
Nino baru saja selesai mandi dan berpakaian ketika sang bunda mengetuk pintu kamar nya,
tokk tokk tokk,
" kak, lagi apa? "
ceklek Nino membuka pintu sambil tersenyum,
handuk masih di lehernya menggantung dengan indah, rambut nya acak acakan...
"apa bunda ganggu? "
Rena dengan lucu celingak celinguk melihat keadaan kamar Nino yang rapih.
"hehee engga bun, ayo masuk"
"handuk nya kak simpan di rak"
"iya bunda belom, kakak masih keringin rambut"
Rena menyimpan cemilan yang ia bawa di atas meja kerja rakha
"bunda bikin kue sama shanum, ayo di coba "
"ini salah satu yang Nino kangen di sana, masakan dan kue buatan bunda"
Rena jelas senang,
"ayo di makan, masih anget"
tanpa basa basi Nino menyendok kue coklat itu,
"enak?? " tanya Rena penasaran
"bunda pasti tau jawaban nya" Nino tersenyum pada bunda nya
"kan bunda mau di puji langsung kak"
"idih... " kata Nino.
"bikin orang senang pahala nya besar lho, bunda udah bikinin kakak kue, ayo dong puji bunda"
Nino tertawa,
hahaa, ia bangkit dan mencium pipi bunda nya
" terimakasih bunda kue nya,
mmuachh, apa pun yang bunda masak akan selalu enak, walaupun itu sendal jepit di kecapin hahaaa"
"ich... dasar.. " Rena memukul lengan putra nya, Nino pergi menyimpan handuk nya di rak, lalu ia kembali
"betul bunda masakan dan kue buatan bunda paling enak.. mana pernah Nino beli kue di luar kan?? karna Nino udh punya chef di rumah"
Rena merona pipi nya, padahal pujian itu sering ia dengar dari semua keluarga nya.. tapi jika saat di ucapkan ia sangat senang sekali.
"terimakasih pujian nya pelanggan" jawab Rena
"pelanggan gratisan" kata Nino lagi
Nino melanjutkan makan kue nya, Rena memperhatikan nya,
"sayang, bunda mau tanya boleh? "
"apa bun??"
"emh, kakak belum terlihat punya teman dekat wanita bunda perhatikan"
Nino masih melanjutkan makan nya,
"apa kakak punya, tapi belum di kenalin sama bunda? cewek di London pasti cantik cantik kan? “
__ADS_1
Nino menyudahi makan nya, ia meminum air putih yang bunda nya bawa.
Nino menyatukan kedua jari tangan nya, dan menyimpan nya di meja, pembicaraan ini seperti nya akan serius..
" bunda... " kata Nino
"hmmmmm?? "
"Nino suka cewek lokal"
Rena melotot seketika namun ia tertawa,
"ich udah serius aja bunda dengerin nya"
"hahaa, iya beneran bun Nino ga tertarik sama cewek di sana"
Nino tersenyum menatap kue, ia memainkan sendok nya.
"jadi apa ada gadis di sini yang dekat sama kakak? "
"emang kenapa bun? “
" ya ga apa apa sih, cuma bunda pengen tau aja"
Nino terdiam, apa ia harus cerita perihal Amira, ia tau bunda nya sangat bisa di percaya, tidak seperti shanum yang polos suka keceplosan.
"bunda, Nino ga tau harus gimana, apa bunda punya solusi? "
"tentang apa kak? "
"dari waktu SMA Nino dekat dengan wanita, tapi kita ga pacaran, setelah lulus, kita kuliah terpisah, dia punya cita cita mau jadi guru bun"
Rena mengangguk, ia menunggu kisah selanjutnya nya
"seperti bunda tau, Nino langsung pergi ke London, setiap tahun pulang dan sempetin ketemu dia, tapi saat di tahun ke 4 Nino pulang, dia udh di jodohkan dan mau menikah di bulan yang sama"
"terus?? " tanya Rena ia curiga ada sesuatu terjadi
"gadis itu sudah menikah?? "
Nino mengangguk
"dua tahun lalu, waktu Nino balik lagi ke London, lusa dia menikah"
"sayanggg" bunda nya menggenggam tangan Nino
"jadi itu yang bikin kakak ga pulang 2tahun ini?? kakak patah hati?? “ tambah Rena
Nino tersenyum,
" saat itu iya, tapi yaaa seiring berjalan nya waktu Nino ikhlas"
Rena mengangguk
"tapi bun"
"tadi Nino ketemu dia di RS"
"lalu?? “
" dia jadi salah satu pasien nya Farhan temen Nino, dia nampak kurus bun, terus ada luka di ujung bibir nya"
"Nino penasaran kan? Nino tanya sama Farhan, kata Farhan saat akan di tensi, lengan nya juga ada memar"
"apa ada yang menyakiti nya?? " Rena menebak
"Nino juga berpikir begitu bun, dan kebetulan, Waktu arah pulang, Nino liat dia di pinggir jalan, sama suami nya, tapi mereka mungkin lagi ada masalah, suami nya sedikit kasar,
menurut bunda Nino harus gmn?? “
" gimana apa nya sayang? “ Rena bertanya serius
__ADS_1
" Nino...... masih sayang bun sama Amira "
"tapi kak dia udah nikah" kata Rena
"itu masalah nya bun"
mereka terdiam, ia jadi ingat dulu, untung ia dan ferdi tidak jadi menikah.. kalo sudah, bagaimana Rey datang dalam posisi Nino
"kenapa waktu kamu pulang ga iket dia kak, kalian kan bisa tunangan dulu buat yakinin keluarga nya kalo kamu serius"
Nino nenoleh pada bunda nya, iya juga, kenapa dia tidak berpikir begitu??
"Nino ga kepikir ke situh bun"
"sayang, gimana pun kondisi Amira saat ini, itu bukan hak kamu, dia sudah menikah, dan suami nya lebih berhak atas dirinya, kalo kamu melakukan sesuatu untuk Amira atas rasa sayang itu salah besar kak"
"tapi Nino liat matanya seolah ingin mengatakan sesuatu bun, Nino kenal dia"
"kak, tapi itu salah, akan jadi fitnah nanti nya jika kakak bantu, bagaimana kalo suami nya nanti sangka kalian ada main di belakang, itu akan jadi runyam, Amira akan menanggung akibat nya nanti,.
bunda yakin bukan kamu aja sayang yang bisa tolong Amira, Amira punya keluarga mereka lebih berhak ngurusin semua nya"
Nino terdiam, semua yang bunda nya bilang benar. tapi hati kecil nya menginginkan membantu Amira, ia tidak tega melihat Amira seperti kesakitan, dan matanya memohon begitu
Nino mengangguk,
"Nino ngerti bun" ucap nya sambil mengusap wajah dengan tangan nya, Rena mengusap usap punggung putra nya.
"yakinlah, semua orang memiliki masalah hidup nya masing masing, kita boleh peduli, tapi kita pun harus tau batasan masalah nya, kakak bagus punya pikiran mau nolong Amira, tapi kita harus lihat posisi nya, ia sudah menikah, dan sudah biasa dalam pernikahan ada masalah, mungkin itu hanya sementara, kita Do'akan saja agar dia bahagia dan masalah nya cepat selesai"
Nino tersenyum pada bunda nya, ia sedikit nya lega telah mengungkapkan ini pada orang yang tepat.
Rena memeluk nya
"cerita sama bunda kalo ada apa apa, jangan di pendam sendiri oke"
"iya bun, Nino cuma ga tega ngeliat cewek nangis, Nino pengen kaya ayah yang ga pernah buat bunda nangis, Nino selalu ingat kata kata ayah, " boleh nangis, asal tangis bahagia"
Rena terharu, sifat Rey sangat melekat pada Nino kini, "bunda percaya, siapapun nanti wanita yang akan jadi pendamping hidup pak dokter, ia akan bahagia seperti bunda mendapatkan ayah"
saking seru nya, mereka tidak menyadari kehadiran Rey di pintu, Rey sengaja tidak masuk, agar Nino dengan leluasa bercerita pada bunda nya, awal nya Rey akan kembali saja ke kamar, namun topik yang di bahas seperti nya menarik Rey jadi kebablasan mendengar semua..
dia akan berpura pura baru datang saja
"ehmm.. bunda.. " Rey memanggil Rena
"bunda di sini yah"
Rey membuka pintu kamar Nino pelan melihat anak dan ibu itu sedang berpelukan
"hey suka ga tau waktu deh kalo ngobrol, ayah sendirian di kamar" ucap Rey pura pura cemberut.
Rena dan Nino tertawa,
"jika sudah selesai bergosip nya, saya akan mengambil istri saya pak dokter"
Nino terdiam mendengar kata kata ayah nya, mungkin nanti begitu, suami Amira akan meminta nya untuk pulang,
"ich, bunda kan ngobrol sama kakak bukan sama tetangga, ampe di jemput segala"
"ayo lah aku kesepian di kamar"
Rena mengalah ia berdiri,
"nanti kita terusin lagi ngobrol nya ya,
ayah ganggu aja deh... " Rena terus menggerutu, namun ia memeluk suami nya, Rey mencium kening nya, dan mereka pamit dadah dadah pada Nino..
Nino hanya bisa menggigit jari,
dia janji akan seperti ayah nya jika nanti menemukan wanita yang tepat untuk hidup nya.
__ADS_1