin memberitahu mu, pelayan tadi yang mengantarkan makanan sudah aku pecat"


"kenapa? β€œ July terkejut


" ada peraturan di rumah ini sayang, kamu tidak boleh bertanya apa pun pada pelayan, dan mereka pun tidak boleh menjawab apa pun jika kamu bertanya,


jadi, kalau kamu mencari tahu lagi tentang aku dan rumah ini, para pelayan itu akan kena imbas nya, aku memecat nya tanpa gaji dan mereka harus membayar denda kelalaiannya,


"Hans aku bursumpah, setiap hela'an nafasku aku mengutuk mu, semoga kamu celaka dan mati mengenaskan, tubuh mu di makan hewan buas, aku akan bahagia dengan itu, aku akan merayakan nya"


"hahahaahaaa" Hans malah tertawa.. ia menutup telpon nya..


"sialan.. " July mengumpat,


bagaimana ia bisa kabur kalau begini,


_ Nino, apa kamu tau aku di culik? apa kamu peduli jika tau?? salahkah jika aku berharap kamu datang menyelamatkan ku dari orang gila itu _


July duduk di sofa, memandang keluar jendela dengan memeluk kaki nya,

__ADS_1


"ya Tuhan aku mau pulang, rakha.. maafkan kakak"


__ADS_2