
Rey tersenyum, rena sudah selesai membungkus kado untuk bunga, hadiah kepulangan nya, bunga telah sembuh dan sangat sehat.
"apa itu? " Rey mengusap jilbab sang istri,
"rahasia" jawab rena tersenyum
"baiklah nyonya, apa sudah siap? "
"sudah yah, ayo kita berangkat"
Rey membuka kan pintu kamar, ia lekat menatap rena,
"apa sih? ada yang salah ya? " tanya rena?
Rey malah mendekat, menyimpan kedua tangan nya di pinggang sang istri, perut nya menempel pada perut rena yang besar itu,
"kamu sangat cantik, dan terlihat sexy.. " Rey mengedipkan kedua mata nya, rena tertawa,
"pipi mu semakin berisi, tapi aku suka, itu membuat ku jadi nyaman memainkan nya"
"ayah apa an sih" rena mendorong dada suami nya pelan, Rey malah bersandar di bahu nya,
"ayah.. ayo.... " Nino menggerutu, juliana dan rakha sudah pergi siang tadi, mereka sudah berkemas, Al meminta anak anak nya untuk di bawa pulang ke apartemen nya,
"huft, security mu mengganggu saja"
Rey menggerutu,
rena malah tertawa, "lagian, mau berangkat gombal"
"aku gombal cuma sama kamu" ucap Rey menggandeng tangan rena,
bi asih dari arah dapur melihat pasangan muda itu, ia tersenyum senang,
setau nya, Rey dan Rena jarang sekali bertengkar, mereka tampak harmonis, ke duanya pun senang bercanda..
Rey memakaikan sabuk pengaman, sambil menatap wajah istri nya, ia masih senyum senyum ga jelas,,
"ayah... " rena protes, ia sedang merasa sesak dengan tubuh nya sendiri dan kini Rey malah lanyah lenyeh ga jelas,
mereka akan langsung ke apartemen Al, bunga sudah se jam yang lalu sampai di sana,
Rey memperhatikan istri nya rena terlihat diam saja, sangat aneh bagi nya,
"sayang kamu pucat.. " ucap Rey
rena mengusap dahi nya, ia merasa berkeringat,
"perut ku ga nyaman yah"
Rey memelankan laju mobil nya, ia menepi.
"apa mau ke RS.. ? β
" engga yah, aku ga apa apa"
"hey berhenti bilang ga apa apa, wajah kamu pucat"
"tapi memang ga apa apa" jawab rena pelan, ia mengusap perut nya
Rey mengeluarkan HP di saku celana nya
"hallo dok, istri saya mengeluh tidak enak perut"
rena melotot, Rey menelpon dokter kandungan nya,
"baik dok" jawab Rey, dan langsung mematikan sambungan telpon nya
"kita ke RS" Rey langsung menyalakan mesin mobil nya,
"ayah.. kita punya janji, dan aku ga apa apa"
__ADS_1
"aku ga percaya sama kamu"
wajah Rey serius,
"kamu sering bilang ga apa apa"
Rena diam, menyandarkan tubuh nya pasrah, wajah nya berbalik, menatap ke luar mobil.
Rey tau itu istri nya marah, rena selalu diam kalau marah.
melanjutkan perjalanan, namun Rey tak jadi putar arah, namun ini jalan lurus arah ke apartemen, sesuai tujuan pertamanya,
rena melirik suami nya, Rey tidak menghiraukan itu, "maaf aku cuma mau kasih hadiah buat bunga, bukan kah Al bilang akan membawa mereka ke Singapura"
Rey luluh, ia mengangguk,
"jangan lama lama di sana, kita harus ke RS"
kini rena yang mengangguk,,
Keadaan di RS sudah rusuh, bagaimana istri dari pemilik RS d kabar kan mengeluh, nyonya nya sedang hamil besar dokter saran mengecek prediksi lahir putra ke dua rena yang berarti se minggu lagi dari hari ini.. itu hanya prediksi, bisa maju malah mundur waktu kelahiran nya,
ruang bersalin sudah di siapkan.
dokter sarah sebenar nya sedang libur bertugas, tapi mendapat telpon langsung dari tuan nya ia ngebut menuju RS menyiapkan semua nya,
Rey terus memperhatikan istri nya, bukan karna lebay, ia punya ketakutan menghadapi persalinan, trauma akan bunda nya Nino dulu..
mereka sampai di parkiran apartemen Al, Nino sangat antusias, Rey membuka kan pintu mobil untuk istri nya, membuka lagi sabuk pengaman, rena menggenggam tangan suami nya sedikit lebih kuat,
"sayang... " Rey memperhatikan istri nya ada yang tidak beres pikir nya,
rena tertawa kecil,
"aku susah bangun yah, sesak.. " seketika membuat Rey lega sedikit.
"mau aku gendong? β
dengan susah payah ia keluar dari mobil,
sebenar nya ia merasa sedikit mulas, mungkin hanya ingin buang air.. nanti saja pikir nya, ia akan ikut ke toilet di apartemen Al
mereka menaiki lift, sampai di depan apartemen Al, Rey memencet bel, yang tak lama langsung di buka oleh ana...
" ayah... " ana memeluk Rey, dan bergantian dengan rena,
"sayang, apa kamu suka? " tanya rena
"suka bunda... " jawab ana ceria
Al datang,
"hey ayo masuk kenapa di sana saja"
rena malah terdiam.. genggaman tangan nya menguat di tangan Rey, rena memberikan kado nya pada Al..
"maaf Pak, ini hadiah untuk bunga, seperti nya aku harus ke RS"
Rey mendekat,.
"ayo.. " kata rena, " aku mulas mungkin kontraksi"
Rey menitipkan Nino pada Al, rena bahkan tidak bertemu dengan bunga, karna bunga sedang di kamar mandi,
Rey tidak banyak bicara ia panik, ia sangat gemas pada istri nya yang terlihat tampak tenang,
mereka kembali turun,
"pelan pelan yah.. "
"aku panik" rena melihat itu di wajah suami nya, ia tersenyum
__ADS_1
"sayang jangan begitu, aku tidak suka" Rey protes rena terus saja tersenyum
cepat cepat memasangkan lagi sabuk pengaman pada istri nya, rena kini menegang, ia takut suami nya panik dan melajukan mobil dengan cepat
"ayah santai saja, kalo ngebut aku mau turun"
"bagaimana bisa santai, kamu akan melahirkan"
rena hendak membuka sabuk pengaman nya,
"iya iya sayang, aku pelan... oke" Rey tau semua istri nya mengerti dia ketakutan, Rey menyesal kenapa tadi ia ingin sekali membawa mobil nya sendiri tanpa sopir,
rena terlihat menarik nafas dalam dan mengeluarkan lewat mulut nya dengan kasar, kontraksi nya semakin menguat, namun dia tidak bisa mengeluh dia takut suami nya kehilangan kendali,
"sabar sayang" ucap Rey, rena menggenggam sabuk pengaman di depan dada nya
sebisa mungkin hati dan bibir nya merapalkan doa, jika benar memang waktu nya ia melahirkan, semoga semua nya berjalan lancar, Rey menginjak gas nya sedikit dalam, rena tidak protes kali ini,
"ya Allah lindungi kami" Rey bergumam, fokus pada kaca spion mengamati sekitar
mereka berhasil sampai di RS, rena merasakan sesuatu membasahi baju belakang nya, mata nya memanas,
Rey sudah di samping nya,
"tolong gendong aku yah, aku ga kuat"
dokter sarah yang sudah siap dari tadi menghampiri dengan seorang perawat, ia membawa kursi roda
"tuan, simpan nona di sini" kata sarah,
"biar saya yang mendorong" ucap Rey
"seperti nya ketuban ku rembes dok"
"apa sudah kontraksi? "
rena mengangguk, mereka membawa rena langsung ke ruang persalinan yang sudah siap,
di RS tampak menegangkan, beberapa orang memperhatikan mereka tidak mengetahui kejadian apa yang berlangsung,
sarah menyiapkan infus, rena bangun dari kursi roda, berhadapan dengan suami nya..
"aku harus bagaimana? " tanya Rey
rena lagi lagi tersenyum.
"temani aku di sini oke"
"pasti sayang"
Rey membantu istri nya berbaring, sarah akan memeriksa pembukaan, Rey memperhatikan semua gerak gerik nya,
"apa kontraksi lagi nona? "
"iya, tapi tidak se perti tadi" jawab rena ia masih terlihat tenang,
"bilang kalo sakit, jangan terus bilang ga apa apa" Rey protes lagi,
"sudah pembukaan 4, kita pantau terus ya"
Rey mengangguk, tangan istri nya telah terpasang infus
"tuan permisi, bisa kita bicara" Rey menegang, ia takut terjadi sesuatu, kenapa sarah tidak mengatakan di sini saja,
rena mengangguk,
"tenang lah yah, di sini banyak perawat, bicara lah dengan dokter sarah"
Rey melepaskan genggaman tangan ya, mencium kening dan pipi istri nya,
"aku ga akan lama" ucap Rey
__ADS_1
rena mengangguk, ia tidak mau berpikir aneh aneh