
Semua telah dalam perjalanan, mereka akan kembali ke rumah momi, rey juga akan kembali ke kantor mulai besok, ia kasihan pada momi nya, beliau sudah semesti nya istirahat menikmati hasil kerja nya dan sang papih,
"apa ada yang mau di beli? " rey bertanya pada istri nya..
rena terlihat berpikir..
"aku mau somay"
rey melirik nya, pandangan mata rena tertuju keluar mobil,
"emh, pengen cilok bumbu kacang aja deh.. " kata rena lagi
"nanti bikin aja di rumah" kata nya lagi,
mata nya seperti mencari sesuatu di pinggir jalan..
"sayang.. " rey memanggilnya, menggenggam jari tangan nya, rena menoleh,
"hmmm? "
"kamu cari sesuatu? “
rena tersenyum,
" ayah, aku melihat dua anak kemarin di sini, waktu pulang dari RS, "
"lalu..? " tanya rey
"aku mau ketemu mereka lagi.. emh, frans bisa pelan pelan mobil nya"
"sesuai permintaan nyonya.. "
rena terlihat begitu antusias..
"buka kaca mobil nya ya? “ tanya nya pada suami nya
" boleh sayang.. " rey belum tau kenapa istri nya mencari anak itu...
"nah itu mereka yah... " kata rena menunjuk arah luar, "frans tolong menepi"
"baik non"
rey mengikuti istri nya, rena telah turun dari mobil,
"ayah mau turun? " tanya rena
"tentu sayang aku harus pastikan kamu baik baik saja"
rena tertawa,
"hanya bertemu anak kecil" kilah nya
"kamu lupa sayang?? " tanya rey, rena langsung terdiam. ia pasrah... frans telah turun, mengitari mobil mendekati rena.
"tina di dalam saja ya.. "
"baik pak... " Nino tertidur di gendongan tina..
rena berjalan menggandeng tangan suami nya,
kedua anak kecil itu ternyata laki laki dan perempuan, pakaian mereka sangat lusuh dan kumal.
"assalamu'alaikum" rena mendekat, anak itu kebingungan. mereka hanya tersenyum kecil.
"jangan takut sayang, ibu cuma mau tanya, dari kemarin kalian di sini, apa tidak pulang?? "
yang laki laki menggeleng,
"kami tidur di toko bu" anak perempuan yang lebih besar berbicara, ia menunjuk toko yang tak jauh dari mereka...
"orang tua kalian dimana? " tanya rena lagi, rey memperhatikan istri nya, belum tau, rena akan melakukan apa,
"kami ga punya orang tua"
wajah rena berubah sedih,
"kalian sudah makan?? " tanya rena antusias..
mereka berdua menggelengkan kepala,
"ga ada yang mau kasih bu, dari kemarin "
rey melipat bibir nya mendengar itu, bagaimana mungkin anak sekecil itu, terlantar di jalan,
"ayo kita makan, kalian mau makan apa? " rena begitu senang, kedua anak itu saling lirik..
"kami takut" kata si kecil..
"ibu hanya ingin mengajak kalian makan.. bagaimana di warung sana " rena menunjuk warung makan padang di jajaran toko.
anak perempuan itu menoleh pada adik nya,
"kak aku lapar... "
terlihat kakak perempuan nya sangat hati hati,
"bolehkah kami makan bu?? " tanya si kakak
__ADS_1
"tentu sayang" rena berkaca mata nya, anak itu sangat cantik apa lagi jika di Pakaikan baju yang layak tentu nya,
rena menoleh pada suami nya, rey mengangguk sambil tersenyum.
"ayo sayang, pilih semua yang kalian mau.. "
adik nya tersenyum. ia bahkan bangkit dari duduk nya, lalu sang kakak menyusul, rey dan rena berjalan di belakang mereka, rena belum lapar tapi ia akan membeli kopi saja dengan rey.
"frans jaga Nino" kata rey
"baik tuan"
mereka memasuki rumah makan, si adik terlihat gembira..
"de diem... " si kakak terdengar menasehati, rena tersenyum.
"pak, dua piring, buat anak anak" kata rena pada penjaga,
"baik bu"
"nah, kakak mau makan apa, bilang saja ayo.. " ucap rena..
anak perempuan itu terlihat memperhatikan menu
"ayam saja sama nasi bu" ucap nya
"itu saja? lihat ada rendang sapi, telur balado, perkedel kentang.. ayo jangan sungkan"
rey tersenyum. ia sudah duduk seorang pelayan mendatangi nya, rey memesan kopi dan minuman untuk istri nya yang terlihat bahagia.
"itu saja bu, itu juga sudah mahal"
rena menganga, ya Allah anak ini... rena begumam dalam hati,
ia menunduk, mendekati anak perempuan itu,
"tenang saja, ibu punya uang banyak" rena berbisik, dan ia tertawa melihat senyum terbit dari wajah anak perempuan itu, karna dari tadi ia seperti ketakutan,
"itu saja bu, nanti kalo ada kembalian, untuk makan malam saja"
rena terdiam, hati nya terpukul mendengar itu,
"baik lah, seperti yang kalian mau, sekarang cuci tangan yang bersih, biar nanti makanan nya di siap kan"
si kakak mengangguk,
menarik tangan adik nya untuk ikut ia cuci tangan
"pak tambah menu yang lain di pisah di tempat nya, biar mereka yang pilih nanti"
"baik bu" si pelayan tersenyum.
"ayah ga keberatan nunggu? "
"tentu engga sayang, aku punya banyak waktu"
rena begitu senang,
ia melambaikan tangan pada kedua anak itu, meminta mereka untuk duduk,
makanan telah datang,
"yeayyyy ayam bakar... " seru si adik, membuat rey tersenyum seketika,
"ayo kita berdoa" kata rena..
anak prempuan itu memperhatikan nya, setelah berdoa ia bertanya
"ibu ga makan? "
"ibu sma bapak sudah makan nak, kalian makan lah yang kenyang ya"
anak itu mengangguk, adik nya sudah mulai makan.. seperti nya umur nya hampir sama dengan Nino 6tahun..
rena mengeluarkan HP nya dari tas..
ia mengirim pesan pada suami nya
"ayah, apa boleh uang ku aku belanjakan untuk mereka? aku ingin membeli baju untuk mereka"
rey melirik istri nya, pesan apa yang ia kirimkan, mereka sedang berdekatan padahal,
rey membuka pesan nya, ia tersenyum
"tentu sayang itu sudah jadi uang mu" rey membalas,
"terimakasih ayah🥰🥰"
mereka saling lirik, sna tersenyum.
"kamu menyukai mereka? " tanya rey lagi di pesan
"iya🥺, bukan kah mereka sangat lucu"
"iya sayang"
"apa kita bisa membawa mereka pulang?? " tanya rena lagi
__ADS_1
"kita tidak bisa sembarangan sayang, kita harus tau dulu asal usul mereka"
rena mengangguk, ia mengerti,
"ibu, boleh aku bawa pulang makanan lebih nya" kata si adik polos
"syutt ade ga boleh gitu" kata si kakak
"tentu sayang, semua sudah ibu bayar... "
"yeayyyy"
rena tertawa lagi,
tak lama mereka selesai makan... rena meminta ijin pada pelayan, untuk beberapa waktu mengobrol di sana
"nak boleh ibu tanya sesuatu? " tanya rena lembut penuh sanyum
si kakak mengangguk,
"maaf nak, dimana orangtua kalian?? "
anak perempuan itu menunduk,
rena merasa bersalah, ia menggenggam jari tangan suami nya,
"entah lah bu, sudah dua bulan mamah meninggalkan kami, waktu itu, kami di ajak pergi ke alfa membeli eskrim. mamah bilang mau isi bensin dulu motor nya, kami menunggu di parkiran, dan sampai sekarang mamah ga dateng"
rena terdiam, dua bulan mereka terlantar, ibu macam apa itu, pikir rena dalam hati
"lalu maaf ayah kalian bagaimana? “
ia menggeleng,
" ana ga tau ayah di mana, sudah lama ga pulang"
"lalu kalian hanya berdua? "
"setiap sore, ada orang tua yang datang, mereka bilang kita harus bayar tempat buat tidur, dan kita di paksa mengemis"
"ya Allah, " air mata rena menetes,
"siapa mereka? apa kalian kenal? "
anak perempuan itu menggeleng,
rey mendekat pada istri nya, ia berbisik
"kita bawa pulang saja mereka"..
rena sontak menoleh,
" sungguh? " tanya nya
"tentu, kita punya banyak panti asuhan yang bekerja sama, kenapa tidak" bisik nya lagi
rena tersenyum.
"nak, apa kalian mau ikut pulang bersama kami? ibu ingin merawat kalian" ucap rena
"tapi kita ga akan di jual kan bu? "
rena terkejut mendengar itu,
"kita pernah di ajak, sama orang itu, dia bilang mau mengajak tinggal di rumah nya, tapi kita di jemput, lalu di bawa pergi, ana melihat orang itu di beri uang banyak"
wajah rey berubah serius,
itu perdagangan manusia pikir nya,
rena tersenyum ramah,
"pikirkan lah dulu, kalo kalian mau, nanti ibu akan jemput kalian ya.. "
enak perempuan bernama juliana itu melirik adik nya yang asik minum es jeruk,
"ibu sangat baik, ana sangat berterima kasih"
ucapan ana terdengar sangat terlatih, ia tidak sembarangan ber ucap padahal ia masih anak anak,
"ibu harap kalian mau ikut, ibu punya anak laki laki se umur adik mu, kalian bisa bermain bersama di rumah, anak ibu lagi tidur di mobil"
ana menunduk
"apa janji tidak akan menjual kami? " tanya nya, mata nya sudah berlinang
"ana takut buu"
rey terdengar menarik nafas dan membuang nya kasar, dada nya sesak
"demi Allah ibu ga akan ngelakuin itu nak, kalo kalian mau, ayo lihat anak ibu, kalian bisa berteman"
ana mengangguk,
rey juga mengiyakan kata kata istri nya,
"ayo sayang" rena bangun dari duduk nya
__ADS_1
"hey perhatikan jalan mu" ucap rey
rena malah tertawa, iya begitu senang