
Nino terbangun dari tidur nya, mendapati sebuah tangan melingkar indah di perut nya,
ia mengerjapkan mata mata nya masih susah untuk di buka..
matanya menelusuri tangan itu, hingga ia dapat melihat siapa yang tidur di sebelah nya,
"Amira.. " Nino tersenyum melihat siapa yang tidur di sisinya ia membalikan badan menghadap Amira, Amira terusik dari tidur nya,
rambut yang terlepas dari ikatan nya menghalangi wajah cantik Amira,
hati nya berbunga, Nino terus memandangi wajah gadis yang masih terlelap itu, tangan Amira masih melingkar di perut Nino,
Nino merapihkan rambut yang menghalangi wajah nya, Amira tidak ter usik atas kegiatan yg Nino lakukan, itu membuat nino tertawa,
Nino merasa gemas pada Amira, ia mendekat, memberikan kecupan di kening nya sedikit lama... Nino tersenyum ia membuka matanya..
namun alangkah terkejut nya saat membuka mata Amira tidak ada di hadapan nya entah ia kemana Nino mencari nya.
Nino terbangun, celingukan ke kanan dan ke kiri
"astagfirullah" yang tadi itu begitu nyata, padahal Nino bermimpi,
menyalakan lampu utama di kamar nya, jam menunjukan pukul 4.35 pagi, Nino bangun ia segera ke kamar mandi...
Rena cemas.. dari kemarin sore Nino belum juga ke luar kamar. dia belum makan, Rena akan mencoba nya sekali lagi,
Rena tersenyum melihat pintu kamar Nino terbuka sedikit, Rena mengetuk nya, namun tidak ada jawaban...
ia ber inisiatif membuka nya,
"MasyaAllah kak... " Rena merasa tenang, Nino sedang duduk bersila, ia mengaji, Rena tidak akan mengganggu nya, setidak nya putra nya baik baik saja...
Rena menyiapkan sarapan, ia terkejut karena Rey memeluk nya dari belakang,
"ayah... "
"bikin sarapan apa? "
"nasi goreng special buat kalian... " Rena tersenyum, mengusap tangan suami nya yang melingkar di pundak..
"sayang, aku tiba tiba berpikir, gimana kalo kita undang keluarga Al untuk makan malam, kita kenalkan july sama Nino"
Rena sejenak terdiam...
"itu ide bagus yah,
tapi untuk masalah Nino, menurut bunda biarkan saja, jangan kita paksa"
"aku ga maksa sayang.. gimana kalo kita atur pertemuan mereka, seolah olah mereka murni bertemu"
Rena tersenyum,
"iya yah, tapi inget, jangan langsung bilang ke Nino nya mau ngenalin mereka, biar Nino atur dulu hati nya sendiri"
"iya sayang, aku paham... bagaimana pun aku pernah di posisi nya"
"nah itu ayah paham... "
__ADS_1
Rena melihat Nino turun, Rey juga..
"pagi yah.. bun... " kata Nino menyapa, senyum nya belum maksimal seperti biasa namun Rena dan Rey memaklumi nya..
"aku laper bun"
ini masih jam 6 kurang, dan nasi goreng nya pun belum matang,
"tunggu sebentar ya kak"
"iya bun... "
Nino menyambar se lembar roti dan teman teman nya di meja, (sedih juga perlu tenaga ya dokπ)
"ayah mau roti?? " tanya Nino,
"engga kak, ayah belum lapar" Rey tersenyum, Nino melanjutkan kegiatan nya.
"Nino.. " panggil Rey
"iya yah.. "
"ayah turut berdukacita, semoga almarhumah di Terima iman dan Islam nya, meninggal dalam keadaan husnul-khatimah"
Rena dari arah dapur mendengar itu, ia memperhatikan kedua nya,
"amiiinnn, makasih yah" Nino tersenyum
"ayah juga mengalami nya dulu, saat bunda mu meninggal, itu sangat menyakitkan " Nino menatap ayah nya, benar, ayah nya dulu kehilangan bunda Marsya, apa lagi mereka dalam posisi sudah menikah, ayah pasti lebih hancur dari pada aku.
"luka itu ga akan sembuh dengan mudah, ayah terpuruk entah berapa tahun, sampai ayah melarikan diri ke Malaysia, dan kamu di rawat momi di sini"
Nino mengunyah roti nya pelan, ayah nya benar...
"kamu tau obat agar cepat sakit hati mu hilang?? β
tanya Rey sambil tersenyum.
" apa yah?? β
"sering sering lah menjenguk nya di tempat nya yang baru, dan yang paling penting, tunjukan kalo kamu ikhlas menerima semua takdir ini, hidup harus tetap berjalan, amarah dan dendam ga akan menyelesaikan semua"
"Amira sangat cantik, bunda baru tau waktu ayah ngasih tau kalo amira itu yang datang bersama rekan nya"
"iya bun dia sangat ayu.. itu pertama kali nya ia menggunakan hijab, dan Nino tau, kerudung itu yang pernah Nino hadiahkan buat Amira"
"sekarang, Amira sudah tenang, jangan sampai kesedihan Nino membuat dia berat"
Nino mengangguk,
"bagaimana kalo bunda antar kakak ke makam nya berkunjung, kakak belom ke sana kan?? β
" aku belum siap bun"
"baiklah, jangan di paksakan, ayo kita makan dulu"..
***
__ADS_1
Al tersenyum, mendapat kabar keluarga mereka di undang makan malam oleh keluarga Rey, Al belum memberitahu Rey kalau anak anak mereka sudah saling kenal.
" July, ucapin terimakasih sama papah" Al mendekati putri nya yang sedang menyiapkan sarapan
"untuk apa pah?? β
βayah Rey mengundang kita makan malam, malam nanti"
July jadi kikuk, antara harus senang atau bagaimana ia tidak tau,
"lalu, kenapa aku harus berterima kasih?? β
" jadi kamu malu mengakui nya??"
"papah apa an sih"
Al tertawa, ia adalah orang tua nya.. pasti tau isi hati anak anak nya..
"papah belum bertemu Nino, dia sibuk di RS" Al menyesap kopi nya
"aku bertemu Nino kemarin, dan kita makan siang"
"oya?? sejauh mana kalian dekat? β
Al serius, dan July tertawa mendapat pertanyaan itu
" pah, kita baru bertemu beberapa kali saja, mana bisa dekat... kemarin ga sengaja kita ketemu di coffe shop, Nino nabrak aku, kopi aku tumpah, ya begitu saja, lalu kami ngobrol dan makan siang bersama"
Al tersenyum
"berikan roti itu pada papah, papah harus buru buru, papah jam 9kurang harus berangkat"
"jadi aku sendirian di sini"
"kamu perlu apa?? papah yakin kamu bisa mengurus semua nya dengan rakha, ia akan datang besok"
Al mengajak Rey bekerja sama, ia menugaskan July dengan rakha untuk bisnis nya kali ini, dan yang lebih penting, mendekatkan July dengan keluarga Rey,
"kamu menyukai Nino? "
"papah, apa an sih" July kembali ke dapur, menyiapkan minum untuk papa nya
"kamu sudah dewasa July, umur mu dua tahun lebih awal dari Nino"
"lalu, apa masalah nya? β July meletakan minuman untuk ayah nya di meja
" kamu sudah cukup umur untuk berumah tangga"
"papah jangan ngolot deh, aku senang bekerja, aku senang bisnis"
"dan kalian bisa mengembangkan nya bersama" ucap Al meyakinkan
"kalian siapa?? " July merasa heran
"kamu dan Nino"
"pah.. jangan macam macam"
__ADS_1
"kamu yang jangan macam macam sayang, kamu anak papah, papah tau apa yang kamu rasa"
July terdiam, ia tidak memungkiri, dan tidak meng iya kan ucapan papah nya...