
Kini rumah adalah tujuan nya pulang lebih awal, merindukan bagaimana anak nya mengomel karna telat pulang, istri yang mengkhawatirkan nya jika ia tak memberi kabar ketika di luar kantor,
rey sangat beruntung, kehidupan nya kini terasa sempurna,
mobil rey telah masuk ke garasi depan rumah nya,
"ayaaaahhhhh" Nino yang sedang bermain scooter berhenti, meninggalkan scooter nya begitu saja, berlari pada sang ayah yang baru saja keluar dari mobil,
"aduhhh jagoan ayah, maaf ayah belom bisa gendong, kaki ayah belum kuat, peluk aja ya"
"iya ayah, ayah dari mana, Nino pulang sekolah ayah ga ada"
"ayah ada kerjaan sayang"
rey keluar mobil tanpa tongkat nya, Nino menuntun nya,
"mana bunda sayang? " tanya rey, Nino mengabaikan putri yang keluar dari mobil belakang, Nino belum mengerti apa yang terjadi pada tante nya itu
"bunda Sama oma di dalem"
rey mengacak rambut jagoan nya
"ayah... " rena memanggil nya, ia terkejut bagaimana suami nya berdiri tanpa tongkat, ia cepat berjalan menghampiri suami ny.
"bunda perhatiin jalan nya, awas jatoh" rey merasa ngeri sendiri melihat istri nya berjalan,
rena malah memeluk suami nya, menangis di sana
"ayah ga apa apa kan? "
rey tersenyum.
"seperti yang bunda liat, ayah gpp kan? "
rena merenggangkan pelukan nya,
menoleh ke belakang suami nya, putri di sana
"kakak" dia menangis, berhambur ke pelukan rena,
"sayang, kamu ga apa apa? "
__ADS_1
"engga ka"
rena memeriksa wajah adik nya
"ini kenapa? " rena menyentuh ujung bibir putri yang sedikit membiru
"aduhhh, jangan di pegang ka, sakit... orang jahat itu nampar putri"
rena bersedih, di peluknya lagi sang adik,
tak lama ia melepaskan nya,
"jadi ayah diem aja adek nya di tampar begini? "
rena menoleh pada suami nya, mata nya sedikit melotot, ini kesempatan diri membela diri nya sendiri, namun putri menyerobot nya, ia bermaksud membela kakak nya
"kak rey hebat kak, dia menembak penjahat itu dan hampir mati" putri sangat antusias menceritakan nya,
"apa??? " rena benar benar melotot, mendengar kata menembak, bukan kah suami nya sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu,
"ayah... ? "
mata rena berlinang, entah lah, sejak hamil dia jadi sensitif.
rena pergi begitu saja, meninggalkan rey dan putri
"kamu sih dek, kenapa bilang segala, kakak mu melarang kakak maen pistol lagi"
putri merasa bersalah,
"kan tadinya putri bangga kakak putri belain putri"
"hufffttt, ya sudah, ayo masuk, sana temui momi, kakak akan merayu kakak mu"
"iya kak, maaf ya... "
"iya tenang aja"
rey dan putri masuk, Nino terlihat bermain sepeda lagi dengan pengasuh nya,.
rey mencari rena ke kamar, tidak ada,
__ADS_1
"bunda... " pelan pelan, rey memanggil nya
"bunda sayang... "
tak ada sahutan, kamar mandi pun kosong,
"apa di atas?, aku belum kuat naik ke kamar" rey bergumam, ia berbalik menuju pintu namun ternyata rena di sana, ia baru saja akan masuk ke kamar, rey tersenyum.
"bunda dari mana, ayah cariin"
rey mendekat, dengan kaki yang masih tertatih
"mana tongkat nya? " rena bertanya dengan nada marah
"hehe, di mobil"
rey memeluk istri nya, rena tidak menolak, ia juga memeluk suami nya,
"ayah jahat"
"maaf ya, itu terdesak, orang itu hampir menembak fans, namun meleset, Yuda yang kena".. rena menjauh, melepaskan pelukan nya
" aku ga mau denger"
"ia sayang aku ga akan cerita, maaf ya"
"kamu tau aku takut, aku ga bisa bayangin kalo kamu kenapa napa rey" rena sudah menangis lagi,
"hey kamu tau aku jagoan"
"jagoan jagoan, jagoan juga kalo sudah waktu nya wafat ya wafat" rena benar benar sewot.
rey melipat bibir nya, rena begitu menggemaskan,
"jadi untuk apa tadi telpon terus nanyain kabar, kalo udah ada orang nya malah di marahin"
"baik lah, aku ga akan marah"
rena pegi begitu saja keluar kamar, rey bahkan kecolongan, ia tidak sempat mencegah istri nya pergi
"yaaahhh, dia benar benar marah" rey mendesah, menggaruk kening nya yang tak gatal
__ADS_1