
Rey sedang memberi keterangan nya pada pihak polisi, memberikan bukti bukti penculikan adik nya, foto yang Yuda Terima pun di serahkan nya,
rey sementara bisa bepergian, menjenguk Yuda yang baru saja selesai oprasi, Yuda se harus nya mendapat perawatan, namun ia menolak, ia akan pulang dan lebih memilih kontrol rutin di RS jakarta,.
pihak rumah sakit menyetujui, namun mereka angkat tangan jika suatu saat ada keluhan,
rey yang menandatangani surat untuk Yuda, mereka akan segera pulang, rey ingin cepat cepat memeluk istri dan anak nya,
rena tak henti mengirim pesan dan menelpon.
ibu hamil itu sangat bawel,
rey masuk ke ruangan Yuda, Yuda seketika menegang, rey sedikit tertatih,
"kak tongkat nya dimana? " tanya putri cemas
"di mobil, kakak udah ga perlu itu"
"kakak yakin? nanti kak rena marah"
"kakak yakin bocah" rey mengusap kepala adik nya, lalu ia beralih pada Yuda,
melipat kedua tangan nya di dada, rey diam, menimbang nimbang tentang hubungan Yuda dan putri,
"apa sakit? β tanya rey datar, ia seolah tidak tau rasa nya terkena timah panas
" udah engga kak" ada gemetar di nada ucapan Yuda
"benarkah?" rey mendekat, "jadi ini tidak sakit? " rey hendak menyentuh paha Yuda yang terbungkus perban
"kakak.. " putri terkejut dengan apa yang akan kakak nya lakukan
"kak Yuda, bilang saja sakit, ga apa apa ko"
Yuda diam, bagaimana bisa dia bilang sakit, dia akan di anggap cengeng oleh kakak kekasih nya itu
rey tersenyum,
"jadi menurut mu, bagaimana momi? "
putri menatap kakak nya, lalu menatap Yuda,
ia juga menunggu jawaban dari Yuda,
__ADS_1
"soal itu, Yuda pasrah kak, ayah Yuda sudah banyak m lakukan Kekacauan, Yuda akan mundur jika momi meminta nya"
rey menatap Yuda dengan intens, putri di sana gemetar, "jadi cuma di situh saja perjuangan mu kak? putri bergumam dalam hati, rey melihat adik nya bersedih,
" kamu menyerah?, setelah apa yang kamu lakukan hari ini untuk putri? "
"Yuda bukan menyerah karna Yuda kak, masalah ini juga timbul karna dendam pada ayah Yuda, anggap lah ini resiko karna masalah lalu,
Yuda ga masalah kalo momi ga suka sama Yuda, tapi Yuda ga mau menyakiti hati putri terus menerus karna hubungan kita"
rey mengangguk,
ia membuka dua kancing atas kemeja nya, menujukan dengan bangga ia juga punya bekas luka memperjuangkan cinta nya dulu,
luka yang membekas menjadi sebuah kerutan yang mungkin akan ada seumur hidup nya
"aku punya ini yud" Yuda melihat nya
"aku bahkan tidak berniat menghilangkan nya, ini bukti bahwa aku pernah berjuang mengejar cinta, rena pun punya"..
yuda menahan nafas nya, mencerna apa maksud dari kata kata kakak nya,
" berjuang lah sekali lagi, hadapi momi, "
rey tersenyum, membalikan badan nya pada putri,
"kamu siap patah hati?? " rey sengaja sedikit mengeraskan suara nya, agar Yuda mendengar
putri menunduk
"kalo harus begitu, putri harus bagaimana lagi kak? "
rey mengangguk,
"baiklah, kamu boleh pulang yud, bisa pakai motor kan ke Jakarta? "
Yuda melongo, ia bahkan kesulitan untuk berdiri, bagaimana mungkin bisa mengendarai motor nya dari bogor menuju Jakarta,
"kak Yuda... " ia hendak protes
"aku ga sekejam itu yud, pulang lah dengan yang lain, putri dengan ku, motor mu bisa di bawa salah satu team frans"
"terimakasih ka"
__ADS_1
Yuda menatap putri, yang di tatap menghindar, ia kecewa, rey dan putri keluar ruangan bersamaan, surat visum yang putri lakukan tadi sudah keluar, itu jadi penguat bukti ada tindak penganiayaan pada nya,
***
"ayah kapan pulang? "
entah pertanyaan ke berapa kali nya yang rena tanyakan
"belum selesai, sebentar lagi ya"
"dede bayi kangen ayah" nada suara rena terdengar manja
"hey jangan mengatasnamakan dede bayi terus"
"ich beneran" rena merajuk
rey tertawa,.
"memang kalo ayah pulang, dede bayi mau apa?"
"dede bayi pengen peluk aja"
"ayah ga mau peluk aja" jawab rey tertawa
"lalu? " tanya rena menggoda
"ayah tengokin dede ya"
frans membuang muka nya mendengar itu,
dasar bos bucin, belum sehari saja rey pergi sudah lembek begitu, mana wibawa yang slalu frans lihat, itu semua hilang setelah rey bertemu dengan rena.
"Nino juga marah marah, hari ini dia ga ketemu ayah"
"iya sayang, ayah perjalanan pulang, mana Nino nya? "
"lagi di belakang sama tina"
"baiklah, bunda istirahat ya, kita baik baik aja, biar nanti malam jadi seger bunda nya"
"dasar mesum" jawab rena
"ahahaaaa" rey sungguh suka di bilang mesum oleh sang istri.
__ADS_1