
Rena berjalan cepat, setengah berlari di lorong RS, bukan hanya anak anak yang di hentikan kegiatan nya, liburan nya pun dengan Rey usai sudah menerima kabar musibah untuk putri nya.
Frans dan Rifa berdiri di depan pintu kamar rawat shanum,
mereka menundukkan sedikit kepala
"permisi" Rena menerobos membuka pintu kamar, ia jelas sangat khawatir
"sayang... "
shanum tersenyum ceria seperti biasa
"apa senyum senyum, mana yang sakit hmmm?? "
Rena mengusap kening putri nya dengan hati hati,
"engga bun, ini ga sakit, om Frans lebay Shanum ampe d bawa ke RS, kan di rumah juga bisa"
"jangan begitu sayang, kamu harus di periksa, takut ada luka dalam"
Shanum terdiam menatap mata bunda nya
"ini ga sakit bun, tapi Shanum takut, bunda tau Shanum ga bisa berenang kan? " shanum menangis
"itu yang bunda khawatirkan sayang"
Rena memeluk putri nya, ia ingat kejadian saat shanum masih berumur 5tahun, shanum tercebur ke kolam di rumah nya saat bermain dengan Nino, namun semua sigap menolong shanum,
kejadian itu membuat shanum takut untuk berenang, walaupun Rena sudah membujuk nya berbagai cara..
***
Rey tidak ikut masuk, ia mendengarkan laporan dari Rifa, Rey jelas marah, di jaman seperti ini kenapa begitu banyak pembullyan di skolah,
" saya tinggal menunggu perintah tuan" seperti biasa Frans selalu bisa di andalkan,
frans menunggu,
"aku harus bicara dulu sama Rena"
"baik"
"Rifa, ayo masuk"
"iya tuan.. "
jantung Rifa, sudah hampir copot, ia sering sekali datang bermain ke rumah shanum, namun untuk berhadapan dengan tuan Rey sangat jarang karna beliau sibuk di kantor. juga Rifa jarang sekali melakukan kesalahan,
berbeda dengan bunda Rena, mereka sudah seperti anak dan ibu, bahkan Rifa pun memanggilnya bunda atas permintaan Rena.
Rena dan shanum menoleh ke arah pintu, Rey datang melipat ke dua tangan nya di dada
" apa fungsi nya ayah minta kamu ikut Karate & taekwondo di rumah pelatihan, masa di dorong saja udah jatuh"
bukan bertanya bagaimana keadaan putri nya Rey malah ngomel,
"aku lengah yah" suara shanum melemah
"maaf tuan saya yang lengah" kata Rifa.
"ayah kan bilang, kenapa kamu minta di sembunyikan identitas kamu, jadi gini kan, mereka udah kebangetan, ini sering terjadi kan sayang?? "
__ADS_1
shanum menunduk,
" shan, terlepas orang itu tulus atau engga berteman dengan kamu karna kamu tau anak ayah, jangan kamu hiraukan, kamu hanya harus bersama Rifa,
kamu seperti bunda kamu, selalu memikirkan perasaan orang, jadi begini nih"
"lho ko bawa bawa bunda? " kata Rena
"ya kan kamu bunda nya"
"tapi ayah harus bersyukur bunda punya sifat begini, kalo engga ayah ga akan cinta sama bunda kan??? "
Rey seketika menatap Rena penuh arti, yg di tatap mengedip ngedip kan matanya genit..
shanum menutup mulut nya menahan tawa..
bunda nya memang the best paling bisa mencairkan suasana yang tegang,
"pokok nya ayah ga mau tau, bila perlu ayah datang besok ke sekolah,
ayah akan kasih pelajaran sama anak anak itu, enak aja mereka bikin kacau acara bulan madu ayah"
shanum melongo,
Rena menggaruk kening nya yang tak gatal,
sumpah Demi apa pun,
sedangkan Rifa entah harus berbuat apa hadir di tengah tengah keluarga yang hangat seperti ini, membuat ia rindu sangat orang tua nya,
Rifa menunduk, menyembunyi kan mata nya yang mulai menggenang,
shanum menyadari itu,
Rifa menoleh pada tuan dan nyonya besar nya, seolah berbicara pada shanum bahwa protokol sedang berjalan,
"sayang sini" Rena akhir nya bersuara,
membuat Rifa tersenyum, dan ia datang, berdiri di samping shanum
"shan bersyukur yah, punya sahabat kaya Rifa, Rifa lindungin shanum terus, dan tadi Rifa bilang kalo shanum adik nya Rifa, shanum seneng banget, sampai shanum lengah, terus terjadi gitu aja kejadian itu"
Rey mendekat pada istri nya, mengusap pundak nya, melihat dua putri remaja yang berbeda karakter,
shanum begitu lembut, dan Rifa terlihat energik, Rey tersenyum.
"apa perlu ayah minta Rifa untuk tinggal di rumah buat temenin kamu terus? "
mata shanum seketika berbinar,
"apa boleh yah? jujur shanum kesepian kalo di rumah"
"apa yang engga buat kamu sayang" tambah Rey dengan senyuman bahagia nya
shanum memeluk pinggang Rifa, namun yang di peluk merasa grogi, karna ada tuan dan nyonya nya.
"emhh. ada yang mau bunda tanya" kata Rena
"apa bun?? " jawab shanum
"siapa yang mulai pembicaraan tentang adek bayi?? "
__ADS_1
Rifa seketika menegang,, shanum langsung menunjuk Rifa,
yang di tunjuk tambah gelagapan mendapat sorot mata dari nyonya besar nya
"maaf bunda, Rifa cuma becanda.. tapi shanum begitu saja bertanya sama tuan"
"emang Rifa bilang apa? " Rey malah bertanya, membuat suasana menjadi tegang
_ mampus gueh kali ini, shanumm awas lho ya_ Rifa bergumam dalam hati
"nona menunjukan foto tuan sama nyonya waktu liburan kemaren, terus Rifa godain non Shanum, Rifa bilang " ciyeee tar bakal punya adek bayi" gitu tuan"
"terus dari mana kamu tau, kalo suami istri berlibur berdua akan menghasilkan adek bayi"
Rena tak tahan ingin tertawa melihat wajah tegang Rifa dan shanum, pertanyaan Rey begitu sulit seperti nya untuk mereka,Rena tau Rey sedang menggoda anak anak nya, Rey dan Rena mengerti, di usia mereka pasti sudah tau hal begitu.
Rifa menunduk tidak menjawab, sedangkan shanum menarik narik ujung baju Rifa meminta perlindungan,
"oiya, tas bunda di mobil,
mohon maaf yang sebesar besar nya tuan, bisa meminta seseorang untuk ambilkan please? bunda harus telpon bi sari di rumah"
Rey tau istri nya mengalihkan pembicaraan,
ia mengusap kerudung sang istri,
"oke, kalo begitu ayah sekalian mau cari kopi, bunda mau?? "
"wah ide bagus, sekalian cemilan nya juga ya yah"
"hmmmm, sesuai permintaan nyonya"
Rena tersenyum
"makasih ayah"
seketika bahu Rifa merosot, melihat tuan nya keluar dari kamar inap shanum,
shanum menarik nya untuk duduk,
Rena tertawa,
namun pintu terbuka kembali membuat mereka terdiam lagi, Rifa bahkan berdiri lagi dari duduk nya, ia tegang lagi...
" shanum sama Rifa mau di bawain apa? " tanya Rey
"emh, samain kaya bunda aja yah" jawab shanum senang
"oke"
Rey kembali menutup pintu,
membuat Rena, shanum, dan Rifa saling lirik, dan tertawa lagi,
shanum terus meledek Rifa yang sangat tegang kalau bertemu dengan ayah nya..
Rifa jelas malu, ia tidak terbiasa berhadapan dengan tuan besar, ia jarang sekali melakukan kesalahan..
up nya 2 bab 2bab ya reader's,
sambil bakar kue ni🤗
__ADS_1
kalo bisa lebih, kita gas kuy tambah bab nya.