Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)

Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)
Ketakutan terbesar


__ADS_3

Kode siaga telah Farhan dapatkan di RS, pengantin wanita tertembak, itu berarti mereka harus segera melakukan oprasi,


Nino memeluk July erat, ia menekan luka tembak di punggung July agar tidak terlalu banyak mengeluarkan darah,


July terbangun, Nino melihat nya, ia wanita yang sangat kuat,


"sayang.. "


July mengeliat, merasakan sakit, di punggung nya,


Rey yang sedang menyetir menoleh ke belakang berberapa kali, Al di sebelah nya juga sama.


"Nino... "


"iya sayang... "


"kita akan berlibur, kamu janji bawa aku ke pantai"


ucap July, matanya menerawang nampak kosong,


Nino menangis, ia memejamkan matanya,


"ia sayang ayo kita pergi, kemana saja kamu mau... "


"tapi aku takut... " suara July sangat lemah, Nino mendekatkan telinga nya di bibir July,


"kamu takut??? “ tanya Nino??


" ada aku sayang, ga ada yang harus kamu takuti"


July terdiam, nafas nya terlihat berat..


Nino membaca beberapa surat pendek al-quran sebelum bisa nya di telinga July, July memejamkan lagi matanya..


" Ana.. " Nino menyentuh pundak nya.. mengguncang nya pelan,


"aku yang takut Ana"


Nino mengecek detak jantung nya walaupun ragu, July masih bersama nya.. namun detak jantung nya sangat lemah..


setelah menempuh perjalanan yang terasa jauh, mereka akhir nya sampai. Rey menjadi sopir terburuk dalam sejarah, ia ugal ugalan demi mengejar waktu..


semua telah bersiap menyambut July, July di baringkan.. Al sibuk merapihkan gaun yang July pakai karna takut tersangkut..


Nino bersiap.. ia akan ikut masuk ke ruang oprasi,


Rena telah datang dengan putri dan Yudha, Nadia di minta menjaga anak anak di hotel,


"yah gimana Ana? " Rena terus menangis, Rey memeluk nya


"Ana akan di oprasi, Nino juga sudah masuk.. "


Rena melirik Al.. ia tampak melamun, baju nya terkena darah July


"Al.. " Rena memanggil nya..


Al tersenyum kecut, hati nya hancur.


ia menyandarkan kepala nya ke dinding sambil menengadah..


_ bunga, anak kita.. _ ucap Al dalam hati,


_ apa yang aku takut kan terjadi juga bunga, maaf aku lalai menjaga nya _


***


Edward menyeret Hans yang pingsan kembali ke kamar nya, darah sudah memenuhi hampir ruangan itu, Hans memiliki luka tembak sebanyak 3kali yang Edward berikan,


beberapa orang dari team Frans memperhatikan Edward, ia terlihat lelah, namun ia terus tersenyum melihat keadaan Hans,


tanpa belas kasih Edward menginjak kaki Hans yang masih mengeluarkan darah.

__ADS_1


"bangun bajingan... "


"aaaahhhhhh" teriakan Hans begitu menyayat, ia bangun seketika karna kesakitan nya..


"I won't let you die so easily"


(gue ga akan biarkan lo mati dengan mudah)


"a devil like you can't die right?"


(setan kaya lo ga akan mempan mati kan?)


Hans menatap Edward, ia tidak bisa melawan sedikit pun,


'how is july? is the wound serious?"


(bagaimana july? apa luka nya parah) tanya Hans


Edward tertawa,


"untuk apa menanyakan nya? kamu tau karena apa kami melakukan hal pada mu? "


Edward berteriak,


Hans terdiam, ia pasrah. Hans menangis


"seharusnya kamu senang kan? kenapa kamu m nangis? " tanya Edward


"bukan July yang aku inginkan mati, tapi Nino, aku berencana membawa nya pergi jika Nino mati"


Edward mendekat, ia menginjak lagi, juga lebih dalam kaki Hans, Hans berteriak lagi,


"ga ada yang akan mati, kecuali kamu dan orang orang mu".. ucap Edward


***


Nino membuka gaun pengantin July, ia terus menangis, darah telah memenuhi gaun nya, mengganti nya dengan baju oprasi,


dokter bedah membantu memasang transfusi darah untuk July,


Nino tidak akan terlibat, biar dokter bedah menjalan kan tugas nya, ia hanya ingin menemani istri nya, menggenggam tangan nya kuat,


tangan yang satu nya mengusap kepala Sang istri,


operasi pengangkatan peluru di punggung July di. mulai, Nino sesekali mengecek layar untuk detak jantung nya,


"kamu kuat sayang, aku sayang kamu, harus nya hari ini kita bahagia, ini hari pernikahan kita..


maaf aku tidak menjaga mu,, malah kamu yang menjaga ku" Nino terus menguatkan hati nya, betapa sakit di posisi ini,.


"hallo"


"Hans sudah ada di tangan kami tuan, adik, dan penembak nya juga sudah kami tangkap" Edo. memberi kabar pada Rey


"simpan saja mereka, aku harus menanyakan tindakan selanjutnya pada Nino"


"baik tuan.. "


Al sedang tidak bisa di hubungi, HP nya bergetar dari tadi, namun ia tidak semangat untuk berbicara..


Rey mendekat,


"hey minumlah " Rey menyodorkan air mineral pada Al


"kenapa mereka lama sekali Rey?? " Al bangkit, ia gelisah,


"tenang Al, July sedang di tangani dokter dokter ahli. "


mereka berada di ruang tunggu, suasana begitu tegang, Rena pun terus melamun, ia sangat khawatir pada Nino dan Ana..


Rena terus melirik jam di tangan nya.. ini sudah hampir satu jam mereka di dalam,

__ADS_1


putri membawakan makanan dan minuman, semuanya harus tetap tenang walaupun hatinya juga khawatir..


peluru telah berhasil di angkat, Nino mendengar bunyi yang nyaring jatuh beradu dengan tempat penadah nya,


detak jantung July semakin membaik, Nino tersenyum, ia tidak berhenti berdoa sepanjang oprasi berjalan...


"aku tau kamu kuat sayang.. "


Nino tidak sedetik pun berpaling dari hadapan istri nya, ia tiba tiba teringat Hans, bagaimana dia? apa Frans dan yang lain nya bisa menangkap nya?? “


oprasi telah selesai, namun July masih belum stabil kondisi nya, July di pindahkan ke ruangan tertutup, keluarga hanya bisa melihat nya melalui kaca, Nino baru keluar dari ruang oprasi, Rena langsung memeluk nya,


Nino pun memeluk nya erat,,


"maafin Nino bunda, kalau Nino punya dosa sama bunda... "


"kenapa bilang gitu kak?? semua orang punya dosa, kita harus saling memaafkan..


bagaimana Ana? "


"oprasi nya berhasil bun, tapi Ana masih belum stabil"


"kita selalu berdoa yang terbaik, semoga Ana cepat pulih kembali... " Nino mengangguk,


"amin bun.. "


Rey menepuk pundak putra nya,


"kamu harus kuat, yang sabar oke"


Nino hanya bisa mengangguk, Al memeluk Nino erat,


"terimakasih" Al hanya bisa mengucapkan itu,


"July mulai stabil tadi detak jantung nya saat peluru selesai di angkat, Nino sangat takut pah"


Al mengangguk,


"kami semua takut nak"


July di bawa dari ruang oprasi menuju ruangan nya, semua keluarga melihat di ruangan sebelah,


Nino membantu lagi memasangkan oksigen, kondisi nya masih sangat rentan, semoga segera membaik..


"dokter Nino, peluru nya sedikit menggores jantung nona July, kami sudah sangat hati hati mengangkat peluru nya,


saya mewakili para dokter yang lain, semoga nona July cepat stabil, dan sehat kembali, kami akan melakukan yang terbaik"


dokter Fera datang ke ruangan,


Nino mengangguk,


"aku tau kalian yang terbaik, terimakasih doa dan dukungan nya"


"sama sama dokter. saya pamit kembali ke ruangan, seperti biasa, akan ada perawat yang visit"


"baiklah... " Nino tersenyum seadanya,


ia duduk di sebelah July


" Ana, kisah kita baru akan di mulai, istirahat lah, aku yakin kamu akan kembali bersama kami...


katakan, harus aku apa kan lelaki itu?? " Nino mengusap rambut July, istri nya itu sangat tenang tertidur.


Al, Rey, Rena dan yang lain nya terdiam menatap Nino di dalam sana...


"aku ga tahan yah.. kenapa samua nya begini?? “ Rey tidak menjawab nya. ia juga tidak tau kehendak Tuhan, semua upaya telah di lakukan untuk penjagaan, namun apa boleh buat... "


Rena menerima gaun yang July pakai saat kejadian, Nino merobek nya, membuka paksa saat tadi akan oprasi,


Rena terus saja menangis... putri menenangkan nya...

__ADS_1


__ADS_2