
"jelas itu urusan ku" ucap Nino marah..
lelaki itu terus meracau, Nino maju selangkah demi selangkah.. July menggelengkan kepala nya, _please Nino jangan, yang mereka mau aku biarlah aku saja yang mereka bawa_
"jangan.. " July berbisik
"selangkah lagi kamu maju, aku tidak main main dokter... " ucap lelaki yang menyandra July,
beberapa orang yang berada di sana ikut ketakutan,
lelaki itu lengah, ia melupakan Rio yang lolos mendekati nya,
"bughhhh"
satu pukulan keras menggunakan kursi di kepala lelaki itu,
"ahhh" ia melepaskan July, memegangi kepalanya yang sakit, dan terjatuh.
Rio mengunci tangan nya, beberapa pengunjung juga membantu nya,
July lari pada Nino, ia memeluk nya..
"aku takut.. " July menangis
"syuttt tenang sayang, sudah aman.. " Nino mengusap kepalanya. menenangkan July, tubuh July terasa gemetar..
"aku bawa dia ke kantor polisi tuan" ucap Rio.
"pergilah hati hati.. "
Rio di bantu pengunjung dan beberapa Staf resto membawa perusuh itu ke kantor polisi,
mata Nino dengan lelaki itu sempat saling pandang, Nino sama sekali tidak mengenal nya, lelaki itu malah menyampirkan senyum mengejek dengan mata penuh amarah..
"aku mau pulang.. Edward lagi jemput papah di bandara, ayo kita ke apartemen" ucap July gemetar
"ayo sayang.. " Nino menuntun nya,
setelah membayar makanan yang sudah di pesan mereka meninggalkan resto tanpa memakan makanan sedikit pun,
di mobil,
Nino melihat July diam saja, ada air mata menetes di sela lamunan nya, Nino untuk sementara tidak mengganggu nya, biar July menenangkan pikiran nya sendiri..
sesampainya di apartemen, Al belum datang, Nino memberikan July minum, dan membantu nya berbaring di sofa,
Nino hendak beranjak.. namun July menarik kemeja belakang nya,
"jangan kemana mana aku takut"
Nino duduk di bawah sofa yang July tiduri,
"oke aku di sini"
July menggenggam tangan Nino, membawa nya ke pipi,
Nino mengirimkan pesan pada papah Al,
"ed, cepat ke apartemen, July di sana terjadi sesuatu"
"baik pah.. " jawab Edward
"apa yang terjadi pah? " tanya Rakha cemas
"Nino bilang ada lelaki menyandra July di resto, tapi sudah di bawa ke kantor polisi, sekarang July dan niko di apartemen"
"ya Allah, apa lagi" ucap Rakha..
***
"sayang, kamu kenal lelaki itu?? " ucap Al sesampai nya di apartemen
"engga pah, makanya July takut July tau parfum yang dia pakai"
"maksud nya"
"awal nya July ke toilet, dan Nino ke mobil karna ada yang ketinggalan, waktu July kembali ke meja. pelayan bilang kalo ada lelaki nunggu di atas, july pikir itu Nino kan?? makanya July ke atas.. "
"July nunggu Nino, tiba tiba ada yang merangkul July di leher, July tau itu bukan Nino, July langsung ketakutan"
__ADS_1
"darimana kamu tau kak? “ Tanya Rakha..
" aku liat jam yang dia pakai, itu bukan jam nino, sama parfum yang aku cium bukan parfum nino, kakak langsung dorong dia "
"ya sudah, kamu istirahat dulu ya..
semua sudah baik baik saja July" ucap Al
July mengangguk, ia mulai tenang..
"kamu bisa kenal aku dari parfum yang aku pakai?" tanya nino
"aku hafal wangi kamu Nino, makanya aku ga kenal sama parfum orang lain"
hati Nino menghangat, jujur dia saja belum hafal betul parfum yang July pakai,
Nino memeluk July
"terimakasih"
"aku udah nyaman di sini, aku ga mau nemu tempat lain" July mengusap dada Nino,
Al membiarkan Nino dan July berdua..
ia meminta Rakha tetap tinggal di apartemen Al akan menemui Frans dengan Edward,
Nino perlu tau siapa lelaki itu, ia menelpon Rio,
"aku telpon Rio dulu sebentar ya? “
July mengangguk,
" hallo, bagaimana Rio? "
" lelaki itu hanya bilang tau nona July belum lama ini, dia menyukai nona, makanya melakukan itu tadi"
July menengadahkan wajah nya melihat Nino, ia ingin tau kabar dari Rio,
"aku ga yakin, selidiki lagi ok"
"baik tuan"
"apa katanya? " July bertanya
Nino menarik nafas dalam dan menghembuskan nya pelan,
"dia menyukai mu, dia bilang memang baru kenal kamu" ucap Nino
"tapi aku ga kenal dia" July jelas tidak suka itu.
"ya dia penggemar mu" ucap Nino tersenyum.
"jangan senyum begitu, aku ga suka"
"ya aku harus apa?? ternyata saingan ku banyak.. "
Nino mengeratkan pelukan nya..
terlintas di pikiran nya untuk menyadap HP July, Nino punya feeling bahwa ada yang July sembunyikan dari nya,
untuk keamanan ekstra July di minta Rey untuk tinggal sampai mereka menikah di rumah Rey, kejadian tadi siang membuat Rey dan Al memperketat penjagaan.
undangan akan di sebar, persiapan pernikahan semakin sibuk saja.. Nino juga sudah mulai cuti karena terhitung hari ini, tiga hari lagi menuju pernikahan..
July dan shanum menerima dus yang berisi sovenir untuk tamu undangan, berbagai macam barang lucu ada di sana.
mulai handuk kecil, bantal mobil dll,
Rena terus saja menerima telepon dari beberapa orang, menanyakan ini itu, July membawakan nya jus alpukat kesukaan Rena,
"jangan ada kesalahan sedikit pun. kamu tau aku membayar kalian mahal, tidak ada toleransi untuk kesalahan" Rena seperti marah pada seseorang,
setelah mengatakan itu ia mematikan sambungan telpon nya,
Rena terus menggerutu sambil memeriksa pesan masuk,
"bunda... " Rena menoleh, July ada di belakang nya membawa sesuatu di tangan nya..
"sayang apa itu?? “
__ADS_1
" ini jus alpukat, bi sari bikin buat bunda.. "
"MasyaAllah, kalian baik sekali, bunda memang sedang haus.. ayo duduk.. "
Rena mengajak July duduk di bangku, July memberikan gelas nya
"kamu ga bawa jus? “
" July sudah tadi dengan shanum"
"baiklah.. bunda minum ya... bismillah"
Rena menyeruput jus nya
"hmmmm, alhamdulillah nikmat banget"
July memandangi calon mertua nya itu, bukan.. Rena adalah bunda nya dari dulu, bukan mertua nya.
"bunda, makasih ya.. "
"buat apa sayang?? "
"bunda pasti lelah.. " July menunduk ia nampak sedih,
"Ana.. jujur bunda lelah.. seminggu ini bunda ga bisa tidur nyenyak.. tapi bunda senang, bunda bahagia sayang, apa pun untuk kalian,
bunda, ayah dan papah mu pertama kali menggelar acara pernikahan untuk anak anak kita"
"makasih banyak bunda, July sayang sama bunda, sayang kalian.. "
Rena merentangkan tangan nya, mereka berpelukan,
"bunda juga sayang kalian.. ga ada menantu, kamu sama Nino, sama sama anak bunda" Rena mengusap punggung July,
"jangan pernah sungkan, jadikan bunda teman mu, cerita apa saja yang kamu mau ceritakan, shanum juga begitu"
mereka merenggangkan pelukan,
"apa dulu bunda ngerasain nervous? “
" itu pasti sayang, sebelum ijab kabul di mulai, belum plong rasa nya" Rena tersenyum.
"bunda pasti bahagia, semoga aku sama Nino juga begitu.. "
"kalian pasti bahagia, bunda yakin,
kejujuran adalah kunci utama keharmonisan, kalau pasangan sudah mulai berbohong, akan mulai ada masalah, jadi saling terbuka lah walaupun pahit"
July terdiam,
_ apa aku harus bilang sama Nino Hans mengirim pesan, tapi aku takut Nino marah dan melakukan sesuatu, aku ga mau ada apa apa dengan pernikahan kita _
"An... " Rena mengusap lengan nya
"ah.. iya bun.. " July gelagapan,.
"kok ngelamun"
July tersenyum.
"maaf ya bun, pikiran July ga tau lagi kemana.. "
Rena tertawa,
"ayo sana tidur.. kamu harus cukup istirahat supaya nanti aura wajah kamu keluar"
July tersenyum lagi, ini memang sudah malam,
"kunci pintu kamar kamu Ana, bunda mau suruh bi sari jaga ketat sampai malam pernikahan mu"
ucap Rena,
"emang kenapa bun? " tanya July polos.
"memang bunda ga tau kemaren Nino ketok ketok kamar kamu, mau apa coba"
July tertawa,
"July ga denger bun, kayanya udah tidur.. pas pagi aja buka pesan.. Nino kirim stiker manyunnn banyak banget"
__ADS_1
"dasar emang anak nakal" Rena merasa gemas pada putra nya itu..