
"saudara Ferdi anda sudah di kepung"
suara dari luar villa Ferdi panik, rena pun terkejut, namun ia lega, pertolongan datang
"apa rey ada di luar? “ fikiran rena sudah kemana mana
" rena sayang... (panggil Ferdi lembut, rena menoleh, ia menatap tak suka pada Ferdi)
ikut lah dengan ku, akan aku jadikan kamu ratu di hatiku, di hidup ku...
rena menggeleng
"please, lepasin aku, aku udah bahagia dengan hidup ku aku sayang mereka yang kini menemaniku"
"aku yang harus nya jadi suami kamu rena, sekarang ga ada lagi penghalang antara kita, ayo kita lari, menikahlah dengan ku (untuk kedua kali nya Ferdi melamar rena, namun dengan situasi berbeda) "
"berbahagialah mas dengan kehidupan baru mu, lupain aku kamu berhak bahagia, tentu nya bukan dengan aku, semua nya udah beda" (rena meringis merasakan perut nya kembali sakit, Ferdi tak tega melihat nya)
dorr dorrrr dorrrr
suara pintu kamar di gedor dari luar,
"apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau sama aku lagi ren? aku udah bilang kejadian itu kecelakaan, maafin aku" (Ferdi merasa terpojok mendengar pintu di gedor semakin sering, mungkin sebentar lagi akan di dobrak
"kamu tanya apa yang harus kamu lakuin biar aku maafin kamu dan mau sama kamu lagi?? apa kamu sanggup penuhin permintaan aku? “
" aku janji aku sanggup apa pun itu, asal kamu kembali sama aku"
"kembaliin mamah"
duarr,
betapa itu hal paling mustahil di dunia ini, mengembalikan seseorang yang sudah meninggal
"rena...
" kenapa? kamu ga bisa?
karna kamu batalin pernikahan kita mamah syok,
kamu tau mmah punya sakit jantung??
mamah meninggal karna kamu fer,
setelah itu kamu kemana? ninggalin aku gitu aja, aku kehilangan segala nya, dimana kamu waktu itu??? untung aku ga gila, untung aku ga bunuh diri fer , siapa yang ngembaliin kewarasan aku waktu itu, hanya rey, hanya dia satu satu nya lelaki yang mau Terima perempuan yang di campakan di hari pernikahan nya (rena berteriak melampiaskan kekesalan nya selama ini)
rey mendengar kata kata yang rena ucapkan di balik pintu, ia memberikan isyarat pada team dan polisi untuk memberi waktu agar antara maksud Ferdi dan rena ter sampaikan. walaupun tak dapat ia pungkiri, ia cemburu, istri nya bersama lelaki lain di satu kamar
Ferdi terdiam, tak bisa menjawab semua nya,
rena semakin gusar, perut nya semakin sakit..
"rena, kamu ga apa apa?? (tanya Ferdi Hawatir)
rey mendengar itu, memberi isyarat pada dua anak buah nya untuk mendobrak pintu
brakkkkkk
rena terkejut,
Ferdi refleks menodongkan pistol pada rena, ia mendekap pundak kekasih nya itu menjadi tameng,
rey menerobos masuk, syok melihat apa yang ada di depan nya, rena terancam, dia tidak bisa gegabah bertindak..
" reeeyyyy (rena memanggil suami yang ia rindukan, rena menangis)
"kalo aku ga bisa milikin kamu, ga ada orang lain juga yang boleh milikin kamu sayang" Ferdi berbicara di dekat telinga rena, memercikkan api amarah yang ada di hati rey, menggerakkan tangan nya rey maju se langkah, Ferdi menodongkan pistol nya pada rey
"stop, kamu, atau rena yang mati?? “
" kamu hanya akan menyesal, (dengan santai rey menjawab) semua akan mudah, lepasin rena, maka urusan kita selesai, kamu akan aku bebaskan"
"ahahaha, itu cuma kebohongan rey, aku tau...
" permudahkan semua nya, jangan memilih yang sulit"
"ah... rey perutku"
rena meringis, kali ini ia tak tahan sedikit nenundukan badan Ferdi melepaskan dekapan nyaa,
"sayang.... " rey maju
__ADS_1
dorrrr satu tembakan melesat rena menegang melihat sang suami terluka di lengan kanan nya, Ferdi menembak nya
"reeeeyyyyyyy (rena berteriak)
team di luar waspada
rey merasakan sesuatu, yang awal nya seperti kesemutan, darah mulai membasahi kemeja lengan pendek nya
Ferdi pun menegang, dia panik, sampai melakukan itu, rey terduduk
rena merasakan sesuatu mengalir melalui celana panjang nya, beberapa tetes darah nampak serasi bersama keramik putih kamar it.
rey melihat nya, ia tau apa itu,
rena berdarah dalam keadaan hamil muda, rey bangkit, tak terasa sakit di tangan nya melihat kondisi rena begitu,
dorrrr,
satu tembakan lagi melesat, rena memejamkan mata, entah apa yang terjadi rena tak ingin melihat nya, terlebih jika yang harus terluka lagi adalah suami nya,
Ferdi ambruk, tepat di hadapan rena,
seorang polisi menembak nya tepat di punggung belakang dada..
rey mendekap rena, kondisi nya lemah karna menahan sakit, di tambah rena trauma dengan tembak menembak,
rena menangis di pelukan sang suami, meremas lengan kemeja suami nya yang penuh darah,
"bertahan sayang" rey mengecup lama kening rena, ia menangis, tangan rena terjatuh, ia tak sadarkan diri,
"sayang, rey menepuk pelan pipi sang istri, mengangkat tubuh nya, rena harus dapat penanganan"
dua mobil ambulan dari rumah sakit yang sama, membelah jalan.
di kawal beberapa mobil polisi, rey duduk di dalam ambulan menggenggam tangan rena erat, melihat darah di kaki sangat istri hati nya hancur, ia tau kemungkinan terburuk yang akan terjadi..
blankar di siapkan, rena di bawa ke ruang oprasi, begitu pun rey, dia juga harus mendapat penanganan karna luka tembak di lengan nya, seketika rumah sakit menjadi rusuh,
siaga satu, pengawalan ketat di mana mana, dokter dan para perawat langsung sibuk,
momi langsung berangkat menuju bandung, setelah mendapat kabar penculikan cucu dan menantu nya, kini ia menunggu kabar dengan gelisah, belum ada yang memberi kabar tentang anak dan menantu nya, Nino tertidur di pelukan sang nenek,
beruntung frans memerintahkan beberapa orang team nya mengawasi rena dan Nino tanpa mereka sadari, menggunakan motor sport, salah satu pengawal mengamankan Nino, dua orang lain nya, mengejar andi yang dengan mudah tertangkap,
namun mereka benar benar terkecoh, terlambat rena sudah di bawa Ferdi dengan mobil nya saat itu, mereka kehilangan jejak
Nino di bawa pulang ke rumah rena,
mamang dan pak joko mendapat pertolongan medis dari klinik terdekat, alhamdulillah luka mereka tidak begitu parah,
lain hal dengan tina, dia masih melamun mungkin trauma, kejadian begitu cepat, di tambah majikan nya belum ada kabar,
bibi mondar mandir, setiap mendengar suara kendaraan di luar ia langsung berlari, mengharapkan seseorang datang memberi kabar, atau bahkan membawa rena pulang
derrrrt... derrrrt
HP momi berdering frans menelpon,
tak mau membuang waktu momi langsung mengangkat telp menekan tombol loudspeaker semua penghuni rumah langsung berkerumun
" frans, kamu dimana? gimana rena? apa rey sudah pulang??? ( tak sabar momi memberondong frans tanpa ampun)
"nyonya, tenang lah, kami semua berada di rumah sakit XX, rey terluka, lengan kiri nya tertembak, dan nona rena.....
" ya Allah.. (momi menangis) kenapa rena frans??
"nona syok, dan mengalami keguguran... '(terang frans)
" apa? keguguran?? rena hamil???
"ya nyonya, pak rey juga baru tau tadi pagi, seperti nya nona juga baru melakukan tes pagi tadi"
"astaghfirullah renaaa anak kuuuu.. (momi menangis, HP terlepas dari genggaman nya)
mamang melanjutkan pembicara an
" pak, apa kita boleh kesana??
"jangan dulu tuan, di rumah sakit masih banyak polisi, karna Ferdi juga di tangani di sini"
"gimana kondisinya???
__ADS_1
"Ferdi mendapat tembakan di punggung tuan, dia sekarang koma"
semua orang saling lirik, kenapa kejadian nya jadi se rumit ini...??
"baik lah, hubungi kami begitu ada kabar, kami ingin melihat rey dan rena "
"pasti tuan, saya yang akan mengabarkan langsung"
"terimakasih
" sama sama tuan
bibi mengusap ngusap punggung momi yang masih menangis,
"kenapa orang baik slalu di uji, momi kemaren bilang sama rey, seperti nya rena hamil, tingkah dia sangat beda, dia bahkan pengen makanan yang mau aku makan, itu berbeda sekali, sebelum ke Bandung juga rena mengeluh kurang enak badan. malah malam nya dia muntah muntah, benar dugaan kami kalo dia lagi hamil.. ya Allah rena (momi terisak)
" iya bu, waktu datang juga rena lemas, rena bilang mabuk perjalanan, padahal dia ga pernah mabuk perjalanan, bahkan dia minta di jalur kayu putih badan nya, saya becandain rena, suruh tes kehamilan, rena pun berpikir demikian, sebelum sampai rumah dia ke apotik, membeli alat nya"
"betul bu .. tambah tina,
bu rena ceria sekali tadi pagi, mungkin karna sudah tau kehamilan nya,,
semua tertunduk, bergelut dengan pikiran masing masing, tidak menyangka Ferdi melakukan semua ini,
salah satu keluarga Ferdi juga sempat menelpon mamang, menanyakan kebenaran, namun entah lah, semua masih samar....
di rumah sakit
frans dan dani belum beranjak dari depan kamar oprasi, rey sudah selesai di tangani dan ia baru sadar dari efek obat bius yang dokter berikan
"antar aku ke ruangan rena,
" nona masih di ruang oprasi tuan (terang dani)
"bagaimana ba*****n itu? bukan kah dia juga di RS ini??
" kondisi nya kritis tuan,. dia koma...
rey termenung sejenak, tak menyangka Ferdi akan melakukan hal seperti ini,
frans datang, memberi kabar kalo nona nya sudah di pindah ke ruang perawatan,
rey meminta agar ia dalam satu kamar perawatan bersama sang istri,
masuk ke ruang perawatan, rena belum siuman, rey duduk di sebelah rena
frans dan dani memberikan waktu berdua sang tuan, dan mengurusi hal yang lain, karna polisi masih di RS,
rey mendekat kan wajah nya, menciumi tiap inci wajah sang istri, ia menangis dalam diam, ucapan sang dokter masih terdengar jelas,
saat rey menuju ruang perawatan rena, dokter yang baru saja selesai menangani rena, mengajak rey untuk keruangan nya
janin diperkirakan usia 3minggu,
dan kondisi rena sangat lemah, ia syok..
mengusap pipi sang istri lembut, mata rey memanas..
"maaf sayang, aku bahkan ga menemani mu saat te kehamilan, harus nya aku di sana, melihat langsung hasil dari alat itu,
aku tau kamu hamil setelah kabar penculikan itu, maaf sayang, (rey menempelkan dahi nya dengan dahi sang istri)
tokk tokk tokk
permisi tuan, ini tas nona, kami menemukan nya di villa, rey meraih nya,
" terimakasih..
"saya ada di. luar tuan panggil jika ada keperluan
rey hanya mengangguk,
membuka sleting tas sang istri, HP rena dalam keadaan mati, rey mengaktifkan nya,
melihat benda berbentuk persegi berwarna putih biru rey meraih nya, tes kehamilan menampilkan dua garis merah, tangan rey bergetar meraih nyaa,
ia menatap sang istri,
" maaf nak , ayah bahkan tidak tau kamu hadir, tapi kamu udah ninggalin kita" menggenggam alat tes itu rey meneteskan air mata, ia ingat betul rena pun antusias ingin segera memberi adik untuk Nino, rey tersenyum getir
menyimpan alat tes itu di atas nakas
__ADS_1