
Nino memandang diri nya di cermin, baju nya penuh darah, ia membasuh tangan nya,
Mike datang membawakan baju milik nya untuk Nino pakai,
"thanks"
"kamu seperti sudah membunuh" Mike memindai baju yang Nino pakai,
Nino buru buru membuka nya
"aku pun berpikir begitu"
"siapa dia? apa kamu yang menabrak nya? "
"aku baru mengenal nya se malam, secara kebetulan, tapi saat tadi di jalan, ada kecelakaan, aku sedikit mengenali mobil nya, dan ternyata benar, wanita itu yang semalam"
"itu jodoh mu"
Nino menoleh pada mike yg tersenyum.
"aku ga mikirin itu, yang aku pikirin gimana cara ngasih tau keluarga nya"
"dia punya keluarga di sini? “ tanya mike
" mungkin, se malam dia di jemput seorang lelaki, tapi seperti nya bukan kekasih nya"
"dari mana kamu tau dia bukan kekasih nya? “
" ya terlihat saja. mereka mungkin malah seperti adik kakak"
Mike mengangguk,
"semoga cepat ada kabar tentang keluarga nya"
"ya... "
se orang polisi datang ke RS,
bertemu dengan Nino yang memang sedang menunggu di depan ruang oprasi
"dokter bagaimana kondisi nona july?" tanya si polisi
"belum ada kabar dari dalam sejak tadi"
"kami berterimakasih, anda sudah membawa nya,
ini tas nona july kami sudah menghubungi keluarga nya, adik nya akan segera datang"
"syukurlah, emhhh pak, apa bapak mengenal wanita itu? " tanya Nino penasaran
"kami melacak no kendaraan korban dan menemukan identitas,
July dan keluarga nya memiliki banyak usaha di sini, kami mengenal nya"
Nino mengangguk, ia mengerti, pantas saja dengan mudah July melacak identitas nya, pebisnis bisa dengan mudah melakukan itu, seperti ayah nya.
Nino harus melaksanakan tugasnya walaupun sudah sangat terlambat,
adik dari July, Rakha datang, namun mereka tidak bertemu.
"pah, kak July kecelakaan, dan belum keluar dari ruang oprasi, sudah dua jam... "
Al mencengkram bolpoin yang sedang ia genggam hingga patah,
mereka sedang dalam masalah dengan beberapa orang, tander yang baru saja di menangkan July, membuat se kelompok orang memiliki dendam, dan Al tau siapa mereka
"jaga kakak mu, papa tau apa yang harus papa lakukan"
"oke pah"
Nino bergegas menuju ruang perawatan milik July, seseorang memberi tahu oprasi sudah selesai dan July akhir nya sadar setelah 6 jam rakha menunggu.
Nino mengetuk pintu,
seorang lelaki yang malam itu menjemput July membuka kan pintu,
" apa ini kamar July? “
" iya dok, silahkan masuk"
__ADS_1
Rakha melebarkan pintu, dalam hati nya bertanya, ia seperti pernah bertemu dengan dokter ini dimana?
July terbaring lemah,
Nino mendekat, "hay"
July tersenyum walau masih samar
"kamu mengenal ku? “
ia mengangguk,
" aku takut kamu mengalami amnesia cenayang"
July meringis mendengar kata itu,
namun Nino malah tertawa,
"ini tas mu, HP mu rusak, dan ada di dalam"
"aku semalam berpikir, bagaimana bisa aku bertemu lagi dengan mu,
ya.. takdir mempertemukan kita, tapi aku harus begini" ucap July pelan
"benarkah?
aku melihat kamu begitu cepat melajukan mobil, dan melihat dua mobil lain nya di belakang kamu"
July dan rakha terdiam,
July belum bercerita apa pun pada rakha dia masih lemah.
"ya, mereka mengejar ku" ucap July
"dari mana anda tau dokter? tanya rakha penasaran"
"emh jadi begini,
aku juga sedang di perjalanan, awal nya melihat di spion, mobil di belakang ku sepeti ingin menyalip,
aku coba memberi ruang, karna aku pikir pasti ia sedang buru buru,
"lalu tak lama, dua mobil hitam seperti mengejar, dan beberapa menit berlalu,
jalan tiba tiba macet dan ya begitu lah, mobil mu sudah terbalik"
"dokter yang membawa kakak saya ke RS? “ tanya rakha
Nino mengangguk,
" kami sempat kesusahan mengeluarkan dia dari mobil, tapi syukur lah, bantuan begitu banyak"
"terimakasih" ucap July
"lagi lagi aku berhutang jasa pada mu" tambah nya
"eits, yang kemarin sudah lunas, kamu telaktir aku makan"
July tak tahan ingin tertawa,
bagi nya selain tampan Nino pria yang lucu, tidak seperti rakha adik nya yang kaku.
"baiklah, jam praktek ku sudah selesai, aku akan pulang, beristirahat lah"
July mengangguk,
rakha membuka kan pitu untuk Nino
ia mengulurkan tangan nya pada Nino,
"saya rakha adik nya July, saya sangat berterimakasih atas pertolongan nya dokter"
"tidak usah di pikirkan" Nino menjabat tangan rakha mereka saling melempar senyum.
"dokter" July memanggil nya, membuat Nino menoleh lagi
"terimakasih"
Nino tersenyum dan mengangguk,
__ADS_1
"semoga cepat sembuh"..
****
shanum menekuk wajah nya,
bagaimana tidak, om Edo mengikuti nya dengan Rifa ke kantin, membuat ia menjadi pusat perhatian satu sekolah,
namun tidak dengan Rifa ia malah terlihat cuek.
" om" panggil shanum
"iya non" Edo mendekat
"om ga pegel berdiri aja?"
"engga non"
"om ga mau pipis atau mulas gituh"
tanya shanum yang membuat Rifa tersenyum menutup mulut nya
"tidak non, non biasa saja, anggap saja saya tidak ada" jawab Edo membuat shanum tambah manyun.
"gimana pura pura ga liat, om segede gaban begituh"
yang di omelin cuek tanpa ekspresi,
shanum jadi merasa hidup nya tidak aman.. itu tujuan nya menutup identitas untuk hidup yang normal.
Edo tadi nya ikut masuk ke dalam kelas, berdiri di ujung ruangan seperti penampakan, itu malah menjadi keadaan jadi tegang, ibu guru yang mengajar pun merasa tidak bebas,
ketegangan melebihi saat ujian sekolah yang sedang di adakan..
namun shanum merajuk, meminta Edo untuk menunggu di luar saja, dia benar benar jadi tidak fokus.. teman yang biasa meminjam pulpen atau Tipe-X saja jadi enggan pada shanum.
selain lebih banyak kegiatan kini untuk kelas 3, akmal tambah jauh dengan shanum karna bodyguard yang tak jauh dari mereka,
Akmal merasa sangat senang, setelah pulang dari rumah shanum tempo hari,
ada paket untuk nya dari keluarga shanum, sebagai ucapan terimakasih karna Akmal telah menolong shanum di perkemahan,
sebuah sepatu yang Akmal tau harga nya tak akan bisa ia beli bahkan oleh tabungan nya selama 3tahun, awal nya Akmal enggan memakai nya, ia merasa tidak pantas, namun kebetulan sepatu yang ia pakai jebol,
ia terpaksa memakai nya, namun jelas ia merasa kurang PD,
Akmal baru akan beristirahat, memesan minuman dan makanan ringan seperti batagor untuk mengganjal perut nya,
tidak sengaja bertemu dengan shanum yang hendak pergi, ia telah selesai makan di kantin.
pandangan mata mereka bertemu, walaupun jarak mereka aga jauh,
Akmal tersenyum, shanum pun begitu,
"ehmmmm"
melihat adegan itu, si om langsung memberi kode, shanum langsung menunduk, namun tidak dengan Akmal
"shan, tolong bilang sama bunda kamu, makasih sepatu nya, ini sangat pas"
shanum salah tingkah, ia hanya mengangguk,
"nanti aku bilang ke bunda" shanum melanjutkan perjalanan nya
namun Akmal mengikuti nya dengan jalan mundur,
"kak.. " shanum berbisik
Edo langsung maju dan menahan dada Akmal untuk tidak bergerak lagi,
shanum panik, takut om Edo melakukan sesuatu pada Akmal
"nona silahkan kembali ke kelas"
"tapi biarin Akmal om"
"silahkan nona"
shanum terpaksa melanjutkan langkah nya, ia beberapa x berbalik untuk memastikan keadaan. namun syukurlah om Edo juga mengikuti shanum ke kelas.
__ADS_1