
"jangan bikin kakak penasaran kha"
Rakha melirik pintu kamar mandi, ia takut Nino keluar,
"dia sudah mati, suami kakak yang menghabisi nya" Rakha berbisik.
July jelas terkejut,
"jangan becanda kamu kha? itu ga mungkin, pegang senjata aja dia kaku"
"makanya liat video nya nanti"
July mengangguk,Nino keluar dari kamar mandi, Rakha menyuapi July dengan buah di tangan nya
"kak Nino ga ada larangan buat kak July kan makan buah buahan.. ? " tanya Rakha.
"ada kha" jawab Nino
"wah.. apa kak? Nino bawa buah banyak ini"
"larangan nya, jangan bawa buah yang kak July dan aku ga suka"
July tertawa.. suami nya ini ternyata bisa becanda juga..
"iya lah, mubazir kalo ga suka, ga akan di makan" Edward menjawab nya,
"ed coba aku minta tolong beliin kopi" ucap Nino
"apa ga bisa pesen aja dok? “ jawab Edward
" aku mau kamu yang beliin"
Edward lagi lagi pasrah, ia bangkit..
"oke lah.. dah kaya ngidam aja harus aku yg beli"
dengan langkah gontai ia keluar, mencari kopi untuk mereka ber 3,
" kamu seneng banget jailin Edward " ucap July
" kalo Edward adek kamu, berarti dia adek aku juga" ucap Nino asal,
"jadi adek kakak nih sekarang? " dari awal Nino sangat keki pada Edward, July tau sampai kini pun masih, hanya saat kejadian Nino di bawa preman itu kebetulan Edward sedang mengikuti nya, jadi Nino merasa Edward berjasa...
hari beranjak sore,
July baru membuka pesan yang masuk ke HP nya,
salah satu orang kepercayaan Edward merekam kejadian di hotel saat Edward dan Nino meng eksekusi Hans,
mata July memanas, bukan karena Hans, tapi melihat bagaimana Nino memukuli nya tanpa ampun, July pun mendengar saat Edo bilang, ayah Rey meminta Nino kembali ke RS karena ia kritis,
"Rakha, hapus semua foto maupun video, kakak ga mau liat itu lagi, semua nya hilangkan saja" July mengirimi pesan pada Rakha..
Nino keluar dari kamar mandi, ia tampak segar,
harum semerbak parfum nya membuat July menoleh,
"serius amat" ucap Nino,
July memandang suami nya.
_ apa di video itu benar kamu Nino? kamu se emosi itu? aku belum pernah melihat nya, tapi sama aku kamu lemah lembut sekali _
"hey, ko ngelamun? “
July tersadar, ia memberikan tangan nya untuk Nino pegang..
" sayang aku udh wudhu" wajah Nino terlihat menyesal
"ah iya, ayo solat dulu sana.. "
Nino tersenyum, ia menggelar sejadah di samping ranjang July,
July menunggu nya hingga selesai,
"apa perlu sesuatu? “
"aku suntuk, ayo kita keluar"
Nino memeriksa waktu, hampir jam 4sore,
__ADS_1
"aku bawa kursi roda dulu ya.. "
"Nino kaki aku ga sakit, tangan aku juga ga apa apa" July sedikit kesal, hanya punggung nya saja yang terasa sakit jika di gerakkan
Nino mendekat,
"nyonya, kalo kamu jalan otot kaki, pinggang dan punggung kamu akan bergerak, jadi kalo pakai kursi roda, mau sedikit jauh pun kamu pergi itu ga akan masalah"
"aku cuma ngerasa ga berguna aja, badan aku sehat ko"
"kenapa mikir begitu?
sehat kalo di lihat dari luar, di dalam masih rentan luka nya,
besok kita jadwal rontgen ya??,
nurut sama aku, biar kamu cepet sembuh, dan bisa pulang secepat nya"
July mengangguk,
Nino duduk memeluk pinggang nya, ia menelpon seseorang
"Sus maaf, saya butuh kursi roda"
"ya ibu mau keluar"
"terimakasih ya.. "
"ibu siapa? “ tanya July
"ibu jullyana, istri bapak Nino Bagaskara"
July tersipu mendengar itu,
"setelah menikah, banyak gelar yang tersemat di Pudak mu sayang,
istri,
menantu,
kakak ipar,
tante,
apa lagi ya?? " Nino terlihat berpikir
"betul sekali Nino,
lalu aku harus memanggilmu apa? seperti nya menyebut nama kurang bagus ya? “
" emh... " Nino berpikir lagi,
"mas aja deh.. " ucap nya, "terdengar romantis gitu" kata Nino lagi
"ayah Malaysia, ibu bandung, anak nya di panggil mas??? “ July protes..
" ya masa di panggil atok" kata Nino manyun,
"di RS semua panggil aku bapak, ga ada yang pernah manggil aku MAS, jadi kamu aja yang manggil aku mas ya? “
July menahan tawa..
"kalo papah? gimana? “ tanya July,
July memainkan kerah baju Nino
" panggilan itu buat anak kita nanti, kalo kamu harus punya panggilan istimewa buat suami mu"
"mas Nino" ucap July
Nino tersenyum,
"coba lagi" pinta Nino..
"mass mass.. " ucap July
"ga gitu juga, itu kaya manggil kang baso" Nino gemas pada istri nya itu, kalau July sehat, mungkin Nino akan uwel uwel wajah istri nya
"oke oke... ehmmm.." July mempersiapkan diri nya, Nino menunggu
"mas Nino.. " July mencoba lembut mengatakan nya, walau dia menahan tawa sekuat tenaga...
__ADS_1
"lagi.. " pinta Nino, wajah mereka berhadapan sangat dekat
"masss"
Nino merasa senang dengan panggilan baru nya dari sang istri,
Nino memberikan kecupan di bibir July, menahan nya untuk beberapa saat,
seorang perawat datang membawa kursi roda, kebetulan pintu ruangan July terbuka sedikit, perawat itu melihat adegan itu, ia mundur teratur, wajah nya langsung merona..
" ya Allah mimpi apa aku semalam, mereka memang cocok, aku iri sama mereka huuhuuuu"
ia memilih menunggu, walaupun entah sampai kapan, Nino melihat bayangan seseorang di pintu, dengan berat hati melepaskan Sang istri, Nino tersenyum. mengusap bibir July dengan jari nya,
"cepet sehat sayang"
July tersenyum lagi, ia mengangguk, Nino langsung bangkit, ia menuju ke pintu.
benar saja perawat nya masih di sana.
"dok maaf, menunggu lama" perawat itu grogi, ia menundukkan pandangan nya
"ga apa apa Sus, makasih banyak ya"
"sama sama dok, saya permisi, kalo ada perlu panggil saya lagi"
"oke Sus"
Nino tersenyum melihat tingkah suster tadi, ia mendorong kursi roda nya, membantu July untuk berpindah tempat, Nino merapihkan pakaian July,
"mau kemana kita? " tanya Nino
"kemana saja, asal keluar" jawab July
"baik lah.. "
suasana di depan ruangan nya begitu hening, jelas sekali di lantai ini hanya ada 10kamar dengan fasilitas fantastik,
mereka melewati satu kamar, dari arah dalam terdengar suara bayi menangis, July melirik suami nya, "apa dia haus? " tanya July pada Nino
"dari tangisan nya sih seperti itu" jawab Nino
"kata nya yang lahiran istri nya artis" kata Nino lagi
"oya??, pasti mereka sangat senang"
Nino terdiam sejenak, ia seperti mendapat ide.
"sayang, apa kamu mau melihat anak bayi? “
" dimana? “ tanya July
"di ruangan bayi"
"apa boleh?? “
" hanya melalui kaca saja"
"ayo mas, "
Nino tersenyum, dengan senang hati. mengantarkan istri nya ke kamar bayi, mereka harus menggunakan lift untuk turun menuju lantai 2, para perawat dan petugas keamanan di sana merasa tidak enak, melihat pemilik nya keluyuran tanpa di batu Seseorang,
"pak apa perlu sesuatu? “ tanya seorang satpam menghampiri
" engga pak, tenang aja. kalo kita perlu sesuatu pasti bilang ko" Nino tersenyum, satpam itu menundukkan kepala nya, ia tidak berani menatap, bahkan melirik nyonya nya.
"bapak mau kemana? “ tanya nya lagi,
" ke lantai 2, ke ruang bayi" ucap Nino
satpam itu memencet tombol lift, mempersilahkan tuan dan nyonya nya untuk masuk,
"makasih ya pak" ucap July
" ah iya bu, hati hati bu pak" ucap nya salah tingkah di sapa July.
pintu lift tertutup, Sang satpam merasa lemas, ia takut khilaf melirik nyonya nya,
karna diam diam Nino memberi instruksi pada semua pegawai, terutama laki laki agar tidak melirik, apa lagi memandang istri nya itu.
#seposesifitumasnino😄
__ADS_1