
"apa yang buat kalian membully anak saya?" tanya Rey, Nita jelas merasa bertanggung jawab atas ke dua teman nya, ia sadar teman teman nya ahanya mengikuti apa yang ia lakukan, nita harus jujur, karna percuma saja berbohong, si om yang berdiri tegak di belakang tuan Rey yang bagai bayangan entah mengapa lebih seram dari pada hantu bagi nita
"karena shanum ga modis tuan"
Rey tersenyum sinis
"itu perintah saya dan bunda nya" jawab Rey tegas,
"memang ada peraturan di sekolah soal pakaian nya harus modis? bukan kah jelas itu sekolah bukan ajang fashion show?? lihat pakaian mu sangat kurang bahan, saya aneh pada pimpinan sekolah, ko bisa ada murid berpakaian seperti kalian"
semua nya terdiam, karna memang betul yang di katakan ayah shanum,
"siapa yang mendorong anak saya? "
yesi malu malu mengangkat tangan nya,
"maaf tuan" ucap nya, jelas sekali dengan bergetar
"kalian tau, bisa saja saya beli sekolah itu, dan mengganti peraturan sekolah dengan kemauan saya, termasuk berpakaian, bila perlu saya rubah sekolah itu jadi pesantren"
Rena melipat bibir nya
"shombong nya keluar suami gueh" πππ
shanum menunduk
"hayah... ayah apa apa an sih, udah cukup mereka tau kalo aku anak dari bapak reynan, ga usah lah bilang mau beli sekolahanπ, kalo nita dan teman teman pingsan di sini kan repot"
"saya akan serius menindak lanjut masalah ini, kalian tinggal menunggu keputusan dari. pihak. sekolah untuk sanksi,
saya tau bukan pada anak anak saya saja kalian begitu"
pasrah, hanya itu yang nita dan teman teman nya lakukan, belum lagi omelan orang tua nya di rumah...
Rey bangun dari duduk nya,
"saya tidak mau dengar masalah seperti ini di sekolah, menghindar lah kalian jika bertemu shanum dan Rifa, anggap saja kalian tidak saling kenal"
"ayah.... " shanum memanggil ayah nya,
"tidak boleh membantah" jawab Rey, shanum mengangguk,
"kalian tau, berapa rupiah perawatan shanum atas kejadian kemaren?
bagi tiga dan berikan surat kerugian pada keluarga nya Frans"
"baik tuan" Frans tersenyum senang, Rey berlalu begitu saja
"bunda, ayah becanda kan? " shanum menatap nanar bunda nya
Rena hanya bisa menggeleng,
"ada yang mau di tanyakan?? " tanya Frans pada mereka
tak ada yang bersuara untuk beberapa detik,
hingga Akmal menegakkan leher nya menatap Frans
"pak, apa mereka akan di keluarkan di sekolah? "
Nita langsung menatap akmal sambil menggelengkan kepala,
"tunggu keputusan dari sekolah" jawab Frans
__ADS_1
"baik Pak" jawab Akmal,
"ada lagi yang mau di tanyakan?? " tanya Frans
"ada pak"
"silahkan... " semua orang menatap Akmal, menunggu pertanyaan apa yang akan terlontar
"maaf Pak, bu (Akmal mengangguk pada rena)
shanum, apa baik baik saja??? "
Rena tersenyum penuh arti,
jari nya colek colek ke tangan Rifa, shanum malah melamun menatap Akmal mendapat pertanyaan seperti itu, entah apa yang ia pikir kan.
"nona mendapat luka sobekan di dahi nya, dan memar di lengan dalam kiri nya,
dan biaya kemarin di rumah sakit, akan segera datang, sesuai permintaan tuan kami"
shanum tersadar dari lamunan nya,
"emh... maaf bunda shanum ke belakang dulu"
ia bangkit, Rifa jelas mengikuti nya.
tinggal lah Rena dan Frans di sana,
"baiklah, kalian minum dulu ya, setelah ini ayo kita makan, bunda udah siapin makanan buat kalian, ini sudah waktu nya makan siang,
bunda tinggal dulu ke dapur ya"
begitu lemah lembut Rena bertutur,
Akmal merasa shanum sangat sama dengan bunda nya dalam berkata,
"ayo silahkan, nyonya menunggu di dalam" Frans mengajak para tamu ke ruang makan,
bi sari dan bi Nur terlihat menyiapkan piring, shanum pun membantu nya.
"ayo anak anak, kita makan ya" ucap Rena mempersilahkan semua untuk duduk
"apa lagi ini? jamuan makan yang sangat luar biasa, kenapa keluarga shanum melakukan ini? kita kan bersalah, tapi bunda nya shanum terlihat begitu baik" Nita bergelut dengan isi pikiran nya.
Rey dan Frans tidak ikut makan, mereka memilih makan di ruang kerja, Rey begitu sangat risih melihat anak anak itu,
acara makan berlangsung,
Nita tak berani mengangkat wajahnya karna malu, ia menyaksikan betapa Rena sangat lembut pada shanum, pada Rifa pun,, ia jelas sangat iri, hal itu tidak ia dapatkan di keluarga nya.
***
tokk tokk tokkk, "bunda" Rena menoleh shanum datang ke kamar nya, ia melirik jam, ternyata masih jam 8,
"sayang masuk "
shanum tersenyum, masuk ke kamar sang bunda
"ayah mana bun? β
" masih di ruang kerja"
Rena melebarkan tangan nya, shanum datang masuk dalam pelukan nya
__ADS_1
"ada apa hmm? ganggu aja bunda lagi nonton film sahruk khan terbaru"
"hehee,
bunda.... "
"hmmmm? β
" kenapa bunda baik sama nita, yesi, Lydia "
"baik gimana? " Rena terpaksa mematikan TV nya, sekarang lebih serius berbicara dengan sang putri.
"bunda malah bikin jamuan makan segala buat mereka"
Rena tersenyum, mengusap kepala putri nya yang menempel di dada, shanum selalu begitu jika sedang manja.
"sayang, mereka sering jailin kamu, apa kamu marah? β
" engga, cuma kesel aja"
"apa kamu membalas nya? β
" engga juga"
"kenapa? β tanya rena
" emhmmm" shanum terlihat berpikir,
"karena ga mau aja, aku ga bisa berbuat kaya gitu sama orang lain, lagian bunda kan sering bilang jangan di lawan kalo ada orang yang jahatin kita"
"betul sayang, karna apa?
ga seharus nya kejahatan di balas dengan kejahatan, kalo kita sama membalas nya, apa bedanya kita sama mereka?
malah kita harus baik sama mereka, biar mereka malu sendiri, dan berpikir kalo kita bukan lawan nya, dengan itu semoga si lawan mundur teratur tanpa kita pinta"
shanum mengangkat wajah nya,
melihat wajah bunda nya yang sedang tersenyum.
"mulai besok, bunda rasa hidup mu di sekolah akan sedikit berbeda, kamu tau ayah kan? dari dulu selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kita"
"akan ada apa besok? β tanya shanum penasaran.
" kamu rasain aja sendiri"
shanum melepaskan pelukan nya, membetulkan duduk nya menghadap pada Rena,
"kayanya aku tau bakal kaya apa bunβ
Rena tertawa,
" anak pintar"
"ich BT deh, shanum risih kalo harus di tungguin om Edo di sekolah, dia serem banget bunda"
"shan, dulu bunda juga begitu, sampai protes sama ayah kenapa harus ada yang temenin kalo kemana mana,
kamu tau? ada beberapa kejadian dulu yang mengancam kehidupan kita di mana pun, ayah pebisnis yang cukup sukses,
banyak orang yang ga suka dengan itu sayang"
"ayah bilang dulu rumah kita pernah di serang? β
__ADS_1
" iya sayang... maka dari itu nurut aja ya sama ayah sama bunda. percaya deh, semua yang ayah dan bunda lakuin demi kebaikan kalian"
_ cukup sampai di situ saja yang shanum dan Nino ingat, kejadian seperti penculikan yang pernah rena alami sampai membuat kehilangan calon anak mereka biarlah tertutup rapat untuk nya dan rey_