Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)

Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)
malam pertma


__ADS_3

rena dan yang lain nya pulang, beberapa kerabat sudah pamit pulang tadi, ia mengedarkan pandangan, melihat dekorasi ruangan, membuang nafas kasar rena sendiri tak tau perasaan apa yg ada dalam hatinya, iya di khianati, di tinggal kan di saat hari bahagia nya, dan lebih menyakitkan di tinggal sang mamah untuk selama lama nya, rena menoleh pada sang suami rey, tak menyangka bos nya itu yang kini menjadi suami nya, ia tak membenci rey, malah pernah bingung dengan perlakuan rey dan keluarga nya yang mengistimewakan diri nya, namun ia memiliki ferdi yg bisa di bilang yang lebih ia sayang saat itu, namun apa yg terjadi takdir bermain main dengan nya


rey mendekati rena, di usap nya kepala sang istri, "ada anto di luar baru datang, kamu istirahat ya, jaga kesehatan jangan sampai sakit"


"iya pak, rena ke kamar dulu ya, ajak mas anto ke dalam,


bu susan, rena ijin ke atas sbentar yA"


"iya ren, istirahat ya, kita juga sebentar lagi pulang bareng anto, besok monik sekolah"


"hati hati di jalan ya bu, maaf semua nya jadi kacau begini"


"jangan bilang gitu, inget kita sekarang kita jadi keluarga, jangan sungkan oke.." (susan memeluk rena)


"tititp salam sama momi dan nino, terimakasih banyak bu sudah datang"


susan mengangguk mengusap bahu rena, "sabar ya insyallah kita ketemu di jakarta nanti"


rena tersenyum, ya dia akan balik lagi ke jakarta mungkin


rey memilih pergi ke sebuah kafe, karna akan ada beberapa hal penting yang akan ia bicarakan dengan anto, sang asisten, susan dan monik pun ikut, tadi mereka sudah berpamitan pada bi rosama dan mang agus,


di sebuah kafe


rey menyeruput kopi nya, anto sudah siap dengan laptop di depan nya,


"cari info soal ferdi, bagaimana pun kita harus tau yang sebenar nya"


anto mengangguk faham,

__ADS_1


"tapi bos senang kan, bisa menikah dengan rena"


"jujur aku senang, tapi bukan cara seperti ini, rena pasti sangat terluka"


"perempuan itu walaupun terlihat tegar, dalam hati nya pasti rapuh rey, dia pasti kecewa, trauma sama laki laki, tugas kamu sekarang tunjukin, kalo kamu ga akan ngelakuin apa yang ferdi br*****k itu lakuin ama rena"


"insyallah san, gw ga akan nyia nyiain rena, terlebih almarhumah mamah minta gw langsung jaga rena"


setelah memberikan tugas penyelidikan pada anto, rey melanjutkan dengan menandatangani beberapa berkas yang dua hari terakhir menunggu nya,


selesai, susan dan monik pulang ke jakarta dengan anto, rey kembali lagi ke rumah rena


di suatu tempat,


Ferdi termenung, merutuki keputusan yang ia ambil, kemarin siang ia pulang ke rumah orang tua nya, di sana sudah berkumpul keluarga besar, mempersiapkan begitu banyak hantaran yang akan mereka bawa untuk besok pagi, ferdi menatap jas yang menggantung di kamar nya, rena bilang tadi mang agus yang mengantar,


fanny sedang di infus tadi di kontrakan yang mereka sewa di daerah depok, semwntara fanny tinggal bersama ferdi, mengaku pada warga sekitar kalo mereka baru menikah dan fanny sedang ngidam, sungguh sangat kebetulan, ngidam yg di rasakan fanny membuat ferdi frustrasi, fanny hampir tidak bisa bangun badan nya sungguh sangat lemah, di tambah apa pun makanan yang masuk pada mulut nya, seketika keluar kembali, fanny meninggal kan sang ibu di rumah nya, ia pun bingung harus bagaimana mengabari sang ibu, takut memperburuk keadaan, fanny melarikan diri bersama ferdi


malam menjelang, ferdi tidak bisa memejamkan mata nya, di tatap nya foto rena lama, bergelut dengan perasaan nya sendiri, ya ia harus memutuskan sesuatu sebelum semua nya menjadi tambah rumit,


Ferdi menulis surat untuk keluarga nya terlebih dahulu, ia tau ini takan mudah, ayah dan ibu pasti akan marah, mengingat dia anak pertama yang harus nya menjadi panutan untuk kedua adik nya, menjadi kebanggaan orangtua nya. ia mengusap wajah nya, menghilangkan lelah, sungguh ini tidaklah mudah


menggoreskan kata demi kata pada kertas putih, ia tau betapa menyakitkan ini untuk keluarga nya, namun bagaimanapun ia harus memilih, menceritakan semua kejadian di kertas itu, mencoba memeberi pengertian akan keputusan nya ini.


dilanjutkan nya dengan surat ke dua untuk rena, sungguh dadanya begitu sesak, ia terbayang hari hari yang ia lalui bersama rena, memang mereka jarang bertemu karna ferdi lebih sering bekerja di luar kota, ia mengajak rena liburan ke tempat tempat wisata ketika mendapan waktu luang, kadang hanya pergi ke pasar malam menikmati beberapa kuliner,.. ah ia harus mengubur nya, ia juga teringat bagaimana proses acara lamaran, kedua keluarga yang terlihat bahagia...


Ferdi melipat surat menumpuk nya, dilirik nya jam dinding bulat itu yang entah sudah berapa tahun menggantung di sana


pukul 01.20 malam

__ADS_1


ia mengemas baju nya, kedalam tas, ia memilih fanny yg begitu lemah, terlebih ia akan memiliki anak dengan nya, akan lebih menyakit kan mungkin ketika di posisis fanny fikir ferdi, ia. mengendap endap, melihat situasi yang cukup. aman, melewati beberapa parcel hantaran di ruang tamu, ia termenung sejenak... "maafin mas rena" ia mempercepat langkah nya, tak ingin seorang pun melihat nya, bahkan ia tak. membawa mobil nya


sebelum adzan subuh berkumandang, sang ibu berniat membangunkan ferdi, mengetuk ngetuk kamar nya yang tiada jawaban, mungkin masih tidur, akan ia bangun kan lagi beberapa menit kemudian, rumah sudah ramai, perias pun datang, merias beberapa orang keluarga ferdi termasuk ibu,


evan sang adik lelaki pulang shalat dari mesjid


" van, bangunkan abang mu, tadi ibu bangunkan belum bangun bangun dia, kan harus siap siap acara nya aga pagi"


" baik bu" (evan menuju kamar abang nya, di ketuk nya pintu beberapa kali, tidak mendapat jawaban, ia mencoba membuka pintu kamar ternyata tidak di kunci


"bang... (evan memanggil, ia tidak melihat abang nya di tempat tidur, beralih ke depan pintu kamar mandi, mungkin abang nya sedang membersihkan diri, namun tak ada suara air sedikit pun, di buka nya pintu kamar mandi, tak ada juga abang nya" kemana bang ferdi, kata ibu belum keluar kamar", evan berniat keluar kamar, ketika melihat beberapa kertas bertumpuk di meja sebelah Tv, ia penasaran menghampirinya, selembar kertas terbuka, iya itu tulisan abang nya, ia membacanya kata demi kata,.. betapa terkejut nya evan buru buru keluar, menghampiri ayah dan ibu nya yang sedang bersiap....


"bu, ibu....


"kenapa van, mana abang mu?


" ini bu, bang ferdi ga ada di kamar nya dia menulis surat, di bacanya surat itu oleh sang ibu, terkejut sangat,


"ada apa? sang ayah menghampiri evan


" bang ferdi kabur yah, dia ga bisa nikah sama ka rena,,,


"apa? jangan becanda van..


" ayah baca aja surat nya..


seketika suasana hening, hanya ada tangis sang ibu, ibu pingsan setelah membaca nya, ayah pun merasa prustasi, seketika suasana rusuh,.. hingga pukul 06.00pagi ini, mereka masih bingung, hp ferdi tidak bisa di hibungi, apa yang harus mereka katankan pada keluarga rena, mereka malu,...


ibu masih syok, namun kabar ini harus sampai ke keluarga rena mereka pasti sudah menunggu,

__ADS_1


evan di tugaskan pergi ke rumah rena, menyampaikan kabar kepergian ferdi, memberikan surat yg ferdi tulis untuk rena.. evan sempat menolak yang memicu kemarahan sang ayah, ia pasrah, di temani seorang saudara nya, evan pergi ke rumah rena...


__ADS_2