
Dokter tidak bisa melakukan apa pun, semua penanganan telah ia lakukan, namun kondisi July masih belum membaik,
Nino lari menuju ruangan July, ini sudah jam 2 malam, rumah sakit begitu lenggang tapi tidak di ruangan July, semua nampak sibuk..
Rey merasa lega melihat Nino datang,
ia membuka pintu ruangan July untuk Nino masuki,
"dokter bagaimana? " tanya Nino
"maaf dokter Nino, nona masih lemah "
Nino duduk, menarik kursi untuk bisa dekat dengan July, ia menggenggam tangan July, menciumi nya,
"aku pulang sayang, kembali lah... "
dokter undur diri,
memberikan ruang untuk Nino, ia berbicara dengan Rey dan Al di luar,
""
July merasa asing, tempat ini sangat baru untuk nya ia melangkah maju, menginjak dedaunan yang gugur, pohon pohon begitu besar sekelilingnya, July terus mencari arah agar ia menemukan jalan untuk pertolongan..
"July sayang... "
suara itu begitu July kenal, namun dimana asal suara itu July tidak tau.. July mempercepat langkah nya, mencari suara Sang mamah yang memanggil nya
"mah... " July berteriak
"mamah.... " ia terus memanggil mamah nya, ia rindu ingin bertemu,
July menangis, karna ia tidak berhasil menemukan mamah nya di sana..
"mamah, July takut.. di mana ini?? “
" sayang... " suara itu begitu dekat, July menoleh cepat ke belakang, mamah nya di sana tersenyum,
"mamah" July berlari mendekat, namun entah mengapa ia tidak sampai pada mamah nya padahal mamah ada di belakang nya July kelelahan,
"July sayang, pulang lah, semua menunggu mu, belum saat nya kamu datang ke tempat ini"
July merasa bingung, apa maksud ucapan mamah nya? "pulang lah sayang"
July belum faham, namun bayangan mamah nya memudar, ia menggelengkan kepala nya cepat,
"mamah jangan pergi pleaseee,
mamah..... " July menangis kencang, ia bahkan belum memeluk mamah nya tapi kenapa mamah nya malah pergi?
bayangan Sang mamah berganti dengan cahaya yang menyilaukan, July sampai tidak kuat menatap nya, ia memalingkan wajah, tangan nya menutupi mata,
**
__ADS_1
Nino tertidur, tangan nya masih menggenggam tangan July, hari beranjak pagi,
ia mengangkat kepala nya yang terasa berat,
dokter Fera tersenyum,
"maaf aku ketiduran" ucap Nino
"alhamdulillah kondisi nona stabil dokter, siang nanti kita akan melepas beberapa alat bantu, nona akan di pindahkan ke ruang perawatan"
Nino menatap wajah pucat Sang istri, ia mengelus pipi nya lembut..
"kamu hebat sayang, kamu pasti bisa" Nino menghadiahi nya dengan kecupan di kening,
"dokter istirahat lah, anda juga belum makan kata nyonya Rena, nyonya menunggu di luar, dokter Nino ga boleh sakit juga"
Nino mengangguk, hati nya sedikit tenang mendengar kabar baik tentang istri nya.
ia menurut, melihat bunda nya di luar sana melambaikan tangan pada nya, Nino tersenyum.
"sayang... " Rena memeluk nya ia menangis lagi.
"bunda bawa sarapan, sama baju buat kamu ganti", kamu sarapan dulu ya? "
"iya bunda.. "
Rena membuka kotak makan untuk Nino,
Nino menerima nya, dan mulai memakan nya,
"July akan di pindahkan ruangan nya bun nanti siang, kondisi nya membaik" ucap Nino di sela makan nya..
"MasyaAllah alhamdulillah, bunda senang sekali mendengar nya, terimakasih ya Allah"
"Nino hampir kehilangan nya semalam, July drop lagi"
"bunda baru di beri tau ayah mu tadi saat mau berangkat tentang se malam.. makanya bunda langsung ke sini"
Nino menyelesaikan sarapan nya,
Rena membereskan semua, memberikan minum pada Nino,
"dia wanita yang sangat kuat, peluru itu merusak tulang belakang dan menggores jantung nya, Ana juga sempat sadar saat perjalanan ke RS ia sempat menagih janji Nino untuk membawa nya ke pantai"
Rena tidak bisa berkata apa apa, ia hanya menangis,
"bunda sayang sama ana seperti anak bunda sendiri, bunda merasa sakit melihat ia terluka begitu, bunda lihat betul saat kejadian itu, Ana tampak aneh, dia pergi begitu saja meninggalkan bunda dengan tamu undangan, padahal dia sudah tau kamu terancam?? “
Nino tersenyum pada bunda nya.. ia meraih tangan Rena,
" seperti nya dia tau bun, makanya Ana melakukan itu, makasih banyak bun, bunda udah menyayangi nya sebelum aku"
Rena mengangguk, ia menghapus air mata nya, menguatkan diri dan berpikir positif bahwa Ana pasti baik baik saja.
__ADS_1
hari menjelang sore, banyak kerabat dan rekan bisnis dari Rey dan Nino datang berkunjung, July telah di lepas kan dari alat yang membelenggu nya, dokter menunggu beberapa waktu, syukur lah July masih stabil kondisi nya, Nino sendiri yang mendorong ranjang tempat July berbaring, ia dan Al dengan sangat hati hati memindahkan nya, berpindah ranjang, wajah nya sudah tidak se pucat tadi, jantung nya sudah kembali memompa darah dengan teratur,
"bunda pulang lah, Nino akan menjaga Ana kondisi nya sudah semakin membaik" Nino kasihan pada bunda nya, wajah nya lelah, Nino bisa melihat itu,..
"bunda ga tenang kalo Ana belum siuman kak"
"Do'akan yang terbaik bun, bunda harus istirahat, jangan sampe sakit... kalo ada kabar apa pun akan Nino beri tau segera"
Rena membuang nafas nya, Rey tinggal menunggu keputusan Rena untuk pulang.
Rena akhirnya mengangguk,
ia memberikan paperbag berisi keperluan Nino, ia memeluk lagi putra nya,
"kamu juga istirahat lah, tidur dulu sebentar saja"
"siap bun, sambil nunggu Ana, Nino pasti tidur "
"kasih kabar kalo ada sesuatu ya? “ Rey juga memeluk Nino, mereka berpamitan,
Nino melihat orang tua nya menjauh, bergandengan tangan..
" aku akan seperti ayah yang selalu siaga untuk bunda, Nino saksi atas kehidupan kalian.. kalian jadi panutan untuk rumah tangga Nino dan Ana nanti nya" Nino tersenyum. ia kembali ke ruangan, mereka kini hanya berdua, Al sementara kembali ke apartemen, ia juga harus ganti pakaian dan mandi tentu nya...
Hari beranjak malam, Nino tidak bosan menghabiskan waktu walau hanya menatap istri nya ia terus saja mengajak July berbicara..
yang ia tau, seseorang yang sedang dalam kondisi July tetap bisa mendengar, hanya saja mata nya tidak terbuka..
Nino shalat isya di dalam..
ia melanjutkan membaca alquran di sebelah July satu tangan nya menggenggam tangan July,
"Nino"...
Nino menoleh pada istri nya, entah halusinasi atau bagaimana ia mendengar July memanggilnya...
Nino menyudahi membaca nya,
ia berbaring di sebelah July,
" Jullyana,
saya Terima nikah nya, Jullyana binti Alif Ramadhan, dengan maskawin tersebut di bayar tunai" Nino membisikan lagi ijab-kabul nya di telinga July,
kata kata yang membuat dia gugup, kata kata yang akan ia ucapkan hanya untuk July, Nino menggenggam tangan July, melingkar kan nya di perut July, Nino memeluk nya, wajah nya ia tempelkan ke pundak istri nya,
"aku tidur dulu ya.. bangunin aku jam 5, aku ada praktek pagi" Nino terus saja berbicara pada July, walaupun ia tau July tak merespon,, biarlah mungkin orang lain Menganggap nya sudah gila..
Nino mencium kening dan pipi July,
"selamat malam sayang... ini malam kedua kita setelah kita sah menikah, aku rindu suara tawamu saat kemarin sore kita bersama, aku harap akan banyak malam malam yang lain untuk kita"
Nino benar benar tertidur, ia pasti lelah..
__ADS_1
waktu terus berputar, July menarik nafas nya sangat dalam.. ia bergerak, July sadar...