Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)

Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)
kedatangan tamu


__ADS_3

Rena mengocek bubur nya yang di buatkan bi Sari, entah lah rasa nya malas sekali untuk sarapan,


Rey keluar dari kamar mandi,


"belum di makan? “


" aku mual, ini masih terlalu pagi untuk makan" jawab Rena


Rey melirik jam di dinding, ini jam 6 pagi tapi seperti nya Rena tidak menyentuh makanan nya sama sekali,


"July akan pulang hari ini setelah melakukan pemeriksaan, ayo kita ke RS temui Dona, sekalian menjemput July pulang"


Rena seketika menoleh, ia tersenyum.


"ayah tau dari mana? bunda WA Nino belum di balas barusan"


"tadi udah subuh Nino telpon.


jadi, mau ikut atau tidak? “ tawar Rey


"mereka akan pulang kemana? aku belum nyiapin buat kepulangan Ana"


"sayang... "


Rey mendekat,


"aku bilang apa? kita punya banyak orang, kamu bisa minta mereka membantu, jangan kamu yang lakuin"


"iya aku ngerti" jawab Rena pelan


"aku ga mau kamu kenapa napa"


Rey meraih mangkuk bubur milik Rena, ia duduk di depan istri nya,


"ayo aku suapin, jam 7 kita berangkat ke RS"


Rena tersenyum, ia terpaksa makan agar bisa pergi ke RSRS memeriksakan diri dan menjemput menantu nya.


***


Nino cepat berlari menerima pesan dari bunda nya telah sampai di ruang praktek dokter Dona,


ia tidak sabar mengetuk ruang periksa, tidak perduli pasien lain yang sedang mengantri menatap nya heran. karna tidak semua orang tau Nino pewaris dan telah jadi pemilik RS ini,


seorang perawat membuka kan pintu,


"pak, silahkan masuk"


Nino tidak sabar, melihat sang bunda berbaring di ranjang periksa, ia mendekat.


"bunda, kenapa? ayah bilang pagi tadi bunda pingsan? “


Rena dan Dona tersenyum,


" dokter Nino, bunda asam lambung nya tinggi, seperti yang kita tau,


mual, pusing berputar, perih di ulu hati akan jadi keluhan, dan bunda mengeluhkan itu"


Nino menyimak, ia jelas tau hal itu,


"apa yang bunda pikirkan? " Nino menggenggam tangan bunda nya.


"bunda ga mikirin apa apa sayang" Rena memasang wajah sedih,


"bunda, lambung itu bukan hanya kurang baik nya pola makan, tapi pikiran juga mengganggu, bunda stres, apa karna pernikahan Nino? “


Rena menggeleng cepat,


" kak, bunda juga ga tau apa penyebab utama nya, tapi bunda ga punya pikiran aneh aneh ko"


Nino mengangguk, ia tidak mau berdebat,


"biar saya yang ambil obat nya dok" ucap Nino meraih resep dari dokter Dona yang sudah tidak. muda lagi itu.. bagaimana tidak, sejak Rena masuk ke keluarganya Bagaskara, Dona sudah menjadi dokter keluarga, Nino mengenal nya dari dulu.


"baiklah dokter Nino" Dona menyerahkan resep nya, "mohon maaf bunda, mulai lebih di jaga pola makan nya, jangan lupa obat sebelum makan harus di minum ½jam sebelum makan, jika ada keluhan jangan sungkan untuk menelpon"


Rena mengangguk,


"tentu dokter. terimakasih"


Rey membantu nya merapihkan pakaian,


Rena tidak pernah mau di istimewa kan di RS milik suami nya ini, ia juga mengantri seperti pasien lain nya tadi,

__ADS_1


"kak, jam berapa kalian pulang? “ tanya Rena


" seperti nya siang sekitar jam 2, July harus melakukan pengecekan menyeluruh bun"


Rena melirik suami nya,


"kita liat July sebentar ya, lalu pulang"


Rey mengangguk dan tersenyum,


"tapi July sudah masuk ruang rontgen bun"


"oya? ya sudah kalau begitu, semoga semua nya lancar dan hasil nya bagus ya,


dan, kalian akan pulang kemana? " tanya Rena


"justru itu yang buat kita galau sejak malam bun" jawab Nino jujur,


"pulang ke rumah kita dulu ya, jangan langsung pindah, bunda sepi sekali di rumah, shanum sangat banyak kegiatan"


Nino tersenyum dan mengangguk, ia memeluk bunda nya "jaga kesehatan bunda, Nino akan mengawasi bunda mulai hari ini"


Rena tertawa


"siap pak dokter"


Rey pun memeluk putra nya,


" Al pulang ke Singapura se malam? ia memberitahu ayah"


"betul yah, bagaimana pun perusahaan memerlukan mereka, apa lagi kini July cuti"


Rey mengangguk, ia merasakan hal itu pasti Al kerepotan,


"berikan selalu kabar, ayah dan bunda menunggu di rumah"


"baik yah, kalian hati hati ya.. " Nino mengantar orang tua nya sampai pintu mobil,


HP nya berdering, saat Nino dalam perjalanan menuju ruang rontgen istri nya


"hallo om.. "


"Nino, kita akan kedatangan tamu, jam berapa ada waktu senggang? "


" kepolisian sari Singapore " ucap Frans


Nino menarik nafas,


"baiklah, ayo kita bicara, sekitar jam 11 mungkin July sudah selesai" ucap Nino


"baiklah, kita bertemu di rumah pelatihan saja ya.. akan mencolok kalau di RS" tambah Frans


"ide bagus om, maksih ya"


"sama sama tuan kecil"


Nino segera menyusul. istri nya, ia sedang bersiap, Nino membantu July melepaskan semua pakaian nya, berganti dengan baju khas RS,


"jangan tegang oke" Nino mengusap kepala istri nya,


"aku malah senang, karna akan cepat pulang"


Nino tertawa,


mendapat instruksi dari dokter untuk segera memasuki ruangan, July menyelesaikan nya dengan cepat,


"sayang, bunda tadi datang, dia bertanya kemana kita akan pulang? “


" dimana bunda sekarang? "


"bunda sudah pulang, dia melakukan pemeriksaan dengan dokter Dona, subuh tadi bunda pingsan, "


"apa? terus sekarang gimana? “


Nino sengaja tidak memberitahu July,


" bunda sudah membaik, asam lambung nya naik"


July merasa sedih,


"kita pulang ke rumah bunda saja dulu, aku mau ketemu bunda"


Nino mengangguk,

__ADS_1


"baiklah, kita akan pulang jam 10 ini saja, tapi... "


Nino menjeda kalimat nya,


"ada apa? “


" aku ada keperluan, nanti jam 11 aku harus pergi dengan om Frans "


July terdiam menatap suami nya,


"apa ada kaitan nya dengan Hans? “


" iya sayang, darimana kamu tau? “ tanya Nino memeluk istri nya.


"aku punya firasat"


Nino memberikan kecupan beberapa kali di pipi istri nya


"filling so good honey"


"apa semua akan sulit?" tanya July khawatir


"Do'akan yang terbaik"


"aku takut"


"aku akan bicara jujur, disini kita juga ga bekerja sendiri, polisi juga ada menemani saat penyergapan Hans, kita akan bertemu semua di sana"


"bagaimana dengan papah, rakha, sama Edward? "


"nanti akan kita bicarakan"


"aku harap semua nya tidak lah rumit"


"amiiinnnn "


Nino membereskan semua barang bawaan mereka, sopir yang Rey tugas kan menjemput sudah tiba,


perawat dan para staf yang terlibat selama perawatan July menyampaikan harapan mereka agar semua baik baik saja dan tentu agar July cepat sembuh.


"kamu senang? " tanya Nino, mereka sudah di dalam mobil


July tersenyum puas,


"bagaimana nyaman nya di RS, lebih nyaman di rumah sendiri mas Nino"


"untuk sementara kita di rumah bunda saja.


nanti kita lihat rumah baru kita"


July mengangguk,


HP Nino terus bergetar di saku celana nya, ia merogoh nya, Frans menelpon lagi


Nino lebih memilih berkomunikasi di pesan,


Frans juga mengirimi nya pesan,


"tuan Rey sudah di sini, ternyata keluarga hans juga sudah di Indonesia, mereka akan segera datang"


Nino merasa gelisah, benar yang July bilang tadi, apakah akan baik baik saja semua ini?


"siapa mas? “ July memperhatikan suami nya,


" om Frans" jawab Nino singkat, mata nya masih tertuju pada HP


"aku ikut ke rumah pelatihan, kita ke sana saja sekarang langsung"


Nino melirik istri nya, ia jelas tidak setuju


"aku antar kamu ke rumah bunda, lalu aku pergi"


"Nino"


"Ana pleaseee, jika kami membutuhkan kamu untuk bersaksi, kamu akan aku jemput"


"ini masalah ku, mana mungkin kalian tidak memerlukan ku? “


Nino tiba tiba mencium bibir istri nya, ia sangat gemas pada Ana karna sangat sulit di beri pengertian,


July terkejut menatap Nino, Nino mengusap bibir nya dengan ibu jari, ia ingat betul kata papah Al, July sangat keras kepala.


"nurut sama aku oke"

__ADS_1


July tidak menolak, atau meng iya kan, ia menjauhkan wajah nya dari Nino, membuang pandangan ke luar jendela, mereka sama sama terdiam, Nino menggenggam tangan July, namun July terus saja menatap ke luar jendela


__ADS_2