
Nino bersiap, ia harus ke RS, jam praktek nya siang nanti, namun entah ia ingin pergi sekarang,
"kakak pulang jam berapa?? " tanya Rena
"sebelum magrib juga udah dirumah inshaAllah"
"baiklah hati hati di jalan ya.. "
Nino mencium pipi, dan tangan bunda nya.
melalui pintu belakang agar mudah sampai ke parkiran rumah nya, Nino pergi
di perjalanan ia melihat toko bunga, ia langsung berpikir untuk pergi ke pemakaman, tapi ia ragu, bisa kah ia kuat...
Nino akhir nya turun,
ini harus ia hadapi, membeli banyak bunga untuk di tabur dan bunga mawar utuh, Nino pergi ke pemakaman...
"se keras apa pun kalian mengejar kehidupan, garis finish nya adalah kematian... "
Nino memasuki kawasan pemakaman besar, ia meminta Edo untuk mengawasi rumah duka kemarin, sehingga Nino tau pemakaman Amira,
berat...
kaki nya berat untuk melangkah,
tapi ini harus ia lakukan untuk ikhlas...
"assalamu'alaikum Amira.. "
tanah itu masih basah, bunga masih terlihat segar memenuhi atas makam Amira karna pemakaman di lakukan sore hari,
Nino mengirimkan al-fatihah, karna hanya itu yang bisa ia kirimkan,
Nino menaburkan bunga, menyimpan mawar di atas pusara,
"berbahagialah di sana Amira.. aku akan selalu sayang, maaf atas semua yang terjadi padamu, maaf atas rasa sakit yang kamu rasakan"
Nino menunduk, menahan se kuat tenaga agar air mata nya tidak tumpah...
ia bangkit, menatap nama yang terukir di papan kayu, Nino masih belum percaya,
bagaimana ia menyaksikan betapa kuasa nya Allah tentang hidup dan mati manusia..
bunda nya benar.. kita semua akan merasakan mati, hanya waktu nya yang berbeda..
Nino berpamitan,
ia harus ke RS, begitu banyak tugas nya di sana.. mungkin ini cara efektif untuk cepat melupakan semua nya, tenggelam dalam pekerjaan.
***
Al melirik jam di tangan nya,,
putri nya belum selesai berdandan, dan ini sudah lewat maghrib,
"sayang ayo lah, apa semua aksesoris kamu pakai di kepala kamu, lama sekali" Al menggerutu,
tak lama July keluar kamar nya,
Al tersenyum puas pada putri nya itu, ia mendengar perkataan nya untuk berdandan sederhana.. karna keluarga Rey menyukai kesederhanaan..
"kamu sangat mirip mamah mu July" ucap Al,
"aku meniru gaya nya pah"
Al tertawa,
"ayo, jangan sampai keluarga Rey menunggu kita"
mereka tidak membuang waktu, berangkat ke rumah Rey dengan perasaan bahagia, Al punya misi mendekatkan putri nya dengan putra teman nya itu..
Nino pulang, memelankan laju mobil, untuk ber belok memasuki gerbang rumah nya, ia melirik kaca spion, se buah mobil mengikuti nya masuk..
Nino memarkirkan mobil nya, di susul mobil di belakang nya
dalam hati bertanya tanya.. siapa yang bertamu malam ini...
__ADS_1
Rey dan Rena keluar dari rumah nya.. menyambut kedatangan tamu malam ini.. mereka tidak menyangka, Nino akan datang berbarengan dengan Al, padahal Rena sengaja tidak memberitahukan Nino acara ini..
"itu Nino pah.. " ucap July
"kebetulan sekali ya? apa jantung mu berdebar?? " Al menggoda putri nya, ia membuka sabuk pengaman dan bersiap keluar
"papah apa an sih" July jelas sangat malu,
Nino keluar dari mobil nya, ia fokus pada tamu di samping nya,
"assalamu'alaikum" ucap Al
"waalaikumsalam, waah kebetulan sekali kalian datang bersama"
Nino tersenyum, melihat siapa yang datang
"om.. " Nino mencium tangan Al,
"MasyaAllah, kamu tampan sekali Nino, pasti banyak pasien yang antri minta kamu periksa" Al tersenyum mengucapkan nya.. ia mengusap pundak putra teman nya itu
_ ya, salah satu nya aku_ ucap July dalam hati, ia melirik Rena bunda nya..
"makasih om.. om bisa aja... " ucap Nino tersenyum
"yah, lihat July sangat cantik" bisik Rena pada Rey,
"apa mereka cocok?? " Rey balas berbisik.
"ya kita lihat saja.. " tambah Rena
Al melangkah menghampiri Rena,
sedangkan July bersama Nino masih di dekat mobil.
"apa kabar?? " tanya Nino,
"baik" July tersenyum.
"apa masih luka?? β
" untung nya engga, hanya merah saja"
Al, Rey, dan Rena memeperhatikan mereka, mereka tampak akrab,
"apa mereka saling kenal? "
tanya Rey pada Al,
"ya kita lihat saja... " jawab Al tersenyum penuh arti
"kau menyembunyikan sesuatu Al. "
"hahaaa, mari kita bahas mereka"
Rena merasa bingung dengan keadaan yang sedang berlangsung,
Nino mengajak July untuk masuk...
"ana... kamu sangat cantik sayang... "
July mencium tangan bunda nya, mereka berpelukan...
"bunda juga.. masih seperti dulu, July kangen bunda... "
Rena mengusap rambut nya yang panjang,
"maafin bunda ya sayang, bunda ga datang waktu mamah kamu meninggal"
July mengangguk,
"July ngerti bun, bunda sama ayah Rey pasti banyak yang harus di urus di sini"
Nino memperhatikan mereka,
"ayo kita masuk, masakan nya keburu dingin... " Rena menggandeng tangan July, memasuki rumah nya..
langsung berkumpul di meja makan..
__ADS_1
"bunda, maaf Nino mau mandi dulu ya, lengket badan"
Rey mendengar itu,
"makan dulu lah, om Al pasti sudah lapar"
"enak saja, jangan dengar ayah mu untuk yang satu ini Nino, sana mandi saja dulu, biar tambah tampan"
semua nya tersenyum mendengar itu,
tak terkecuali July, ia sering sekali membuang pandangan nya, agar semua tidak curiga kalau dia memperhatikan Nino,
Al menceritakan semua kejadian di London, ia sangat bersyukur dan sangat berterimakasih pada Nino akan bantuan pada putri nya,
"aku ga tau kalo Nino yang di maksud adalah putra mu, namun aku menyelidiki nya, dan ternyata benar, itu putra mu.. dia sangat berani"
"jangan tanya siapa ayah nya" Rey dengan bangga menaikan bahu nya.. membuat Rena keki..
"aku akan berterima kasih pada nya.. karna saat aku ke London, ternyata Nino sudah pulang ke sini"
"semua orang pasti akan melakukan hal yang sama, bukan hanya Nino" tambah Rena
mereka asik ngobrol,
ketika Nino turun menghampiri mereka lagi,
July semakin terpukau melihat dokter muda itu, Nino terlihat segar dengan rambut yang masih sedikit basah, dia sungguh wangi, entah berapa persen tingkat ketampanan nya meningkat, July tak bisa melepas pandangan nya..
Rena melihat July, ia tersenyum,
_ seperti nya July menyukai putar ku _ gumam nya dalam hati,
mereka mulai makan dengan nikmat, di sertai saling puji memuji antara masakan dan putra putri mereka...
Al juga melihat shanum sangat cantik,, jika July dan rakha bukan kakak adik, sudah di pastikan ia akan meminta shanum juga untuk jadi menantu nyaππ
mereka selesai,
berpindah tempat ke ruang tamu, Nino menghampiri July,.
"barikan no HP mu, aku belum punya" ucap nya
mereka bertukar no HP, Rey senang melihat kedekatan mereka,
" minum obat xxxx agar luka kulit ga berbekas" Nino memberikan resep.
"obat apa tadi?, coba kirimkan pesan pada ku" pinta July
"no, ga ada siaran ulang" Nino tersenyum mengatakan nya, "kamu harus hafal apa yang aku bilang"
"ich mana ada. aku kan ga biasa sama istilah obat obatan, jadi ga cepet hafal"
"salah sendiri kamu pelupa" ucap Nino meledek
"lho, siapa yang luka?? " tanya Rena setelah menyimak percakapan mereka,
July dan Nino saling lirik,
"kemarin kita ketemu di coffee shop bun, ga sengaja Nino nabrak July, kopi nya tumpah kena dada nya"
"ya Allah.. terus gmn sekarang? " tanya Rena cemas.
"ga apa apa bun, cuma merah aja bekas nya. itu pun udh pudar" jawab July,
"Nino jangan cuma kasih resep, kasih obat nya aja langsung" kata Rena
"Nino ga punya obat nya bun, kalo tau July bakal ke sini Nino bawa tadi"
"July bisa beli di apotik bun,,
tapi aku lupa nama nya apa dokter"...
Rena tertawa melihat kedua nya, HP nya bergetar, ia melirik nya, suami nya mengirim pesan
" hey sayang, jangan ganggu mereka, ayo sini kita ngopi di belakang"
Rena menggaruk kening nya, iya dia seperti pengganggu saja jadi nya
__ADS_1
"nak, bunda tinggal dulu ya. ayah minta di bikin in kopi"
"iya bun.. " Nino mengangguk