Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)

Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)
marah nya July


__ADS_3

July menemukan beberapa botol air mineral di mobil Yogi, ia membawa nya untuk Nino,,


mereka belum pergi, Nino sengaja menunggu Frans datang untuk menyelidiki rumah ini,


"minum ya..? ayo kita pulang kamu harus di bawa ke RS Nino "


Nino menggeleng, July membantu nya minum,


"tunggu frans dulu.. "


July menyingkap kaus yang Nino pakai ia sudah seperti dokter saja memeriksa Nino,


"banyak sekali luka nya. apa yang mereka lakukan?? “


" aku ga ingat sayang" Nino meringis lagi saat July mengusap lebam di bahu nya,


"oke kita nunggu Frans, tapi setelah itu kita ke RS ya??? “ Nino mengangguk,


" bagaimana kamu tau aku di sini Ana?"


"seseorang mengirim pesan Nino"


"kamu sendiri?? "


July mengangguk,


Nino menatap nya, July memang susah di tebak, dia cukup berani datang, bagaimana jika orang orang jahat itu masih di sini, dan melukai nya juga..


July bangun, ia mendengar mobil datang, Nino membuang pandangan nya saat melihat pistol tersangkut di pinggang samping July,


_bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mu Ana, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri_


July tampak kacau, ia memakai kembali kemeja yang ia pakai mengusap darah Nino..


Nino mengangkat tangannya seperti meminta..


"apa kami perlu sesuatu??" tanya nya pada Nino


"berikan pistol mu Ana"


July terdiam, Frans Edo bahkan ayah nya Rey datang, Rey melihat July berdiri menatap nya, mata July memanas lagi,


Rey melihat nya, ia menghampiri July dan memeluk nya..


"yah.... " July terisak.. Rey menenangkan nya mengusap kepala dan pundak nya


"semua baik baik saja Ana" ucap Rey, July mengangguk...


Rey melepaskan nya, "kamu sangat hebat.. " puji Rey, July mengusap airmata nya,


Rey beralih pada nino yang sedang mendapat pertolongan dari Edo,


Nino tersenyum,


"i'm oke yah.. "


Rey mengangguk, mengusap kepala putra nya...


"ayo kita pulang, biar Frans membereskan semua "


Rey memberikan jaket nya pada July,


"ganti baju mu, pakai jaket ayah di luar dingin.. "


"maksih yah" Rey tersenyum pada nya..


mereka bersiap, July memberikan kunci mobil Yogi pada Frans. seseorang akan membawa nya pulang nanti, Edo menjadi sopir mereka malam ini,


"maaf om merepotkan" ucap Nino pada Frans..


"hey tuan kecil, sudah tugas ku oke" Nino mengangguk, Edo memapah nya untuk sampai mobil.


"hati hati, yang lain juga harus tetap waspada" ucap Rey, Frans mengangguk


"tentu Rey, pulang lah Nino perlu pertolongan"

__ADS_1


mereka sudah siap berangkat,


Rey mendapat telpon dari istri nya, ini hampir jam 1malam ia melirik Nino,


"apa bunda tau yah?? "


Rey mengangguk,


"assalamu'alaikum"


"waalaikumsalam, ayah bagaimana, sudah ketemu? “


" sudah sayang, kami perjalan pulang,


kamu tinggal di rumah,


kita akan ke RS untuk Nino "


"ya Allah, terimakasih" Rena menangis "aku mau ke RS aku harus lihat Nino"


"sayang dengar, Nino tidak apa apa, besok saja pagi ke RS ya ini sudah malam,..? “


" kalau tidak apa apa kenapa di bawa ke RS? “


tanya Rena kesal


"hanya periksa saja oke, menurut ya?? “


Rena terdiam,


" baiklah... hati hati kalian... "


"pasti bunda... "


"entah berapa kali bunda dan Al menelpon" ucap Rey, papah nya pasti sudah tau, ayah Rey pasti menghubungi nya...


"kalian tidur lah, jika sampai ayah bangunkan... " ucap Rey pada Nino dan Ana,


Nino memberikan lagi tangan nya


July pasrah, ia menurut, Nino menitipkan pistol itu pada ayah nya, Rey tidak mengenali pistol itu, ia mendapatkan kedipan mata dari Nino, Rey cukup tau, ia diam..


"kemarilah... " ucap Nino meminta July memeluk nya, July menolak, selain tubuh Nino sakit, ia malu pada Rey,


"Ana... " panggil Nino


"kamu sakit, aku tidur di sini saja"


tanpa menjawab, July melihat tatapan Nino, ia mendekat, dan bersandar di dada Nino,


"tidur lah sebentar" bisik Nino,


Rey pura pura tidak melihat kejadian di belakang, untuk situasi seperti ini, Rey masih memaklumi adegan itu..


perjalanan hampir satu jam,


mereka telah sampai di RS, Farhan yang Edo hubungi berdiri di depan ruang IGD bersama beberapa perawat lain nya...


mereka langsung datang ke mobil, membantu Nino untuk turun..


Rey tercengang melihat siapa yang menghampiri nya, Rena memang paing tidak bisa duduk diam di rumah menunggu kabar nya, Rey menggelengkan kepala..


"kak... " Rena memeluk Nino, ia menangis


"maaf bikin bunda cemas.. Nino ga apa apa.. " Rena mengusap dengan hati hati wajah putra nya.. luka nya mulai membengkak,


"cepat obati... bunda tunggu di luar sama ayah "


Nino mengangguk, ia melirik July,


"pergi lah, aku tunggu di sini" ucap July


Nino di dorong Farhan menggunakan kursi roda menuju ruang IGD,


Rena menangis di pelukan July,

__ADS_1


mereka saling menguatkan,


"kenapa kamu sendirian ke sana Ana itu bahaya.. "


"mereka minta aku datang sendiri bunda"


"ya Allah.. kamu berani sekali sayang.. "


Al, Edward, rakha dan Rio datang, seketika RS tampak ramai, untung saja ini malam hari, jika siang, mungkin akan tambah rusuh.


"kamu ga apa apa July?? bagaimana Nino? “


" Nino di dalam, ia banyak luka.. " ucap July,


Al memeluk erat putri nya, bersukur karna mereka telah selamat dan pulang... July melepas pelan pelukan ayah nya, matanya tajam menatap Edward,


"benar kan ada sesuatu, kenapa kamu bohong? sejak kapan aku ngajarin kamu bohong ed?? '


Edward menundukan wajah nya, ia mengaku salah..


"aku ga percaya lagi sama kamu, pergi lah, mungkin kamu bosan jadi partnerku"


"kak maaf.. dokter Nino ngelarang aku ngasih tau kakak" Edward membela diri


" walaupun kamu tau itu sangat bahaya? Nino bisa saja mati di tangan anak buah Hans " July meninggikan suara nya...


Rey Rena dan Al melihat itu, bahkan rakha tidak berani mengatakan sesuatu kalau kakak nya sedang marah begitu..


Al menghadap Rey dan Rena,


"Rey maafkan putri ku"


"tidak apa Al, July pasti marah karna merasa di bohongi" mereka duduk di kursi panjang, biarlah July menyelesaikan masalah nya sendiri..


"dimana bom itu? " tanya July


"aku, Edward dan Rio membawa ny, tadi nya kita akan membuang nya jauh ke danau, tapi di perjalanan benda itu tidak aktif lampu nya mati"


Rakha akhirnya angkat bicara,


"pergilah, aku lagi males liat kamu" ucap July pada Edward,


Edward mengangguk, July memang harus di tinggalkan jika sedang marah begitu, nanti dia akan membaik sendiri nya,


Rakha mengikuti Edward, July pergi, ia perlu membasuh wajah nya yang begitu kacau,


"wanita akan marah kalau di bohongi, apa lagi menyangkut orang yang ia sayang" ucap Rena menatap kepergian July,


ruangan terbuka Farhan keluar menghampiri keluarga Nino,.


"tuan, dokter Nino sudah di tangani, ia tidak mau di rawat"


Rey menghembuskan nafas nya,


"biarkan saja, dia pasti tau harus bagaimana"


"baik tuan tunggu sebentar saya masuk lagi"


Rey mengangguk, Rena ikut masuk dengan dokter Farhan,


Rey mendekat pada Al, ia memberikan pistol July pada besan nya itu,


"putri mu sangat tangguh Al, aku salut pada nya"


"darimana pistol ini? “


" Nino memberikan nya padaku tadi di mobil"


"July akan begitu jika menyangkut orang yang ia sayang"


"jangankan July, aku dan kau pun akan begitu pasti nya kan?? “


" tapi dia perempuan Rey?? " ucap Al


"apa bedanya perempuan dan laki laki, aku pun akan mengajarkan bela diri pada shanum"

__ADS_1


Rey tersenyum memeluk Al, Al merasa lega, sejak tadi July marah pada Edward, Al takut Rey jadi tidak suka pada nya..


__ADS_2