
Rey baru saja selesai mandi, ia tidak ke kantor seperti nya hari ini karna Al juga akan datang,
"yah... " Nino berdiri di pintu kamar Rey yang memang tidak tertutup,
"ko udah jalan jalan...? “ Rey menyuruh putra nya masuk,..
Nino menggeleng,
" papah Al udah dateng.. "
"oya?, baiklah ayo kita keluar... "
Rey dan Nino ber iringan, menemui Al di ruang tamu mereka,
"apa aku datang terlalu pagi? “ ucap Al
" ini sudah siang, aku saja yang baru mandi... " Rey tertawa "kita langsung saja ke ruang kerja.. "
Al tersenyum pada Nino,
"bagaimana apa masih sakit dokter? “
"sedikit pah.. "
"kamu pasti kuat... " Al mengusap pundak calon menantu nya,
"HP July belum aktif, apa July di rumah?? “ tanya Nino
" papah tadi nya mau pamit, tapi liat dia tidur sangat pulas jadi papah tinggalkan "
mereka berjalan menuju ruang kerja Rey,
"jadi July di sana sama siapa? " Nino tampak hawatir,
"ada Rakha dok, papah ga mungkin tinggalin dia sendiri dalam situasi ini"
Nino mengangguk,
Frans sudah ada di ruang kerja nya, mereka akan membahas sesuatu yang serius kali ini, Rena datang dengan bi Sari, memberikan kopi dan cemilan untuk semua nya...
"jangan terlalu serius tuan tuan.. nanti kalian cepat tua.. " ucap Rena meledek..
"kita memang sudah tua kan Al? " tanya Rey
"tidak bisa aku pungkiri itu"
Rena tertawa..
"baiklah. selamat bekerja, aku akan keluar" ia menghadiahi ciuman di pipi suami nya, Rey tersenyum.
"hey jangan begitu, bisa bisa aku harus undur pertemuan ini dua jam lagi" ucap Rey pada Rena,
"ooowh tidak bisa.. aku akan pergi ke swalayan dengan shanum" Rey manyun,
Al selalu iri pada keharmonisan teman nya ini,
ia menggelengkan kepala nya..
"apa aku harus pulang dulu Rey? “
__ADS_1
" Al jangan ikut campur" Rena tertawa mengatakan itu, ia buru buru keluar agar tidak memperpanjang masalah,
***
July menggeliat, matanya sangat lengket untuk ia buka.. namun ia kehausan,
ia kalah,. menyibak kan selimut dan turun dari ranjang ny,
" morning... " ucap Rakha
"hmmm... " July berjalan gontai menuju dapur,
"papah ke rumah ayah Rey"
July menuangkan air putih ke gelas nya,
“jam brp? “ tanya July
"tadi jam 7 berangkat" Rakha memindah mindah kan siaran TV, ia sangat bosan tidak berniat untuk menonton seperti nya.
July melirik jam dinding
"jam 7.?? sekarang jam 9 ..
sudah dua jam mereka pasti sudah mengobrol"
July menyiapkan roti dan teman teman nya, ia merasa lapar..
"udah makan belom kha? "
"belom nanti aja... "
setelah beberapa menit, rakha bangkit ia menghampiri kakak nya, duduk bersila di sebelah July,
"kamu punya roko? roko ku habis... " ucap July
Rakha mengeluarkan rokok berserta korek nya, mereka mengepul bersama...
"kak, aku berpikir bahwa Hans tidak semudah itu meninggalkan kalian, aku punya firasat dia bakal balik lagi"
July terdiam, mata nya menerawang,
"aku bingung kha, di satu sisi aku ingin membereskan masalahku dengan Hans, di sisi lain aku akan menikah,
kamu tau, Hans punya mata di mana mana. kalau aku maju sekarang aku takut ga akan kembali,
aku ngerasa bersalah karna Nino terlibat"
rakha menoleh pada kakak nya yang masih memandang jauh ke depan sana,
"bilang aja aku harus apa kak, aku siap membantu",
"jangan, papah pasti tau apa yang akan kita lakukan, kamu tau, Rio selalu di bawah mengawasi aku.. papah pasti bekerja sama dengan ayah Rey dan Nino"
Rakha tersenyum,
"mereka sangat sayang padamu kak"
"tapi aku hanya memberi masalah untuk mereka" July menghisap lagi rokok nya, tidak ada percakapan lagi antara July dan Rakha, July tenggelam dalam pikiran nya, hingga ia tidak sadar siapa yang ada di sebelah nya..
__ADS_1
Nino menyalakan korek, menyodorkan nya pada July karna rokok kedua di tangan July belum menyala,
dengan polos nya July menempelkan rokok pada api, menghisap nya agar menyala sempurna,
namun tidak sengaja mata July bertemu dengan mata Nino, wajah nya langsung pucat pasi, seolah melihat hantu di depan nya,
Nino tersenyum.
ia meraih rokok di tangan July dan menghisap nya, July melihat Nino sangat kaku melakukan itu, karna memang Nino tidak merokok...
melihat July masih memandangi nya, Nino menyemburkan asap rokok ke wajah July, seketika July tersadar,
ia merebut rokok di tangan Nino, dan mematikan nya,
"hey itu punyaku" Nino protes
July menggeleng, tenggorokan nya serasa kering seketika, ia meraih minuman nya, meneguk nya habis, Nino memperhatikan nya.. baru kali ini Nino melihat July salah tingkah, ia jelas ketahuan merokok.
"sudah lama?? " tanya Nino
"apa?? “
" kamu ngerokok udah lama?? “
_ sialan si Rakha kenapa ga ngasih tau Nino datang? _ July bergumam dalam hati nya,
karena Nino melihat July diam, ia mengusap kepala calon istri nya itu,
"itu ga bagus buat kesehatan, apa lagi kamu perempuan, inshaAllah kalo Allah kasih kita keturunan, itu jelas ga baik buat calon anak kita dalam kandungan nanti"
July tertunduk,
wajah nya masih kusut, ia bahkan belum mandi, ini keadaan terburuk nya di hadapan Nino,
"kalo belum bisa berhenti, cobalah kurangin, lama lama nanti terbiasa.. atau alihin ke permen waktu kamu mau ngerokok"
"maaf.. " hanya itu yang bisa July bilang...
"udah lama Nino, apa lagi kalo sendiri, cuma itu temen aku setelah kepergian mamah"
"sekarang ada aku, ga ada alasan lagi kamu sendiri" ucap Nino tersenyum,
July membalas senyuman nya.. Nino menegurnya, July tau itu, namun sungguh itu teguran yang sangat halus, July bahkan merasa malu,
"apa masih sakit?? “ tanya July menatap wajah Nino,
" sedikit...
ayo bangun, kita jalan jalan cari angin... "
Nino hendak memeluk July, namun July menghindar,
"maaf aku bau rokok, aku mandi dulu"
July langsung bangun dari duduk nya,
membawa piring, gelas dan asbak, Nino tersenyum melihat tingkah calon istri nya itu,
Nino tidak marah, ia mengerti, sebelum dia ada, July mungkin lebih dulu mengenal rokok untuk mengisi waktu kosong nya..
__ADS_1