
"saya meminta periksa CCTV-nya pak rey"
"sialahkan pak"
Ridwan sang kepala Polisi sudah begitu kenal dengan rey, tapi mereka menggunakan prosedur pemeriksaan, pak joko membantu pelayan lain membersihkan serpihan kaca rumah rey yang berantakan, semua sudah boleh di rapih kan polisi sudah melakukan olahraga TKP,
Ridwan dalam ruangan CCTV-nya di rumah rey, melihat dari awal kejadian, saat tembakan pertama mereka lesat kan,
"Anthony buronan polisi di negara nya rey, dia gembong narkoba"
"anak nya menculik adik ku kemarin di puncak rid, polisi di sana menemukan sabu, di villa dan Jhonatan positif narkoba"
"putri?? " tanya nya
"ya.. kami ke sana kemarin, Jhonatan menembak kaki Yuda teman nya putri"
"ini keterlaluan, anak nya pun banyak kasus rey, lalu bagaimana rena? "
rey menunduk,
"dia syok, putri menemani nya"
ridwan mengangguk,
"akan kami urus"
"thanks bro"
"temani rena kasihan dia"
rey mengangguk, mereka saling menggenggam tangan,
frans masih di luar, team harus bekerja keras membersihkan darah di teras depan rumah rey, sebelum ke kamar, rey duduk di ruang makan, ia terdiam beberapa saat, sampai bi asih menyodorkan segelas susu jahe pada rey,
"minum den"..
" makasih bi"
bi asih melihat gurat khawatir di wajah reynan kecil nya, tapi tidak mengurangi ketampanan yang rey miliki,
"aku takut terjadi sesuatu pada kandungan rena, dia pernah keguguran waktu penculikan nya dulu"
__ADS_1
"bagaimana dia bisa keluar bi? β
" kami sudah mencegah nya den, momi malah sempat mengejar non rena, tapi entah keberanian dari mana non ngelakuin itu"
"yang rena pakai itu pistol pribadi rey bi, satu rey rey menyembunyikan nya di atas"
"memang non ke atas dulu sebelum keluar"
rey mengusap wajah nya
"dia sedang hamil"
bi asih mengangguk,
"rey takut setengah mati saat melihat rena tiba tiba datang, bagaimana kalau anak buah Anthony melihat nya lalu menembak rena? "
bi asih menggeleng, dia tidak bisa membayangkan jika itu terjadi,
"huftt...." rey membuang nafas nya kasar,
ia menyeruput susu jahe nya selagi hangat, ini sudah malam jam 10,
"baik den"
rey bangkit, mengusap pelan pundak kepala pelayan di rumah nya, yang sudah ia anggap ibu kedua itu,.
"maaf bibi pasti ketakutan"..
bi asih mengangguk, ia menangis
" bibi takut kalau sampai keluarga aden yang jadi korban, bibi sayang semua nya, apa lagi non rena saat keluar, momi berdoa sekencang kencang nya tadi" bi asih menutup mata dengan baju nya,
"ga ada yang luka bi, ayo kita istirahat"
bi asih mengangguk lagi, ia berbalik menuju kamar nya,
anak anak masih ramai di luar, rey membuka pintu kamar Nino, momi tidur di sana memeluk cucu nya, rey mendekat, mengusap kepala jagoan nya, lalu mencium pipi momi,
"maaf" hanya kata itu yang rey ucapkan,
mematikan lampu utama di kamar Nino, rey keluar kamar,
__ADS_1
putri memandangi wajah kakak ipar nya yang baru saja tertidur, mata nya kembali memanas,
rey datang, dia tersenyum.
putri bangkit, menghampiri kakak nya, dan memeluk nya,
"maaf kak, ini salah putri"
"memang seharus nya begini" jawab rey
"kasian kak rena"
"istirahat lah, biar kaka yang temenin"
putri melepaskan pelukan nya
"maaf" berucap sekali lagi, menatap kakak nya penuh rasa bersalah
"ya.. " rey mengangguk sambil tersenyum.
putri meninggalkan kamar kakak nya, rey duduk di sofa, kaki nya terasa sakit lagi, mungkin karna tadi ia sedikit lari menghampiri istri nya, rey memandang wajah rena,
banyak kejadian yang tidak ingin dia ingat,
ia bahagia dengan istri nya, tapi begitu banyak kejadian menimpa mereka, ini sangat buruk, musuh terang terangan menyerang nya di rumah,
rey menghabiskan susu jahe ny,
membersikhan diri di kamar mandi, ia berganti pakaian,
lalu menemani istri nya tidur, ia sangat pelan membuat gerakan, sungguh sangat ingin memeluk rena, tapi takut ia terbangun,
rey memandang wajah istri nya dari samping, meneliti setiap inci pahatan Tuhan di sana, rey menangis,
"entah apa bisa aku memaafkan diriku sendiri atau tidak jika kemungkinan terburuk terjadi sama kamu rena, aku ga mau kehilangan lagi, cukup masalalu mencekik ku,
tidak mau lagi"
rey mengusap air mata nya,
bergerak pelan, mencium kening istri nya, dia cukup lelah, dan akan pergi tidur saja...
__ADS_1