Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)

Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)
hamil lagi???


__ADS_3

July membiarkan Nino untuk ber istirahat menikmati kopi yang sekretaris nya buat, July sangat senang hari ini, mendapatkan kejutan dari Nino,


took tookk tokk.


"kak... " rakha datang memanggil July


"masuk lah"


rakha tersenyum melihat siapa yang datang, lelaki yang menolong kakak nya waktu di London,


"kak Nino?? “ rakha menjabat tangan Nino


"apa kabar rakha?? “


"baik alhamdulillah, kak Nino dateng sendiri, apa dengan pak Rey?? “


" aku sendirian"


rakha belum tau tentang Nino dan July, ia melihat bunga di sebelah kakak nya, merasa gelagat kakak nya tidak lazim, rakha cukup pengertian, ia akan pergi ke ruang papah nya saja..


"baiklah, kak July panggil aku jika ada keperluan, aku mau makan dulu, nanti aku di kantor papah aja"


"baiklah... " July mengangguk


"apa masih cape?? kamu belom makan dokter"


Nino senang saat July menyebut nya dokter, entah mengapa...


"ya lumayan aku lapar"


"aku punya resto langganan, ayo, kamu pasti suka masakan nya"


July meninggalkan kantor,


meninggalkan tanda tanya pada siapa saja yang melihat mereka, mereka berdua begitu manis bukan?? tanda tanya pun mencuat, siapa lelaki yang datang dari Indonesia itu menemui nona mereka...


July menjadi pemandu wisata kali ini untuk Nino, July sendiri yang menyetir mobil nya,


"kamu sudah terbiasa dengan urusan bisnis July, aku bisa melihat nya"


July tersenyum.


"berbisnis itu penuh tantangan dok, aku suka itu, bagaimana kamu mampu meraih tender tender besar di tangan mu, itu adalah kebanggaan"


"kebanggaan, namun juga ancaman" ucap Nino


July tertawa, Nino tau itu dengan pasti, apa yang July alami di London, dan tentu nya ia telah banyak belajar dari sang ayah,


"ya setiap pekerjaan memiliki resiko" ucap July


"apa kita akhir nya akan menikah?" Nino bertanya, namun mata nya melihat lihat ke arah luar jendela


"maksudnya? “ tanya July


" aku ingin kamu di rumah saja seperti bunda kalau kita menikah nanti"


July nampak diam, ia sedang berpikir


"aku ga mau kamu selalu dalam bahaya Ana"


senyum tersampir di bibir manis nya, ia tau Nino khawatir, tapi bagaimana ini, July tentu ingin menikah dengan Nino, sejak pertama bertemu ia menyukai nya,


tapi ia tidak bisa duduk manis saja di rumah, sedangkan jiwa nya di kantor..


"akan aku pikirkan soal itu dokter,


ayo kita sudah sampai"


July membuka sabuk pengaman nya,


mereka turun bersamaan, resto itu tampak terlihat mewah, walaupun July terlihat sederhana, namun ternyata tidak pada pilihan nya, ia punya selera yang baik..


"selera kamu bagus July" kata Nino


"tentang apa?? “ tanya July,


" tempat ini“ jawab Nino


"sama seperti lelaki, akun punya selera tinggi"


July mengedip kan ke dua matanya, itu membuat Nino tertawa..


**


"siapa dia?? “


"dokter muda dari Indonesia, orang tua mereka memiliki hubungan yang dekat, tapi mereka tidak di jodohkan.. "


seorang lelaki tersenyum mendengar itu

__ADS_1


"tidak boleh terjadi apa apa di antara ke dua nya, kamu faham?? “


" faham tuan.. kami siap menerima perintah "


" jullyana milik ku.. tidak akan ada yang bisa menghalangi walaupun Alif sekali pun.. "


**


Rena merasa tidak enak badan..


sejak bangun tidur tadi tubuh nya lemas, dan pusing, ia meminta bi sari membuatkan bubur kacang hijau, mungkin itu akan membuat nya segar..


"bunda... " shanum datang, ia baru pulang sekolah, masih memakai seragam nya.


"masuk lah nak"


"bunda kenapa?" ia meletakan bubur kacang untuk bunda nya di meja


"ga tau ni bunda lemes, mau nya tiduran, kepala pusing, padahal sore ini ada arisan "


"bunda istirahat dulu aja, nanti kalo berangkat ada apa apa di jalan gmn??,


ini shan bawa bubur kacang pesenan bunda kata bi sari, udah anget.. bisa langsung makan"


"iya memang, makasih ya... " Rena tersenyum,


meraih mangkuk dari shanum,


"mau shanum suapin bunda? “


Rena tersenyum,


" ga usah sayang, makasih.


kamu ganti baju, terus makan, jangan sampe sakit"


"aku mau temenin bunda di sini.. "


"iya tapi setelah makan sama ganti baju nak"


"hmmmm. baik lah... " shanum menurut, walaupun bibir nya manyun...


"bunda kalo ada apa apa panggil ya.. "


kepala nya menyembul di pintu


"iya sayang... "


Rena kewalahan, ia jarang sekali sakit.


bi sari yang kebetulan lewat mendengar suara nyonya nya dari kamar mandi..


"ya Allah bunda kenapa??, maaf ya tuan.. saya masuk kamar tanpa ijin" bi sari bergumam...


ia langsung ke kamar mandi, di mana suara Rena berasal,


"bunda maaf saya lancang.. bunda ga apa apa?? “


Rena terduduk di lantai kamar mandi, ia lemas sekali,


hanya menjawab dengan gelengan kepala Rena masih merasa mual..


" mual banget bi.. "


"bunda pucet wajah nya.. apa bunda hamil?? “ bi sari berkata.. Rena langsung menatap nya...


" maaf bunda.. maksud saya bunda jarang sekali begini... "


bukan marah, Rena malah tersenyum..


"apa bener bi??" tanya nya senang


"bibi ga tau juga, kan bunda yang punya perut"


"ah iya... " Rena tertawa.


ia meminta bi sari membantu nya bangun..


"kepala aku sakit banget... " Rena di papah menuju ranjang nya,


"saya telpon dokter ya bun"


"ga usah bi, mau tidur aja ya.. "


"baik bun.. "


bi sari cemas, ia memberitahukan shanum kejadian tadi, shanum juga tak kalah cemas, ia menelpon ayah nya


"assalamu'alaikum"

__ADS_1


"waalaikumsalam, kenapa shan"


"ayah sibuk ga?? "


"kebetulan sebentar lagi mau meeting, ada apa hmm? "


"emhhh. ayah.. itu bunda... " shanum ragu ragu menyampaikan nya


"kenapa bunda shan? " nada suara ayah nya langsung serius.. begitulah ia, apa pun uang menyangkut bunda nya akan langsung serius..


"bunda muntah muntah, kepala nya sakit, tadi minta bubur kacang, udah makan malah di muntahin... kata bi sari bunda hamil"


"apa...?? " Rey terkejut, tapi hati nya langsung menghangat,


anto yang sedang menyiapkan meeting di depan nya langsung menoleh,


"ayah pulang sekarang ya.. tunggu ayah, jaga bunda kamu.. "


"iya yah,, emhh ayah, boleh titip sesuatu"


"apa sayang? "


"tadi kata bi sari, tolong beli tes kehamilan buat bunda"


"oke siap, ayah pulang sekarang ya.. "


"hati hati yah... "


Rey tidak peduli dengan meeting nya yang sudah siap, "batalin meeting hari ini, saya mau pulang"


anto hanya bisa melongo, sia sia saja ia mempersiapkan semua nya,


"baik tuan.. hati hati"


**


Rey terburu buru memasuki rumah.. Rena masih tidur, Rey tak sabar untuk mendengar kabar ini dari istri nya,


"dimana Rena? tanya nya pada bi sari


" bunda masih tidur di kamar tuan.. "


Rey langsung ke kamar, ada shanum tertidur juga di samping Rena, ia benar benar menjaga bunda nya..


Rey mendekat, mengusap kening istri nya,


"agak hangat, " gumam nya, Rey mengelus pipi istri nya.. membangun kan nya


"sayang.... " Rena terusik, ia terkejut melihat suami nya ada di depan nya di jam segini.


"ayah, ko udah pulang?? “


Rey tersenyum, ia mencium bibir istri nya,


" tadi shanum nelpon, apa masih pusing?? “


Rena tersenyum,


"iya masih, berat banget kepala nya"


"aku bawa ini... " Rey menunjukan benda hasil pembelian nya dengan wajah sumeringah,


Rena tertawa...


"ayah beli ini? "


"aku yang beli ini sendiri ke apotik"


Rena terharu.. ia mengusap pipi suami nya,


"bunda deg degan yah.. "


"ayah juga, ayo.. kita tes... "


Rey membantu Rena untuk bangun, mereka menuju kamar mandi untuk itu,


Rena terus menatap benda itu.. ia ingin menyaksikan hasil nya secara langsung, Rey memeluk nya dari belakang, ia pun sama menunggu, dagu nya ia simpan di bahu Rena,


garis mulai muncul, dengan jelas menggambarkan satu garis berwarna merah... Rena cemberut, menyimpan alat tes itu di wastafel sedikit keras.. ia kecewa...


Rey memeluk nya erat,


"negatif yah... " lesu, Rena sangat malas membicarakan nya


"ga apa apa sayang, mungkin kamu masuk angin... akhir akhir ini kamu banyak kegiatan di panti.. " Rey mencium pipi nya.. Rena berbalik, ada air mata menggenang di mata nya.


"maaf... " ucap Rena


"bunda.... jangan minta maaf. memang ada tuntutan dari ayah buat bunda hamil lagi??, kita udah berusaha terus, tapi Allah yang punya segala nya... "

__ADS_1


Rena mengangguk, ia memeluk suami nya erat...


__ADS_2