
Bandung,
setelah semalam abang nya datang menyelinap masuk ke kamar melalui jendela, pagi ini evan perlahan membawa sang ibu ke kamar nya, mempertemukan ibu dan sang kakak, ayah mengikuti di belakang.
pintu kamar terbuka, ibu yang tak tahu apa maksud evan hanya terheran heran,
tatapan mata mereka bertemu, Ferdi sudah berlinang air mata, ibu hanya terpaku, benar kah yang ia lihat di hadapan nya kini si sulung yang sangat ia rindukanðŸ˜
ayah yang menyadari itu pun menangis, hati nya merasa sakit dan lega bersamaan.
Ferdi melangkah, menghampiri sang ibu yang masih termenung menatap nya, tangan sang ibu mengulur menyentuh pipi snag putra yang begitu tirus, hati nya sungguh sakit, anak nya begitu berbeda secara fisik saat terakhir bertemu
"naakk, (ada getar menahan tangis di dalam nya, Ferdi mengangguk, ini bukan hal yang biasa untuk mereka padahal,.. Ferdi sering pergi mengurus pekerjaan nya untuk waktu yang lama, tapi berbeda dengan ini, anak nya pergi dalam masalah besar)
" bu.. (Ferdi ambruk di pelukan sang ibu tangis mereka pecah, ayah mengusap kepala si sulung, anak yang ia bangga bangga kan)
saling menguatkan kan, mengatur nafas masing masing karena gejolak emosi, Ferdi melonggarkan pelukan nya, sang ibu mengusap airmata yang tersisa di pipi sang anak,
"ibu kangen nak, bagaimana kamu hidup? ibu bahkan ga mau liat TV, ibu ga mau denger berita tentang kamu"
"Ferdi baik baik saja bu, (bergantian menatap ayah nya) lihat Ferdi ada di sini
" kamu sangat kurus na (ibu menangis lagi)
Ferdi mengajak sang ibu untuk duduk di kasur evan,
"Ferdi juga kangen ibu, entah lah, mungkin ini sudah jadi takdir Ferdi bu, (Ferdi menceritakan semua nya)
" ya Allah, dosa apa yang kami perbuat, kenapa ini menimpa anak ku"
"entah sampai kapan Ferdi di sini bu, polisi mencari Ferdi. Ferdi harus secepat nya pergi"
"nak, menyerah lah, itu akan memperingati hukuman mu, dan kami pun tau harus menemui di mana nanti" kata ayah
ada satu hal yang ingin ia utarakan, namun seperti nya tidak mungkin, jujur, dia belum rela untuk tertangkap dan mendekam di penjara, ia ingin melihat rena ia begitu merindukan wanita yang masih ia anggap sang kekasih, calon istri nya, ia ingin mengutarakan semua nya, ia ingin bercerita keluh kesah nya, ia ingin berharap rena memaklumi nya memaafkan nya, namun melihat siapa yang menikahi rena,, itu seperti nya tidak lah mudah
"selama aman biarlah Ferdi di sini yah, ibu kangen sekali sama dia"
'Ferdi ga mau ngelibatin kalian bu, cukup Ferdi saja yang menanggung perbuatan Ferdi, nanti kalian terancam hukuman juga"
__ADS_1
"betul bu, ucap evan,..
" tapi tunggu, ibu akan masak opor ayam kesukaan kamu dulu, jangan dulu pergi nak, tunggu ya (ibu bangkit segera pergi ke dapur memasak opor kesukaan anak nya)
ayah dan evan tak henti nya memberi suport, bagaimana pun anak nya bersalah, Ferdi pun tau itu, Ferdi pergi ke kamar nya, mengemas beberapa potong baju, evan datang, ia masih menyimpan no HP rena, rena pun demikian,, mereka masih bisa melihat aktifitas masing masing, evan memperlihatkan status WA rena yang sedang berlibur bersama anak dan suami nya.
evan sengaja melakukan itu, berharap sang abang dapat move on, bagaimana pun Ferdi harus melanjutkan hidup nya walau mungkin di balik jeruji besi
"bang
" iya dek,
evan memberikan HP nya, ada foto rena di sana bersama rey dan anak nya, nampak rena tersenyum manis menunjukan bahwa ia bahagia
"rena.. apa kamu bahagia?? tapi seperti nya begitu.. terlalu tampak kebahagiaan mu di sana, apa tak ada se menit dalam satu hari mu mengingat ku,
aku belum rela, cintaku harus putus di tengah jalan karna kekonyolan ku sendiri, bagaimana kamu bisa memaafkan ku, diriku sendiri saja belum bisa menerima itu" (Ferdi menangis, evan meninggal kan nya, memberi abang nya waktu menyendiri.. sang ibu yang akan mengantarkan makanan ke kamar di cegah evan"
"biarin abang sndiri dulu bu, dia butuh banyak waktu"
mengangguk lemah, ibu menuruti apa yang evan bilang, menunggu si sulung di meja makan, ibu akan menyuapi nya, seperti dulu Ferdi masih kecil yang slalu minta di suapin sampai dia berumur 7tahun pun masih ibu suapin ketika makan
Ferdi keluar juga dari kamar nya, menenteng tas berisi pakaian,
"nak, sudah matang opor nya, ayo kita makan...
duduk bersebelahan dengan sang ibu,
" ibu suapin ya..
Ferdi tertawa
"bu Ferdi bisa makan sendiri, gimana kalo Ferdi yang nyuapin ibu ya (ibu mengangguk sambil menangis. memulai suapan nya, Ferdi menyuapi ibu nya terlebih dulu, ibu ta kuasa menahan tangis, ia pergi ke kamar, meninggalkan Ferdi sendiri.
melanjutkan makan nya dalam keheningan, ia tau hal terpahit di hadapan nya adalah jeruji besi, ia menikmati suapan demi suapan, rasa opor ayam buatan ibu yang tak pernah berubah rasa nya, ini akan ia rindukan..
Ferdi akan menyerah mungkin nanti, ia hanya ingin menemui rena menjelaskan semua nya,.
selesai makan Ferdi pergi ke kamar sang ibu, ibu di sana tidur membelakangi pintu, ada sisa isak tangis tersisa
__ADS_1
ibu menyadari kehadiran anak nya
"nak sini, ibu ada sesuatu
Ferdi datang, duduk bersila kaki, tepat di hadapan sang ibu,
" kamu sulit tarik uang di ATM kata evan ya? ini bawa lah, untuk bekal mu,
Ferdi menatap uang lembaran merah bercampur biru itu, mungkin sekitar 2juta rupiah,
"ibu punya uang cash segini, evan dan ayah sudah berangkat kerja, ibu ga bisa ke toko untuk jual perhiasan, apa lagi kamu kan?
Ferdi menatap sang ibu, betul kasih ibu sepanjang masa, padahal dia bilang dari kekacawan yang terjadi, namun ibu dan ayah tidak marah sedikit pun
"bu Ferdi masih punya uang, simpan lah ini untuk ibu"
"jangan bohong nak, evan sudah cerita semua nya, jangan fikirin yang di rumah, besok pagi sebelum kerja evan bisa pergi ke toko perhiasan" Ferdi menerima uang pemberian sang Ibu, dia juga menyerahkan ATM berikut no pin nya pada evan, berharap evan bisa mengurus nya, dan uang yang Ferdi punya hasil kerja dulu bisa di gunakan keperluan rumah
"maaf Bu, (memeluk kaki sang ibu) Ferdi bukan anak yang baik, jauh dari kata soleh sebagai anak, maaf kan Ferdi bu,..
" ibu yang minta maaf, di saat kamu seperti ini, kami tak bisa berbuat apa apa, kamu berjuang sendiri nak"
"Ferdi sudah besar bu, ibu percaya kan kalo Ferdi bisa melewati semua, "
"sekarang kamu mau kemana na? benar kata ayah, kenapa kamu ga nyerahin diri saja ke polisi?
" ada sesuatu yang ingin Ferdi urus bu"
"apa itu berhubungan dengan rena?
jangan gegabah sayang, kamu tau siapa suami nya?
" fedi tau bu, Ferdi hanya ingin bicara sama dia, bagaimana pun ferdi bersalah atas meninggal nya mamah rena, semua karna ferdi
"ibu mohon jangan buat sesuatu yang di luar akal sehat nak, ibu tau kamu sangat sayang sama rena, tapi kamu juga harus sayang sama diri sendiri, rena sudah bahagia, kenapa kamu harus begini, kamu juga harus bahagia nak,
" ibu benar, Ferdi hanya akan menjelaskan pada rena, Ferdi ga mau ada salah faham antara kita, karna untuk bersama tentu sudah tak. mungkin
setelah kangen kangenan bersama keluarga, terutama sang ibu, Ferdi pergi... memakai masker topi dia diam diam mencari jalan jalan kecil untuk di lalui. sang ibu hanya bisa berdoa, semoga anak sulung Yang begitu mereka banggakan slalu dalam lindungan Allah, apa pun yang terjadi
__ADS_1