
Rena membantu suami nya membersihkan badan, pelan, menggunakan handuk kecil,
rena mengusap wajah suami nya pelan, karna ada beberapa gores luka di kening dan pipi nya,
"apa ini kena kaca mobil??"
"seperti nya,. aku ga inget apa apa, waktu aku tau ada yang ga beres sama mobil ny, aku udah antisipasi kemungkinan buruk, aku nyuruh anto keluar, syukur aku ga sadar, jadi ga terlalu terasa sakit"
rena menghembuskan nafas nya kasar, hati nya berkecamuk,
"ini ga seberapa sayang, di banding waktu aku lihat emma nge gores pipi kamu dengan belati, walaupun se titik, itu yang buat aku marah dulu"
rena juga ingat lagi itu, ia tersenyum...
"apa ini sakit?? " (lengan kanan rey ada memar kebiruan)
"kalo di tekan sakit" (rey memperhatikan wajah istri nya yang lembut itu, tadi frans menceritakan tentang kemarahan rena saat ia memberi kabar tetang rey, memang wajah nya tidak cocok sama sekali marah marah)
"sayang.... (rey memanggil nya)
" jangan terluka lagi rey, aku takut... "(rena menyerobot)
" aku ga apa apa sayang, cuma kaki aja yang masih sakit"
"kamu bilang sama aku jangan pernah bilang ga apa apa kan? β
rey tersenyum.
ya kata kata itu untuk istri nya, wanita nya, rey lelaki, pekerjaan nya sedikit menuntut hal semacam ini sewaktu waktu, tak hayal nya dani ia gugur.. tapi semoga tidak akan terjadi lagi konflik seperti ini..
" kamu tau rena, ini ga jadi masalah besar buat aku, aku pun punya ketakutan yang lain... "
"apa? β (rena sungguh ingin tau apa yang membuat suami nya takut)
__ADS_1
" aku punya trauma, yang mungkin orang lain ga tau.. aku dilema sayang, di samping aku ingin memiliki anak dengan mu, tapi aku takut menghadapi persalinan nanti, kamu tau itu kan, taruhan mu nyawa.. "
rena terdiam sejenak, ia melanjutkan kegiatan nya, beralih ke bagian tubuh suami nya yang lain.. mengoleskan salep untuk menghilangkan memar yang ada pada tubuh suami nya, pelan, rena takut suami nya kesakitan..
"aku tau, itu akan sakit sayang, tapi rasa itu ga akan berarti, setelah melihat anak kita nanti, semua perempuan mendambakan menjadi se orang ibu" (tatapan mata rena berbinar, mengalirkan kebahagiaan)
"tapi aku yang takut " (jawab rey)
"kita punya Allah sayang, semua sudah di gariskan, kalaupun harus bertaruh nyawa, aku ingin punya anak banyak"
rey tersenyum., ia ingat rena ingin punya anak lima, itu pun tidak termasuk Nino,
"kamu tau,? waktu keguguran kemarin, itu sangat sakit rey, tapi rasa sakit itu hilang, saat aku tau aku mengandung lagi, itu sungguh jadi obat untuk ku"
rey memeluk istri nya,
"hey jangan begini, nanti ada yang masuk"
"peluk sebentar, aku sayang kamu rena.. "
"kenapa kamu ga banyak permintaan? "
"maksud nya?? " (rena bingung dengan pertanyaan suami nya)
"wanita suka banyak mau nya, apa lagi saat hamil"
"entah lah, memang ga mau apa apa, semua nya udah ada di rumah"
"apa kamu senang? " ( rey mendongkakkan wajah nya menghadap sang istri)
"bagaimana aku ga senang sayang, kalian memeberikan cinta dan sayang kalian,
terutama momi, aku sangat bersyukur punya mertua seperti nya, sungguh momi bisa menggantikan mamah,
__ADS_1
jadi apa lagi yang aku ingin kan? "
"kamu masih betah di rumah momi??, kapan kita akan pindah ke rumah kita? (tanya rey) "
"aku belum siap sayang.. "
rey tersenyum.
"baik lah, seperti yang kamu mau.. "
rey mencium istri nya,
ya dari kecupan,, hingga berubah menjadi ciuman yang lama.. mereka rindu se minggu berpisah, namun ke adaan tidak memungkin kan,
ceklek..
pintu ruangan rey terbuka, momi datang, ia melihat adegan itu, namun momi mundur menutup lagi pintu nya,
rena terperanjak, melepaskan ciuman nya,
"siapa tadi?? (wajah nya sudah merona malu)
" momi (jawab rey sambil tertawa)
"tuh kan, kamu sih aku kan malu... "
rey malah tambah tertawa,
"ayo lanjutkan, momi keluar lagi"
"ich dasar, ayo pake baju.. nanti yang ada masuk angin... "
rey masih tertawa, rena membereskan perabotan nya, ia pergi ke kamar mandi,
__ADS_1
"aku malu rey... " (bergumam di kamar mandi menatap wajah nya sendiri)