
di bantu perawat, Nino bersiap menggunakan baju khas oprasi berwarna biru, ia akan turun langsung menangani Amira,
Aldi terus memaksa untuk masuk, ia semakin gusar setelah tau Nino juga menangani istri nya,
pendarahan harus berhenti, darah cadangan sudah di siapkan, Amira harus melalui proses kuret, membersihkan sisa darah di rahim nya,
lampu ruangan oprasi menyala, aldi menunggu, bi yuni membawakan nya baju ganti,, namun ia tidak mau beranjak sedikit pun jauh dari istri nya...
bayangan kekerasan yang ia lakukan pada Amira muncul satu persatu,
ia menyayangi istri nya, terlebih saat kemunculan Nino, Aldi melihat Amira seperti nya masih memiliki perasaan pada dokter muda itu, Aldi takut kehilangan nya, ia mencoba melunakkan sifat nya agar Amira pun mau belajar mencintai nya, dulu
niat nya menikah karna menutupi kerewelan sang ibu tentang diri nya yang tak kunjung menikah padahal sudah di usia 30tahun, Aldi memang dingin pada wanita, ibu nya rewel karna ia harus menetap di luar negri, ia tidak bisa setiap hari memantau kehidupan putra nya, sang ibu takut, kalau putra nya ini memiliki ketertarikan pada pria lagi, itu jelas membuat Aldi marah, ia membuktikan pada ibu nya kalau dia tidak begitu,
Aldi menerima foto Amira dari sekertaris nya,
sekertaris nya itu masih memiliki ikatan keluarga dengan orang tua Amira, sehingga terjadi lah perjodohan itu,
awalnya Aldi memang tidak menyukai Amira, pernikahan nya terpaksa, di tambah Amira pernah berucap kalau ia pun tidak memiliki perasaan apa pun pada Aldi,
ini yang tidak di inginkan Aldi dalam pernikahan, selalu ada konflik yang membuat lelah batin, ia sering bertukar pikiran dengan teman teman nya.. makanya ia memutuskan untuk melajang saja, tenggelam dalam pekerjaan di setiap waktu nya.
entah sejak kapan perasaan nya mulai muncul, namun ia malu untuk mengakui pada Amira,kemunculan Nino membuat nya berani mengungkapkan perasaan nya,
ia salut pada Amira, sekeras apa pun ia pada nya, Amira menerima nya.. walaupun selalu berwajah takut jika mereka berdekatan,
Aldi mencoba.. terus mencoba memperbaiki diri nya, ia tidak mau kehilangan istri nya,
rasa sesal nya terus berdatangan, ketika untuk pertama kali nya ia melihat tubuh sang istri, begitu banyak bekas luka yang Amira miliki karna diri nya, sejak itu, ia berjanji pada diri nya sendiri untuk berlemah lembut, ia sudah tidak pernah memukul Amira lagi sejak malam itu, jika ia merasa emosi karna sesuatu, aldi memilih tenggelam di ruang kerja nya, ia takut kelakuan nya kumat lagi, dan itu akan menyakiti Amira,
ia sedang berusaha membangun kepercayaan Amira untuk nya,
"tuan, apa tuan tau non Amira hamil?? “
suara bi yuni membuyarkan lamunan nya,
Aldi menggeleng lemah
" bibi tau?? “
"non Amira sudah hampir se minggu ini muntah muntah, bibi curiga kalo non hamil, bibi membelikan nya tes kehamilan...
awal nya non ragu, tapi bibi bujuk akhirnya mau, dan alhamdulillah hasil nya positif, bibi sangat senang dengan itu,
lalu agus juga bilang, waktu dari swalayan agus nganter tuan ke pertemuan nya,,
non Amira menelpon kalo dia sudah selesai belanja, tapi waktu agus ke sana jemput, non udah ga ada, security sama ibu warung di sana bilang, kalo tadi ada yang pingsan di bawa ke RS,
__ADS_1
agus langsung ke sana.. dan sekitar se jam non Amira nelpon minta di jemput ke RS"
"kenapa kalian ga bilang?? “ tanya Aldi
" non ngelarang kami tuan, non bilang nanti akan ngasih tau tuan saat pulang,
malam juga, non nunggu tuan pulang sampai ketiduran di meja makan, non semangat sekali masak buat tuan, walaupun dia sambil muntah muntah karna bau masakan...
kami kira tuan udah tau non amira hamil"
Aldi ingat, malam ia tidak makan dan langsung tidur, ia sangat lelah, ada masalah di kantor yang membuat nya emosi,
Aldi tidak ingin terpancing di rumah.. seseorang melapor istri nya di bawa dokter muda itu, mantan kekasih nya..
aldi ingin ia tetap tenang walaupun hati nya terbakar cemburu,
"demi Tuhan aku menyesal bi,
aku buruk memperlakukan nya, tapi dia tidak pernah lalai dalam tugas nya sebagai istri, aku tau Allah menghukum ku, kenapa ga aku aja yang celaka"
"tuan, sudah jalan nya seperti itu,
non Amira ga pernah ngeluh, dia perempuan yang baik, dan maaf, jika bibi mendengar kegaduhan, bibi ikut ngobatin luka luka nya.. namun non slalu bilang baik baik aja, non selalu tersenyum, bibi malah yang suka nangis"
Aldi menangis, ia tak malu menampakan ke rapuhan nya di depan bi yuni, bi yuni tau segala nya apa yang terjadi selama ini di rumah,
"kita berdoa semoga non Amira baik baik saja ya tuan"
"kalo aku tau dia hamil, aku akan senang sekali bi, aku ga ngebayangin hal itu sebelum nya"
Aldi terdiam, melirik lagi pada lampu di atas pintu yang masih menyala, Aldi bangkit dari duduk nya ia gelisah,
"dok detak jantung nya sangat lemah" ucap dokter sonya pada Nino
_ Amira kamu pasti kuat, ayo kita hidup bahagia setelah ini, aku akan membahagiakan mu, akan aku tebus waktu yang sempat aku buang, _
dokter sonya sempat melirik Nino yang tidak menanggapi ucapan nya,
Nino menangis dalam diam, sonya berpikir siapa wanita yang sedang mereka tangani ini, seperti nya memiliki kedekatan dengan sang dokter.
"dokter.. "
sonya memanggil nya lagi, dia menggeleng lemah,
"pasien sudah tidak ada dok"
"ga mungkin dok, ayo kita belum selesai"
__ADS_1
Nino mendengar nada datar dari mesin pendeteksi jantung, ia seketika limbung,
"Amira ini ga mungkin kan?? “ Nino terus bergumam
aku ga menginginkan anak ini Nino,
dia membuat kami semakin terikat,
aku ga bahagia,
aku mengharapkan perceraian,
perasaan ku udah mati no, bahkan aku ga tau dengan perasaan ku sendiri.
Nino mudur,menabrak rak besi di belakang nya,
ia kalah oleh cinta nya, tubuh nya merosot terduduk di lantai, menyimpan wajah nya di atas lutut, Nino menangis,
"Amira.... "...
bunyi alat itu masih terdengar, dokter sonya menatap Nino, mereka membersihkan dan merapihkan peralatan operasi,
" dokter maafkan saya, pasien sudah rapih dok"
Nino seperti syok, sonya menyentuh bahu nya,
Nino mengangguk, ia mencoba untuk bangun, dari jarak nya berdiri, ia melihat amira sudah terlepas dari alat alat nya
"jadi hanya itu perjuangan kamu??,
aku tau kamu bohong bilang udah ga sayang sama aku amira, aku tau kamu bohong,
ayo hidup bersama, aku janji akan bahagiain kamu"
Amira tidak bergerak, Nino berlutut, menggenggam tangan nya yang dingin,.
"maaf untuk semua nya, pulang lah, aku kalah amira, aku tau kamu lelah, istirahat lah dengan tenang"
untuk terakhir kali nya, ia mencium tangan Amira,
sonya menangis, entah apa yang terjadi di antara mereka, ia menyeka air mata nya
"dok, kita harus kasih tau keluarga nya"
Nino mengangguk, sonya membantu nya untuk bangun, perlahan Nino melepas genggaman tangan nya, menatap lagi wajah yang sudah memucat itu,
Nino tak akan lagi melihat nya, setelah ini pasti ia akan di bawa keluarga nya.
__ADS_1