
Rey sedang berbicara dengan momi, entah apa yang mereka bicarakan, mungkin urusan di kantor, terlihat serius sekali, Rey juga terlihat merenung beberapa kali,
Nino sedang mewarnai dengan tina,
rena pergi ke dapur, rumah tampak sepi, putri seperti nya pergi, ia bahkan melewatkan makan malam nya,
mengocek susu jahe untuk suami nya,
momi memesan kopi pada bi asih,
rena melanjutkan memotong buah,
"non, sama bibi aja ya, non istirahat ya" bujuk bi asih
"bi, rena ga apa apa, lagian potong buah aja ga akan cape, rena malah cape kalo diem aja, keselllll"
bi asih tersenyum.,
melihat nona nya merajuk begitu sangat lucu,
"iya non, tapi kalo cape jangan di paksain.. nyuruh kita aja ya"
"iya bibi sayang... "
"bibi antar kopi dulu ke nyonya ya non"
rena mengangguk, melanjutkan kegiatan nya memotong buah,
hampir setengah jam berlalu, buah yang rena potong tadi sudah tandas,
Nino sudah tidur, setelah ia mengantar jagoan nya ke kamar,
Rey datang, memeluk nya dari belakang,
"maaf ya, nunggu lama" (berbisik, memberikan kecupan di puncak kepala istri nya)
"ga apa apa yah, aku juga lagi nonton, "
momi pamit pergi ke kamar,
rena membantu suami nya untuk duduk,
__ADS_1
Rey merentangkan tangan nya, meminta rena untuk datang,
rena menurut,
hening beberapa menit, ketika Rey memulai pembicaraan nya
"sayang, apa putri bicara sesuatu sama kamu? " (tanya Rey, suara nya rendah. rena mengangkat kepala nya menatap pada Rey)
"tadi pagi kita ngobrol, putri datang ke kamar"
"apa katanya?? "
"dia minta pendapat tentang hubungan nya dengan Yuda yang belum momi restuin"
rena menjeda, Rey memainkan rambut istri nya, menunggu kelanjutan cerita
"aku nga tau, bagaimana putri menanggapi saran aku , putri bilang tadi, dia belum pernah melakukan apa apa untuk keluarga, momi pernah bilang sma putri, kalo semua yang putri nikmati ini hasil kerja keras papi, momi, kak nadia dan kamu sayang.. "
"momi bilang begitu? " tanya Rey
rena mengangguk,
"aku ngasih pendapat,
momi punya alasan sendiri belum merestui, aku nyaranin buat putri jangan terlalu fokus dulu sama hubungan nya, karna putri bilang belum tau mau di bawa kemana hubungan mereka,
sambil meyakin kan hati masing masing, kasih kesempatan buat Yuda juga, membuktikan ke momi kalo dia itu layak untuk jadi pendamping putri"
Rey mengangguk,
mempererat pelukan nya
"putri pergi, HP nya terlacak terakhir di kampus nya, namun putri ga ada di sana" (kata Rey pelan, rena terkejut, merenggangkan pelukan mereka, menatap Rey tak percaya)
"maksud nya putri kabur?? " (tanya rena penasaran)
"entah lah, Edo belum menemukan nya"
"bagaimana dengan Yuda? "
"Yuda terlihat ada di kafe dan rumah nya, Edo dan team nya ga menemukan putri sama sama Yuda"
__ADS_1
"dek, kamu kemana, (rena menerawang, tadi putri bilang ia faham apa yang rena maksud.. lalu kenapa sekarang malah begini?)
" udah tanya temen temen nya?? (tanya rena panik)
"udah sayang,..
udah jangan terlalu d fikirkan, putri sudah besar"
"tapi yah, kita ga tau alasan putri ngilang"
"ya, maka dari itu Edo dan team nya sedang bekerja keras,
ayo ke kamar, aku ngantuk"
rena mengangguk, ia bangkit,
membantu Rey menggapai tongkat nya,
menuntun suami nya berjalan, memasuki kamar mereka berdua
**
rena gelisah, ia tidak bisa tidur, memikirkan sang adik, Rey pun seperti nya belum mendapat petunjuk, tidak ada yang menelpon nya sejak rena dan Rey masuk ke kamar
ini sudah jam 1malam, putri belum pulang,
Rey merasakan kasur nya bergoyang, mendapati rena masih membuka mata, terlebih ia sedang melamun,
"sayang... "
rena tersentak, ia kaget
"ayah, apa mau sesuatu? ayah mau minum?? "
Rey menggeleng,
"kamu belom tidur hmm? "
"kebangun tadi, (rena berbohong) "
"ayo tidur lagi"
__ADS_1
mengangguk, rena memeluk suami nya, berharap dapat terlelap,
jujur, ia sangat khawatir, kenapa mendadak seperti ini...