
"aku yang memiliki banyak kekurangan Nino, aku sempat berpikir apakah aku pantas jadi istri mu, hidup ku tidak normal seperti wanita lain, Hans selalu membayangi ku,
kamu bagai cahaya yang membuat hidupku terang, aku yang harus belajar banyak tentang kamu,
sungguh aku sangat beruntung mendapatkan kamu dan keluarga kamu"
Nino mendekat, mencium kening istri nya lama, ia menarik nafas sedalam dalam nya, dan menghembuskan nya,
menarik pelan July untuk dia peluk, satu tangan Nino mengusap punggung July yang terluka,
"aku ga bisa bayangin kalo sesuatu terjadi sama kamu Ana, Allah masih kasih kita kesempatan untuk bahagia"
July menelusupkan wajah nya di dada Nino,
"kamu pikir aku bisa hidup tanpa kamu?, pagi tadi baru saja kita menikah, masa iya malem nya harus kehilangan kamu"
Nino tertawa kecil,
"terus aku harus gimana kalo aku yang kehilangan kamu? apa kamu pikir aku akan senang jadi duda di malam pengantin"
July merengut,
ia mengangkat wajah nya,
"masih banyak perawat yang suka sama kamu kan, kamu tinggal pilih salah satu nya" ucap July kesal,
"masalah nya kamu pergi bawa cinta aku, mana bisa aku cinta sama yang lain"
July mencubit perut Nino,
"aduh, sakit lah, kaya tante putri aja suka cubit perut"
"abis nya kamu gombal"
"aku gombal suma sama kamu"
Nino membawa lagi July dalam pelukan nya,
sampai mereka tidur melewati malam dalam mimpi...
***
Rena merasa sesak di dada nya, ia juga tiba tiba merasa mual yang lumayan,
Rey terusik, merasa pergerakan di tempat tidur mereka,
"sayang, mau kemana? “ tanya Rey pada Rena
"dada ku sesak yah"
mendengar itu Rey langsung bangun, berjalan dengan lutut nya di atas kasur untuk sampai pada istri nya,
"aku mual, badan sakit, kepala juga pusing" Rena memijat tengkuk nya
Rey membantu nya, ini masih jam 4 pagi
"aku telpon dokter ya? "
"engga usah yah, nanti aku aja yang ke RS buat cek"
"kamu terlalu lelah,
apa perlu sesuatu?, aku ambil air hangat dulu ya? “ Rena mengangguk,
ia memang merasakan sakit sejak kemarin di perut nya, namun dengan minum obat sakit itu mereda,
Rena bangun, ia hendak pergi ke kamar mandi, namun ia merasa kepala nya berputar, tangan nya meraba dipan yang bisa ia pegang untuk tumpuan..
" sayang... "
Rey masuk ke kamar, ia terkejut melihat istri nya sudah tergeletak di lantai, menyimpan gelas sembarangan, Rey langsung memeluk istri nya
"bunda..." menepuk pipi nya perlahan, tidak ada respon, Rey mengangkat Rena kembali ke tempat tidur, membaringkan nya perlahan,
"sayang... " Rey mengusap pelan lengan istri nya, namun Rena tidak bergeming
__ADS_1
"jangan buat aku panik sayang.. "
Rey bangkit, meraih HP nya, menelpon dokter Dona untuk datang,
bi sari terkejut melihat kedatangan dokter dona pagi pagi sekali di rumah
"dok ada apa? “
" Rey menelpon saya, katanya bunda pingsan"
"ya Allah.. ayo dok saya antar"
bi sari bergegas ke kamar tuan nya,
tokk tookk tokk
"tuan, ada dokter dona datang"
"masuk lah bi" Rey menyahut dari dalam. ia terlihat mengolesi perut sangat istri dengan kayu putih
"tuan sejak kapan ibu pingsan? " tanya Dona
"setengah jam lalu, di mengeluh pusing dan mual" ucap Rey, ia memberi ruang untuk Dona memeriksa istri nya
"kemarin waktu mau pernikahan, bunda hubungi saya, menanyakan obat sakit perut,
setelah bilang apa yang bunda keluhkan, saya mendiagnosa kalau lambung nya luka, saya resep kan obat tuan"
"Rena ga hilang apa apa sama saya,
apa bibi tau? “ tanya Rey, ia terlihat marah,
" iya tuan, bunda minta sopir beliin obat kemarin lalu di minum sebelum berangkat ke gedung"
"asam lambung nya naik tuan, jadi bunda merasa mual, lambung juga mengakibatkan pusing" ucap Dona
"apa harus ada tindakan? " tanya Rey,
"hanya pemeriksaan lebih lanjut saja tuan, seperti nya bunda melupakan obat nya "
Rena mulai terusik ia sadar,
dokter Dona tersenyum, Rena melirik suami nya, ia tampak bingung,
"bunda tadi pingsan.. " Dona mengusap tangan Rena, Rena tersenyum,
"maaf merepotkan pagi pagi begini"
"engga sama sekali bun,
nanti siang saya tunggu di RS untuk pemeriksaan lanjut ya bunda? "
Rena menghela nafas nya,.
"baiklah dok"
Dona tersenyum.,
"saya pamit dulu ya bunda"
"terimakasih dok"
Rey mengantarkan Dona sampai pintu kamar nya,
"apa hanya lambung? jangan ada yang di tutupi Dona"
"inshaAllah hanya itu tuan, maka dari itu saya minta bunda untuk cek ke RS"
Rey mengangguk, ini pertama kali Rena mengeluh sakit sampai pingsan begini,
"terimakasih, hati hati ya? "
"baik tuan, saya permisi, assalamu'alaikum"
"waalaikumsalam"
__ADS_1
bi sari memijat kaki Rena, Rey kembali
"bi tolong bawakan sarapan"
"ayah ini masih jam 5“ Rena menolak
"apa beda nya, kamu harus minum obat"
Rena pasrah, bi sari undur diri.
Rey masih berdiri, ia melipat kedua tangan nya di dada menatap sang istri
"kenapa kamu ga bilang kalo sakit? “
" aku ga apa apa...
"stop bilang ga apa apa Rena"
Rena belum selesai bicara, namun Rey memotong nya, bahkan ia marah, Rena tertunduk, entah kapan terakhir kali Rey menyebut namanya langsung seperti baru saja ia dengar, bahkan Rey marah, sudah lama sekali Rey tidak. menyebut namanya,
melihat istri nya terdiam Rey menghembuskan nafas nya kasar,
"aku ga suka ini, kamu selalu mementingkan orang lain dari pada diri kamu sendiri Rena kita punya banyak orang kenapa kamu urus pernikahan Nino sendiri sampai kamu lupa makan bahkan sakit"
"Nino anak ku Rey bukan orang lain, aku ibu nya" mata Rena sudah berlinang, hati nya tidak bisa Terima perkataan Rey tadi,
Rey terdiam, mereka saling tatap,
"aku tau itu, kamu sangat bahagia Nino menikah, tapi lihat efek nya,
kamu sendiri yang rasa kalau kamu sakit, jangan paksakan itu, aku ga merasakan nya Rena, bahkan aku ga tau kamu minum obat.
aku membayar mereka Rena, untuk apa? untuk membantu apa yang kita butuhkan "
Rena memejamkan mata nya, sungguh kepala nya masih terasa berputar. Rey melihat itu mendekat, merangkul bahu nya,
"lepas Rey" Rena menghindar
bukan menjauh, Rey malah memeluk nya, rena memukul punggung nya beberapa kali, ia menangis lagi
"kenapa kamu panggil nama aku? itu sudah lama sekali, aku merasa tersinggung"
Rey mengusap rambut istri nya,
"aku khawatir sayang, maaf...
kamu selalu bilang baik baik aja, kamu ga pernah ngeluh, tapi lihat sekarang, kamu sakit bahkan sampai pingsan, kamu lagi ga baik baik aja, aku ga suka itu"
shanum yang merasa khawatir terdiam di depan pintu mendengar pembicaraan ayah bunda nya, ia mengurungkan niat nya menjenguk Sang bunda, orang tua nya butuh privasi
"aku merasa baik baik saja, makanya aku ga ngeluh" jawab Rena
"ga mungkin kalo baik baik aja kamu telpon Dona"
Rena terdiam, masih ada isak di bibir nya, Rena bahkan tidak membalas pelukan Rey
"aku khawatir kamu sakit, siapa yang perhatiin aku kalo kamu sakit? kamu tau aku ga bisa tanpa kamu, aku udah biasa kamu urusin keperluan aku"
Rey menangkup kedua pipi istri nya, memandang nya dengan sedih,
"jangan pernah ada yang di tutupi oke, kamu sakit bilang sakit"
Rena mengangguk,
"badan kamu sendiri yang bakal ngerasain kalo kamu sakit, bukan orang lain,
janji sama aku jangan pernah ada yang di tutupi? "
Rena mengangguk lagi
"maaf kalau ada kata kata aku yang nyinggung kamu, aku khawatir sungguh sayang"
"iya aku tau,
maaf juga atas. semua ini aku ga tau bakal. parah begini" Rena pun merasa bersalah atas yang ia lakukan,, Rey memeluk nya lagi mendekap dengan erat istri nya, istri yang begitu banyak ia susahkan hidup nya..
__ADS_1