
July menghampiri Edward yang baru masuk ke apartemen nya,
"hey HP kamu ga aktif ed" ucap July cemas
Edward nyengir,
"lobet kak, aku lapar kak, punya makanan apa? “
Edward hendak pergi ke dapur, tubuh nya menegang seketika saat July menarik lengan nya,
" Nino belum menghubungi ku, apa dia sudah sampai di rumah? “
"sudah kak... " Edward sedikit gugup ia ingin mengalihkan perhatian July untuk mencari bom kecil yang Frans perintahkan..
"ed liat kakak, kamu menyembunyikan sesuatu?? “
July menatap nya lekat, mereka saling kenal bukan 1-2 tahun, July sudah hafal adik adik nya,
"kak, dokter Nino sudah sampai di rumah nya, aku mengikuti nya sesuai perintah kakak"
Edward membalas tatapan July,
"aku lapar kak" matanya memelas..
July mengalah,
"baiklah, kakak bikin nasi goreng ya? "
"asikkk, aku tunggu sambil nonton ya... "
July mengangguk,
ia pergi juga ke dapur
_ aku tau ada sesuatu ed' kamu ga biasa nya datang dengan kelaparan seperti ini, kamu sering makan di luar... _
Edo menatap HP Nino,
July beberapa x menelpon nya, ia melirik Frans, "jangan di angkat, matikan saja HP nya" ucap Frans
Rey di ruang kerja nya menunggu laporan, ia sudah tau tentang ini,
"ayah... " Rena datang
"iya sayang... "
"masih sibuk?? " Rena mendekat,
"ada masalah, aku sedang menunggu kabar dari Frans... "
Rena tidak curiga, memang sering sekali ada masalah di kantor,
"baiklah, aku ngantuk, aku tidur duluan ya.. "
Rey memeluk istri nya,
"tidurlah... kalo ada kabar dari Frans aku akan ke kamar menyusul"
"oke.. " setelah mencium pipi suami nya Rena, pergi, Rey sudah fokus lagi ke HP nya, padahal Rena memperhatikan nya di pintu.
"ayah... "
Rey terkejut, ia pikir Rena sudah keluar..
"iya sayang... "
"Nino belum pulang, jangan di biasakan pulang malam dari rumah July itu ga baik, bunda telpon HP nya ga aktif"
Rey menarik nafas nya, ia mencari alasan,
"terakhir Nino WA, katanya ada Al juga di apartemen, mungkin mereka masih ngobrol"
Rena mengangguk,
"baiklah, tapi suruh pulang kalo sudah jam 10"
__ADS_1
"iya sayang, sebentar aku telpon Al" Rey menghampiri istri nya, ia mengantar Rena untuk sampai di kamar..
"berpencar"
Frans berbicara lewat interkom ia membawa 10orang team terbaik nya,
sebuah rumah terlihat bersih dan asri menjadi titik sinyal dari no HP yang menghubungi Nino terakhir kali, dan no itu masih aktif,
satu buah mobil terparkir di depan rumah itu,
"tahan, tunggu sampai ada pergerakan dari mereka" ucap Frans lagi, 4orang sudah siap dengan senjata mereka berpusat ke rumah tersebut,
Frans terus mengawasi layar, benar pusat sinyal di rumah ini, tapi kenapa tampak sepi??
mereka menunggu
"Frans tidak ada yang mencurigakan. apa mungkin rumah ini kosong?? “ tanya Edo
" Edo masuk lah dengan team mu kita harus secepat nya memastikan ini"
"baik.. "
Edo dengan 5 anak buah nya maju, membagi mereka untuk mengepung rumah..
"bersih"
ruang tamu tampak sepi, dan pintu utama tidak terkunci..
"Frans, ini pengalihan, rumah ini kosong... "
"siallll" Frans memukul kemudi, mereka mengelabui team nya.
Frans turun dari mobil ia ingin memastikan semua nya,
sebuah hp tergeletak di atas meja makan, Frans mencoba menghubungi no yang menghubungi Nino, feeling nya benar.. HP di meja makan itu berdering, ini jelas pengalihan, mereka cerdik juga...
Edward, membaca situasi,
ia menghampiri meja putih yang ada di foto yang Frans kirimkan... ia menemukan nya, dan benar, bom itu di sana,
"ed... " Al memanggilnya
Edward terkejut,
"sedang apa?? "
Edward memberi kode pada papah nya untuk tidak berisik, ia menarik tangan papah nya pelan.
"pah jangan berisik.. itu lihat.. " Edward menunjukan benda kecil berwarna hitam itu pada Al, lampu nya berkedip menandakan benda itu aktif, Al membelalakan mata nya
"punya siapa itu.. " Al berbisik, Edward menggeleng,
"duduk lah pah, kita berbicara lewat WA saja, biar kak July tidak curiga"
dalam ketegangan, dan hati yang panik, mereka duduk, mencoba tenang demi July, July datang membawa nasi goreng untuk Edward,
"makanlah, aku khawatir kamu akan pingsan... " July mengejek nya,
Edward tersenyum,
"makasih kak"
"pah. July ke kamar ya.. "
"baiklah sayang.. selamat tidur"
July mengangguk, ia tersenyum walau hati nya gelisah..
Edward langsung mencondongkan tubuh nya agar mendekat pada Al, Al pun begitu,
"pah, dokter Nino di bawa pergi oleh beberapa pria bertubuh seram" Edward menceritakan awal mulai kejadian saat Nino pulang dari apartemen.
"lalu bagaimana? “ Al sangat cemas,
" om Frans sama yang lain nya menyusul"
__ADS_1
Al bangkit dari duduk nya, ia akan menelpon Rey untuk itu..
Edward memberi pesan pada Rio yang masih berjaga di bawah,, membicarakan bagaimana mengamankan benda mungil ini..
ceklek...
July keluar dari kamar nya,
"lho, kakak belom tidur? “ tanya Edward
" kamu katanya lapar. kok belum di makan nasi goreng nya?? "
"nunggu aga dingin kak"
"bukan aga dingin lagi, itu sudah dingin... " July menggerutu, ia meraih HP nya yang berada di atas lemari
"HP ku ketinggalan... " ucap July, ia berlalu pergi ke kamar lagi.
_ kamu ga bisa bodohin aku ed, aku tau ada yang tidak beres kan, semoga rekaman ini bisa menjawab rasa penasaran ku _
setelah memberikan nasi goreng pada Edward, July sengaja menyimpan HP nya di atas nakas dekat mereka.. membuat rekaman percakapan Edward dan Al, July terlanjur gelisah, ia punya feeling Edward dan Al akan mengobrol..
ia menakai Handset, matanya memanas seketika, mendengar percakapan Edward dan Al,
" aku tau terjadi sesuatu Nino ga ada yang bisa bohong sama aku.. " July menggenggam HP nya, dada nya begitu nyeri.
Nino pasrah saja, melawan pun ia takan mungkin menang, tangan nya di ikat ke belakang bangku yang ia duduki,
para lelaki yang membawa nya berjaga, mengitari Nino..
Nino tersenyum,
"kalian menjaga ku begitu ketat, apa kalian pikir aku bisa melawan kalian?? serius sekali"..
lelaki yang seperti nya seorang pimpinan dari mereka memperhatikan Nino,.
" jangan banyak bicara dokter, itu mungkin akan memperpendek umur mu"
Nino tersenyum kecut, ia merasakan sakit di bibir nya karna terluka, badan nya serasa remuk,
setelah hening beberapa menit, suara ketukan sepatu mulai terdengar, seseorang datang..
wanita yang cukup tinggi badan nya dengan rambut pendek se bahu tersenyum pada Nino,
mungkin wanita ini yang menelpon Nino tadi, ia mendekat,
"hay dokter, senang bertemu dengan mu... "
Nino melayangkan tatapan tidak suka, wanita itu tertawa melihat ekspresi Nino,
"kamu terluka dokter, apa anak anak ku yang melukai mu? “
" aku tidak suka basa basi, apa tujuan mu membawaku ke mari" tanya Nino,
"ayo lah, jangan terburu buru, kita bisa main dulu, kamu akan menikah kan?? bagaimana kalo sebelum kamu menikah, kita merayakan nya berdua dokter"
wanita itu mendekat, ia dengan tidak sopan duduk di pangkuan Nino, mengusap pipi Nino yang mulai terlihat lebam,
"kamu benar benar tampan, sayang sekali jika lelaki seperti mu hanya memiliki satu wanita, July terlalu beruntung mendapatkan kamu... "
lelaki yang berjaga di sana semua tanpa di pinta keluar satu persatu... wanita genit itu tersenyum puas, jarak wajah mereka begitu dekat, saling berhadapan, matanya terlihat memindai satu persatu indra yang ada di wajah Nino,
"hanya kita berdua dokter, dan malam masih sangat panjang" tangan nya mengusap tengkuk Nino
"jangan sentuh aku, atau kamu akan menyesalinya" bisik Nino pada wanita itu..
"kamu yang akan menyesal dokter, karna tidak memanfaatkan waktu muda mu untuk bersenang senang dengan ku, aku bersedia menjadi simpanan mu"
Nino tak tahan.. walaupun ia lemah lembut pada wanita.. ingin rasa nya ia menjambak wanita ini sampai menjerit kesakitan,
"pergi... " ucap Nino pelan,
wanita itu menggeleng, ia menggigit bibir bawah nya, matanya memperhatikan bibir Nino, terlihat sangat nakal Nino tidak suka itu
"aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup" ucap Nino lagi..
__ADS_1
"owhhhh dokter, aku jadi sedikit takut sekarang"