
"sudah dua tahun Amira, apa kamu sudah memiliki anak??“
Nino menatap kalender meja di hadapan nya, ia menunggu Farhan selesai praktek,
kebetulan, ia juga ingin menanyakan sesuatu tentang Amira,
" Far, tadi, temen aku ke sini untuk berobat"
"oya? siapa nama nya? “ tanya Farhan antusias,
" Amira "
" kebetulan aku ga hafal, tadi cukup banyak pasien"
"iya aku tau, kalau boleh, aku mau tau, dia kesini untuk apa, dan sakit apa.. karna keliatan nya lebih kurus dari terakhir kita ketemu"
"oke, sebentar, aku minta suster buat bawa datanya" Farhan tersenyum, memberikan tugas kepada suster jaga yang menemani Farhan saat tadi,
berkas telah ditangan, Nino sedikit cemas, karna melihat luka lebam di bibir Amira, semoga dugaan nya salah..
"ok, ini data nya" Farhan membuka berkas.
"usia nya 24 tahun jalan, dia mengeluh pusing dan mual dok"
"lalu"
"ya aku ingat, karna dia sudah menikah, aku sarankan untuk tes urine, siapa tau hamil kan? " tapi dia malah tersenyum, dia bilang dia ga mungkin hamil"
Nino mengerutkan kening nya,
"lalu apa hasil diagnosa? “
" waktu suster mau tensi, di lengan nya banyak luka lebam, ungu kebiruan, dia juga meringis,
waktu aku tanya, dia katanya jatuh"
"di sudut bibir nya pun ada luka" tambah Nino
"betul dok, aku pun menanyakan hal itu, dia tetep bilang mungkin efek jatuh, aku tanya jatuh dimana? ko sampai begini? "
"apa katanya? “ tanya Nino
" dia bilang di tangga rumah nya, tangga nya dari tembok"
Nino menarik nafas nya dalam..
"untuk sementara aku diagnosa dia lambung, karna pas aku periksa perut nya itu kembung dan keluhan lain nya"
"apa dia isi no HP nya? “
__ADS_1
" ada dok, ini data pasien "
Nino membuka data itu, pikiran nya berkelana kemana mana
_ semoga pikiran ku salah Amira semoga kamu baik baik aja_
**l
mendapatkan no HP Amira, Nino tidak bisa menunggu untuk diam saja, ia mengetik pesan
"assalamu'alaikum, Amira ini aku Nino" pesan langsung terkirim, namun tidak langsung di baca. Nino tidak mengirimkan pesan apa apa lagi, biar yang itu saja dulu Amira balas.
menunggu balasan pesan Amira yang tak kunjung di balas, Nino telah menyelesaikan jam praktek nya.. dan ini hampir magrib,
namun tidak di sangka, pesan nya dia balas juga
"Waalaikumsalam, iya dok, mohon jangan kirim pesan, biar saya nanti yang kirim pesan duluan"
Nino tambah penasaran,
namun ia tidak bertanya lagi, ia mengerti apa yang Amira katakan.
Nino pulang, jalanan sangat macet, bnyak penjajak makanan sudah standby grobak di pinggir jalan menjelang magrib,
Nino mencari makanan yang mungkin menggugah selera, matanya mencari cari,
"mungkin itu suami nya" ucap Nino, Nino terus memperhatikan nya, si lelaki itu menarik tangan Amira sedikit kencang, terlihat Amira mengatakan sesuatu lalu memegangi tangan nya, dan mereka masuk ke sebuah mobil di depan.
keadaan seperti itu seperti tidak lazim, Amira seperti tertekan, namun Nino bisa apa? bertanya pun seperti nya kurang tepat.
rasa penasaran nya memuncak, entah mengapa ia begitu saja mengikuti mobil yang Amira tumpangi,
sampai mobil nya memasuki kawasan perumahan cukup elite, Nino tetap mengikuti nya
mobil Amira melambat, dan berbelok masuk ke sebuah rumah, Nino bisa melihat dari jarak aman lelaki itu turun, namun Amira tidak,
tak lama lelaki itu membuka pintu sebelah nya, menarik Amira dengan paksa, membuat Amira terhuyung hampir jatuh,
Nino memfokuskan mata nya, si lelaki terlihat marah, dan Amira ke takutan bersandar ke mobil.
ini tidak bisa di biarkan, ini kekerasan.
suami Amira mengangkat tangan nya hendak menampar, Amira sudah menghindar membalikan wajah nya ke lain arah,
namun si suami kaget, seseorang menahan tangan nya, Amira pun perlahan membalikan wajah nya merasakan kejanggalan karna suami nya tak kunjung mendaratkan pukulan seperti biasa..
suami Amira murka, lelaki ber jas putih di samping nya ini berani berani nya menahan tangan nya,
Nino dengan tajam menatap lelaki yang menurut nya tidak gentleman itu, ia berani pada yang lemah.
__ADS_1
"lepas" Aldi, mengatakan nya dengan marah
Nino melepaskan tangan nya,
"jangan pernah memukul perempuan, kamu seperti bukan lelaki saja" ucap Nino
Aldi melangkah maju, mendorong bahu Nino sedikit keras,
"apa urusan kamu? dia istri ku, dia hak ku"
Nino tersenyum,
"bukan begitu memperlakukan istri mu, terlebih ini di pinggir jalan jadi konsumsi publik"
keadaan menegang, amira tidak bisa diam saja, ia melerai, memegangi tangan suami nya ia menengahi,
"pak dokter saya mohon, tinggalkan kami, saya ga apa apa" ucap amira menatap mata Nino memelas, Nino tidak bisa melihat nya begitu, ia masih menyayangi wanita di depan nya ini
"kamu mengenal nya hah? " Aldi mencengkram lengan Amira dengan kuat sampai dia meringis
"maaf mas, dia dokter di RS tadi aku cek lambung" suara Amira jelas terdengar bergetar ia ketakutan,
"mas sakit" kata Amira pelan, Aldi semakin kuat mencengkram lengan nya,
"lepasin Amira dia kesakitan" ucap Nino maju hendak menarik tangan Amira,
namun Aldi lebih cepat, ia menggeser Amira hingga jatuh dan langsung mencengkram kerah baju Nino
"saya tegaskan sekali lagi dia istri saya dokter jangan ikut campur urusan kami" mata nya sangat memancarkan kebencian pada Nino,
Nino bisa melihat itu, Nino menolehkan wajahnya melihat kondisi Amira, namun Aldi tidak Terima istri nya di lirik lelaki lain, ia langsung bertindak tanpa Nino sangka
bugggghhh, satu pukulan mendarat di pipi Nino, Amira tidak bisa diam melihat itu, ia bangun dan memisahkan kedua nya
"stop mas stop aku mohon.... " Amira menangis, Aldi melepaskan Nino, Amira mendorong pelan dada Nino untuk menjauh
"maaf.. " ia sempat mengatakan itu dengan berlinang air mata, sebelum tangan nya Aldi tarik lagi. Aldi membawa Amira untuk masuk ke rumah nya dengan buru buru,
Nino hanya bisa memandang mereka tanpa melakukan apa apa,
Amira tidak menoleh sedikit pun pada Nino, sampai mereka masuk ke rumah, Nino jelas melihat Aldi mendorong tubuh Amira untuk masuk ke rumah nya,
Nino pun pergi, masuk kembali ke mobil nya, ia marah, memukul stir dengan kencang,
kepala nya ia sandarkan di sana, hati nya hancur melihat wanita yang masih ia sayangi mengalami hal itu,
"maaf Amira, aku ga bisa ngelakuin apa apa "
Nino menatap lagi rumah itu sebelum ia pergi pulang, hati nya begitu sakit, ingin sekali ia membawa Amira pergi, tapi ia tau itu tak boleh, Amira istri orang lain
__ADS_1