Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)

Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)
isi hati


__ADS_3

Nino mengetuk pintu, seorang perawat keluar, ia terkejut melihat Nino di hadapan nya,


"dokter, ada yang bisa saya bantu? “


"saya ngajak istri saya buat lihat anak anak di dalam, apa boleh? “


"tentu dok, silahkan masuk"


perawat melebarkan pintu, ia sangat senang bisa melihat wanita yang telah sah menjadi istri pemilik RS ini,


ia engangguk pada July


"selamat sore Ibu, boleh saya bantu dorong kursi nya? “


July tersenyum,


" kalau ga repot Sus.. " ucap July


"tentu engga ibu"


perawat itu mendorong kursi roda dengan hati hati _MasyaAllah, aku aja yg cewek suka liat ibu July, bagaimana dokter Nino bisa nafas ya selalu dekat sma ibu.. _


Nino menggunakan baju steril, memberikan gel untuk July usap di kedua tangan nya,


perawat membuka pintu kamar bayi, mempersilahkan July dan Nino untuk masuk, Nino mencegah nya


"ga usah Sus, kita lihat di sini saja, buka saja gorden nya"


"baik dok.. "


gorden penghubung ruangan yang di skat kaca besar itu terbuka, seketika July tersenyum. melihat pemandangan di depan nya,


mungkin ada sekitar 7 bayi di sana, mereka sangat nyenyak tidur, July menarik baju steril Nino pelan,


"ada apa sayang? “


" kamar di sebelah sana kamar apa? banyak alat nya? “ tanya July


"di sana untuk bayi yang perlu tindakan, biasa nya ada yang prematur, dan lain nya"


July menggenggam tangan suami nya,


"apa kita akan segera punya anak? “


Nino tersenyum, ia berjongkok untuk sejajar dengan istri nya,


" aku mau, kalau kamu? “


"aku takut.. " ucap July


"apa yang kamu takutkan? “


"aku takut ngidam,


beberapa teman ku mengalami ngidam yang parah, ada juga yang keguguran,


ketika kehamilan semakin besar, mereka akan cepat lelah, dan banyak keluhan tentang badan nya, karyawan di kantorku juga begitu, aku malah ngeri melihat perut mereka yang besar"


Nino mengangguk,


"apa lagi? “


" salah satu temanku kehilangan bayi nya saat akan melahirkan, tiba tiba bayi sudah tidak bergerak waktu mau Cesar,


aku juga denger cerita keadaan wanita pasca melahirkan, mereka ada yang stres, baby blouse, bahkan kehilangan berat badan nya dengan drastis"


Nino mengerti, itu semua memang benar, ia akan memberikan pengarahan, tapi tidak sekarang, itu harus dengan kondisi kepala dingin, suasana yang tentram, karna ia melihat wajah istri nya seperti ketakutan


"sayang, aku ga maksa kamu buat segera mengandung anak ku, karna hidup itu bukan tentang ke inginkan aku saja, kita harus banyak komunikasi soal ini,

__ADS_1


jika kamu belum siap, aku akan menunggu, aku ga keberatan sama sekali,


memang benar semua yang kamu bilang tadi itu terjadi pada ibu hamil,


tapi ga semua nya sayang,


contoh nya, bunda Rena, bunda melahirkan Cesar tapi bunda sehat sampai sekarang shanum dewasa,


mamah bunga, punya kamu sama Rakha,


kita hanya harus berupaya semaksimal mungkin menjaga kehamilan, berpikir positif, agar kehamilan dan lahiran lancar normal"


July terdiam, perkataan Nino benar, ia melirik lagi bayi bayi di dalam,


wajah istri nya masih terlihat khawatir,


"sudah sore, ayo kita ke kamar? “ucap Nino


" ayo, " tanpa basa basi July meng iyakan ajakan suami nya,


mereka melewati jalan sedikit ramai pengunjung,


July merasa senang, setidak nya ia bisa melihat kehidupan lain, bagaimana pun fasilitas di dalam kamar nya, July merasa bosan,


mereka baru saja keluar dari lift menuju kamar July lagi, saat seseorang datang membawakan buket bunga dan coklat berukuran sedang.


mata Nino langsung mengawasi lelaki itu,


"selamat sore dokter Nino, dan ibu July.. " Farhan menunduk,


"maaf saya baru bisa menjenguk ibu karna dokter Nino melarang saya.. "


July tertawa, ia melirik suami nya


"ini mohon di Terima, bunga cantik untuk ibu yang cantik, dan coklat manis untuk ibu juga yang manis, semoga lekas pulih ya bu"


July menerima nya dengan senang hati,


dokter ...?? " July bertanya, ia melihat papan nama Farhan di dada nya


"dokter Farhan? “ tanya July


" betul sekali ibu, saya Farhan, kita pernah bertemu di coffee shop kalau ibu ingat.. "


"oiya.. " July tersenyum


"heh jangan banyak basa basi, awas istri saya harus istirahat" Nino mendorong lagi kursi roda July, Farhan langsung mundur beberapa langkah memberi jalan..


"selamat istirahat ibu, hati hati dokter Nino kalo bucin ga ketulungan" ucap Farhan tertawa


"gue pecat baru tau rasa lho.. "


"makasih dokter Farhan" ucap July melambaikan tangan, Nino tidak memberi nya waktu berterimakasih dengan benar karna terus mendorong kursi hingga masuk ke ruangan.


"kamu deket banget ama Farhan mas? cuma dia yang bisa becanda begitu sama kita"


"Farhan dokter senior dan bisa di percaya, ya kita cukup dekat" jawab Nino


Nino menggendong istri nya untuk ia kembalikan ke ranjang,


"aku bisa sendiri" July merajuk..


"jangan menolak"


"mas dokter sampai kapan cuti menikah? “ tanya July menggoda, wajah mereka berdekatan,


" sampai kapan kamu mau? "


Nino terkejut mendapat hadiah kecupan di pipi nya dari sang istri,

__ADS_1


menurunkan istri nya pelan merapihkan bantal agar istri nya nyaman bersandar,


"aku mau cepet pulang, jujur aku di sini ga nyaman"


Nino membelai kepala Sang istri


" besok kita cek finalnya, dari situ kita tau apa yang harus kita lakukan,


kalo kondisi kamu baik, kamu bisa di rawat di rumah"


"aku ga punya keluhan ko" ucap July semangat


Nino menyolek hidung nya,.


'kamu belum banyak bergerak sayang, jadi belum terasa mungkin "


July tersenyum


"maaf ya" kata July


"untuk apa? "


"aku belum bisa menjalankan kewajiban sebagai istri"


"jangan banyak pikiran, kesehatan kamu lebih utama, kalo udah sehat kamu bisa ngelakuin apa aja"


"apa setelah pemeriksaan kita bisa pulang? “ tanya July, Nino merapihkan kursi roda, menjauh dari sang istri,


" engga sayang, kita nunggu hasil nya"


"Nino aku kangen rumah, kangen apartemen apa bisa nunggu hasil di rumah saja? “ July terlihat sedih, ia benar benar merasa suntuk,


Nino memperhatikan nya,


" besok aku mau bicara dulu dengan dokter, kalo dia bilang kamu masih harus di rawat berarti harus"


July terdiam, ia tidak mengatakan apa apa lagi, bergerak pelan menurunkan tubuh nya, ia memilih untuk tidur saja.. karna memohon pun percuma..


Nino ikut berbaring memeluk pinggang istri nya dari belakang, Nino menyelinap kan wajah nya ke rambut July,...


"kenapa kamu yang tembak dia Nino? “ suara July sedikit pelan, namun Nino bisa mendengar nya


" siapa? " Nino belum mengerti apa yang July katakan, July pelan membalikan tubuh nya menghadap Nino,


"kamu yang habisin Hans" ucap July


Nino terdiam, ia mengangguk


"kenapa? “ tanya July lagi


" seperti yang kamu lakukan pada pembunuh mamah bunga, kamu ga bisa liat orang yang kamu sayang tersakiti kan?"


July mengerutkan kening nya


"dari mana kamu tau? “


" sebelum kita menikah, papah Al memberitahu semua nya.


aku berpikir yang kamu lakukan itu salah awal nya, tapi setelah aku yang mengalami nya, aku merasakan apa yang kamu rasa Ana"


"maaf, setelah rencana pernikahan kita, aku menyadap HP kamu, aku tau Hans mengajakmu lari dengan mengancam keluarga ku yang akan jadi korban nya, aku minta shanum menyembunyikan HP mu, biar kamu putus komunikasi dengan lelaki itu,


kita semua sudah antisipasi, Hans tinggal 2hari sebelum pernikahan kita di hotel sebelah hotel ayah"


Nino membelai rambut istri nya, July masih terdiam,


"kamu tau Ana, mungkin awal nya aku mengajak mu menikah karna aku ingin mengubur luka hatiku setelah kepergian Amira,


tapi entah kamu begitu melekat di hati ku, aku ga rela seseorang menyakiti kamu, walaupun itu atas dasar cinta"

__ADS_1


"maaf jika aku masih kurang peka, maaf jika aku nanti kurang romantis,


ayo kita sama sama belajar membangun rumah tangga, aku punya banyak kekurangan, tapi aku janji akan belajar tentang semua nya" Nino tersenyum. ingin sekali ia mencium bibir istri nya, tapi ia takut akan jadi percikan perasaan yang tidak terkendali,


__ADS_2