
Amira meringkuk di kasur nya, setelah kedatangan Nino tadi, ia habis habisan di pukul suami nya, ia sudah tidak menangis tapi segukan itu masih ada.
tokkk tokk tokk
"non, ini bibi bawa makanan"
Amira tidak kuat untuk berdiri dia lemah, tapi pintu tidak pernah ia kunci karna memang tidak ada kunci apa pun, atas permintaan Aldi agar ia bisa keluar masuk dengan mudah.
bi yuni mendengar sura sesugukan itu dari dalam, ia ber inisiatif untuk masuk saja,
"non... " bi yuni menangis melihat kondisi Amira yang meringkuk, menyimpan nampan di meja sebelah kasur, bi yuni mendekat
"maaf ya non, bibi ga bisa bantu apa apa, bibi takut sama tuan"
Amira menoleh, ia tersenyum,
"ga apa apa bi, aku ga apa apa"
bi yuni membawa salep untuk luka memar, ia langsung membuka nya,
"bibi olesin ya non, udah itu non makan"
"sakit bi, nanti aku oles sendiri aja"
bi yuni semakin tak karuan..
ia pernah menolong Amira saat hendak di pukul, ia juga kena imbas nya,
"non kita lapor polisi ya.. "
"bi jangan, aku ga apa apa ko, luka nya juga bakal cepet sembuh"
"gimana mau sembuh, kalo nanti kena pukul lagi tuan"
"maaf bi, bibi keluar aja ya. biar Amira makan sendiri, aku takut Aldi denger dan bibi kena lagi"
"ini ada kompers, mumpung air nya masih hangat, pakai ya non"
"iya bi, makasih ya"
senyuman tidak pernah hilang dari bibir nya, bi yuni tau Amira kesakitan, namun dia selalu mencoba untuk tersenyum.
Amira dengan pelan mengolesi lebam yang ada di tubuh nya, suami nya sangat murka jika ada seseorang menolong nya, apa lagi itu lelaki,
luka itu bahkan mengeluarkan darah sedikit, Aldi menggunakan sabuk yang ia pakai memukuli Amira,
entah apa yang membuat nya begitu,
dua tahun ini Amira menderita, ia selalu di perlakukan tidak baik, aldi sering kali marah tanpa sebab, masakan yang menurut Amira rasanya sudah pas pun pasti salah di mata nya,
selama ini mereka tidur terpisah kamar,
awal nya mereka bersama selama satu bulan.. saat Aldi marah Amira kelepasan bilang tidak mencintai nya, itu membuat Aldi semakin tidak terkendali, namun ia pun berkata tidak menyukai Amira, bahkan yang membuat Amira sakit hati, tujuan nya menikah karna ada keperluan tertentu
"kamu merasa di atas awan aku nikahi? jangan ge'er, aku menikahi mu ada tujuan tertentu, aku tidak akan menyentuh mu untuk tidur bersama, aku tidak ingin punya keturunan dari mu, kamu pikir kamu level ku? "
Amira menangis lagi jika mengingat kata kata itu,
Amira tidak di perbolehkan pulang ke rumah orang tua nya kecuali hari tertentu, misal hari raya & pernikahan keluarga, tidak ada keluarga Aldi yang berkunjung selama ini ke rumah besar ini, Amira merasa heran, bagaimana kehidupan nya sebelum ini, bi yuni bilang, mereka pindah ke sini saat mendengar Aldi akan menikah se minggu sebelum nya,
bagaimana ia di kantor, apa selalu marah begini pada bawahan nya? entah lah amira tidak ingin tahu, ia hanya menanti hari di mana Aldi akan menceraikan nya, impian nya menjadi guru bahkan sirna sudah.. Amira terbatas memegang HP nya karna Aldi tidak menyukai itu, terlebih saat ada diri nya di rumah..
"Amira.. " suara teriakan itu terdengar lagi Aldi memanggil nya, Amira langsung keluar meninggalkan makanan yang bi yuni bawakan
__ADS_1
"iya mas.. "
"layani aku makan"
"baik mas"
Amira menurut, hanya itu yang bisa ia lakukan..
keluarga nya mendapat banyak uang dari pernikahan Amira, Aldi membeli nya dengan harga tak main main, jadi jika ia marah, ia akan berkata, "buat diri mu berguna di rumah ini, aku membeli mu mahal pada orang tua mu"
Amira menyendokkan nasi, ia sudah hafal porsi makan suami nya..
ya... bagaimana pun Aldi suami nya,
"mau makan sama apa mas? "
"ayam, sayur dan kerupuk"
Amira mengambilkan nya,
"besok akan ada pertemuan dengan klien ku jam 4sore, dandan yang layak nanti aku kirimkan baju baru"
Amira terdiam, tumben sekali suami nya ini mengajak nya,
"hey dengar aku ga? "
lamunan nya seketika buyar
"ah, iya mas aku denger, maaf"
Amira memberikan toples kerupuk untuk Aldi, menyiapkan minum nya,
"pergi lah" ucap Aldi pada Amira
Amira kembali ke kamar, kalau Aldi tidak mengeluh tentang rasa masakan nya berarti aman.
kegiatan seperti ini terjadi setiap kali, Amira hanya melayani keperluan Aldi saat ia minta, sedikit nya 2tahun ia sudah terbiasa dengan apa yang suami nya suka atau tidak.
***
"sayang jangan pulang terlalu sore, kita ada acara" Rena mengirimkan pesan pada Nino
"siap bunda, kakak selesai jam 2siang dan langsung pulang"
"baik lah, hati hati ya.. "
"inshaAllah bun"
Nino menatap HP nya, no Amira belum mengirimkan pesan apa apa, apa yang terjadi pada nya setelah ia masuk ke rumah dengan suami nya, Nino takut hal hal mengerikan terjadi..
"apa aku telpon aja?? "
namun Nino urungkan, ia ingat pesan bunda nya "nanti amira yang akan kena masalah"
Nino menyimpan HP nya lagi di laci, melanjutkan pemeriksaan pasien berikut nya.
***
"Rifa kamu akan ikut kan?? " shanum memotong kuku nya, ia sedang bersiap akan datang ke acara rekan kerja ayah nya.
"aku ga ikut shan, om frans sama om Edo yang dapet tugas sore nanti"
shanum merengut,
__ADS_1
"shan, aku dapet WA dari ka Akmal, dia minta no HP kamu.. "
shanum terlihat berpikir,
"jangan fa, aku takut bunda marah.. "
"baiklah sesuai perintah nona"
mereka tertawa, melanjutkan dengan memilih baju yang akan shanum pakai.
***
baju yang di kirimkan Aldi sangat sopan, dress lengan panjang polos namun dengan manik kelap kelip di seluruh tubuh nya,
Amira menyunggingkan senyuman, ia tau alasan Aldi membelikan nya baju tertutup itu, ia tidak ingin orang lain melihat luka yang ada di dalam tubuh Amira, ia cukup pintar.
Amira mulai berdandan dengan makeup se ada nya yang ia punya
"bismillah" Amira menggunakan hijab segi empat pemberian Nino dulu, ia menyimpan nya seperti barang berharga, hijab berwarna itu membuat ia tambah anggun, entah Aldi akan menyukai penampilan nya atau tidak, ini pertama kali ia mempublikasikan istri nya di depan umum,
kita lihat saja nanti.
Nino memilih jas serba hitam, ia telah bersiap mengancingkan kemeja di lengan nya, Amira suka warna hitam, Nino tersenyum.
"ya Allah, ini salah dia sudah milik orang"
Nino mengusir pikiran jelek nya, menyemprotkan parfum ke jas yang ia pakai, Nino telah benar benar siap..
Rey menunggu anak anak nya di ruang keluarga sambil mengecek beberapa data yang ia bawa dari kantor tadi,
Rena menuruni tangga, Rey tersenyum dan langsung menutup laptop nya, menghampiri sang istri dan membantu nya menuruni tangga
"aku bisa sendiri yah" Rena memberikan tangan nya pada Rey,
"apa perlu aku gendong sayang? β
" tidak terimakasih"
mereka menuruni tangga, bersamaan dengan Nino keluar dari kamar nya,
ia terpukau pada penampilan bunda nya yang sederhana namun elegant,
Nino berjalan mendekati orang tua nya,
ia menarik pelan tangan kanan bunda nya,
mengangkat nya untuk ia cium, Rena terheran heran
"bunda sangat cantik" ucap Nino membuat Rena tersenyum senang..
"hey lepas tangan mu, jangan mempermalukan ayah, ayah tidak melakukan itu"
"jaga istri mu tuan, kalau tidak aku akan merebut nya"
Nino berlalu dengan gaya cool nya, Rey bengong mendengar perkataan putra nya,
Rena malah tertawa memukul mukul lengan Rey
"apa kamu yang ajari itu? " tanya Rena heran
"mana ada, aku belum pernah mencintai istri orang " ucap Rey
"ahahaa mungkin ia sedang belajar yah"
__ADS_1
"lihat saja jika itu terjadi" ucap Reyπππ