
"Jullyana, kamu masih punya waktu sampai besok pagi, datang besok pagi pada ku, aku akan membawa mu pergi dari sini dan hidup bahagia, atau kamu pilih siapa yang akan aku singkirkan"
Hans lagi lagi mengirim pesan..
ia bahkan mengirimi July foto kebersamaan nya dengan keluarga Nino
"kamu datang pada ku.. atau aku akan melenyapkan 3orang sekaligus, anggap saja penebus diri mu sayang"
_ tiga orang?? _ July bergumam dalam hati nya, tangan nya bergetar, perias yang sedang memakaikan hena di tangan July terkejut. calon pengantin wanita nya terlihat syok..
"nona, ada apa?? “
July menoleh pada nya,
" engga mba, teruskan saja.. " pinta July
"kamu mau aku kan??, baiklah aku akan datang besok pagi Hans, dimana kita akan bertemu?? “ July membalas pesan Hans
Hans tersenyum di tempat nya,
namun tidak dengan Nino, ia syok melihat balasan dari July
" jangan libatkan siapa pun, kamu mau aku.. baiklah. aku akan datang... " kata July lagi
"tapi aku ragu padamu sayang, bagaimana kalo kamu membohongi ku lagi?? "
"terserah padamu Hans, aku sudah mencoba berdamai pada mu. jika kamu ga percaya itu urusan mu.. "
"owh sayang jangan marah..
aku akan menunggu mu besok pagi jam 7, untuk tempat nya, akan aku kirimkan besok"
July hanya membaca nya.. ia tidak berniat ingin membalas pesan Hans lagi,
"kak. kakak ga apa apa? muka kakak tiba tiba pucat.. " shanum mengusap pundak July,
July tersenyum,
"engga dek.. perut kakak ga enak kenapa ya?? “
" mungkin kakak masuk angin,, mau aku balur kayu putih? aku punya di tas... "
"boleh dek. tapi kalo udah beres ini aja ya.. "
July melirik tangan nya yang baru sebelah di Pakaikan hena,
"baiklah.. mau aku pijit kepala nya kak? “ kata shanum..
July tampak malu,
" kepala kakak ga sakit dek, cuma perut aja ga enak rasanya"
"apa kakak perlu obat??“
" kita liat sebentar lagi deh kalo masih sakit perut nya, baru kakak minum obat"
"oke kalo gitu, aku mandi dulu ya.. "
July mengangguk, ia suka pada shanum.. shanum anak yang baik.
Nino gelisah,
bagaimana jika benar July akan pergi menemui Hans dan Hans membawanya pergi,
Nino sudah menggenggam kunci mobil, ia akan ke hotel saja menemani July di sana..
tapi ia urungkan lagi,
"apa July hanya memancing Hans saja? “ Nino bergumam,
" July percaya sama aku masa aku ga percaya sama dia.. tapi gimana kalo benar"
Nino keluar kamar di bawah sudah berkumpul keluarga nya, rumah ramai dengan anak anak.. Nino turun..
"penganten mau kemana? “ tante putri menggoda nya,
__ADS_1
" Nino cari om frans" ucap nya celingukan.
"apa ada sesuatu? " tanya Rena, ia melihat wajah putra nya cemas,
Nino tersenyum.
"engga bun, tadi Nino tanya om, kata nya dia di bawah. tapi ga ada.. "
"kayanya di ruang kerja ayah.. " ucap Rena,
"oke deh.. Nino ke ruang kerja ayah ya.. "
"baiklah.. jangan sampe malem ngobrol nya.. kami harus istirahat biar fresh besok"
"siap bun.. tante Nino ke ruang ayah dulu ya"
"iya sayang.. " putri tersenyum
"tambah ganteng aja ponakan ku kak" ucap nya lagi.
Rena mengangguk,
"semakin hari Nino semakin terlihat aura nya, seperti nya dia sangat bahagia.. "
"itu harus kak... "
***
"om ada kabar tidak baik.. " Nino duduk di sebelah Frans, ia menunjukan percakapan July dan Hans..
"kita harus tetap waspada Nino" ucap Frans
"aku takut.. "
Frans mengusap pundak nya,
"kamu percaya July?? “
" sangat.. "
Nino mengangguk,
"July ga akan semudah itu menyerahkan diri nya Nino" ucap Rey,
"tapi yang jadi masalah Hans mengancam kita juga yah.. "
"jodoh, maut, rezeki di tangan Allah Nino, kita ga perlu takut sama manusia" ucap Rey,
Frans mengangguk setuju,
"kami tau apa yang harus kami lakukan.. percayakan sama kita, besok kita juga akan pantau lokasi..
apa harus kita pura pura longgarkan penjagaan, biar nona July bisa keluar, dengan itu kita bisa tangkap Hans dengan mudah.. " ucap Frans
"om jangan macam macam.. kalo itu jebakan buat July dan kita bagaimana?,
aku ga mau ambil resiko om, aku ga tau harus gimana kalau July terluka atau Hans membawa nya, besok kita akan menikah.. "
Frans tersenyum. Nino sangat tegang sekali membicarakan hal ini,
"tenang saja.. om masih punya perasaan kok" Frans menyeruput minuman nya, ia bangkit dan pamit, tanggung jawab nya sangat lah banyak, ia akan melanjutkan tugas nya.
_Gamang_
kata itu yang kini pantas untuk July, mata nya tertuju pada TV, namun pikiran nya entah kemana, shanum sudah tidur, ia pulas sekali..
_ apa yang harus aku lakukan?
kenapa aku yang harus bertemu lelaki gila seperti Hans dalam kehidupan ku, aku menyesal tidak membunuh nya saat dia menculik ku,
sekarang bukan hanya mengusik lelaki yang dekat denganku saja.. keluarga Nino juga ter ancam.. aku ga mau ada korban lagi,
bagaimana ini ya Allah, apa yang harus aku lakukan..? _
"mah.. aku harus gimana? aku sayang sama Nino aku nyaman dengan keluarga nya,
__ADS_1
besok aku akan menikah mah, tapi kenapa aku di hadapkan kesulitan? "
July memeluk lutut nya, ia menyembunyikan wajah nya di sana.. July menangis,
_ kalau aku pergi menemui Hans besok, dia akan merasa menang, tapi bagaimana aku keluar dari sini?? lebih baik aku saja yang pergi, aku tau Hans tidak pernah main main dengan ucapan nya_
dadanya begitu sesak, July sengaja mematikan HP nya, ia tidak mau di ganggu,
ingin sekali ia tidur di pelukan Nino, meminta maaf pada nya atas semua ini
"kenapa hati ini harus jatuh pada Nino?, seharus nya mungkin aku ga pernah jatuh hati sampai kapan pun.. "
seseorang mengetuk pintu,
July terkejut, ia langsung bangun dan membuka pintu
"hey HP kamu ga aktif?? “ Al datang, ia khawatir beberapa kali Nino menelpon nya menanyakan July,.
" aku sengaja mematikan nya"
July membuka pintu lebar untuk papah nya masuk, Al mengikuti putri nya. ia tidak tau masalah ancaman Hans, Nino juga tidak memberitahu nya.
"apa ada masalah? “
July tersenyum, lalu menggeleng,
" aku lagi pengen sendiri.. makanya aku matiin HP"
"kamu nervous? “ tanya Al tersenyum,
July mengangguk
" sangat.. "
"kemarilah nak.. " Al memeluk nya, entah kenapa tiba tiba July menangis, bahkan terisak sedikit kencang,
"July kangen mamah... July butuh mamah saat seperti ini, kenapa mamah yang harus ninggalin July, padahal July saja yang pergi.. "
"hey ga boleh ngomong begitu, kamu kenapa? " Al hendak meregangkan pelukan nya, namun July memeluk nya begitu erat, ia menyembunyikan wajah nya di dada Sang papah,..
"lebih baik meninggalkan, daripada ditinggal kan pah, itu sakit.. "
Al ikut memanas matanya.. itu memang benar, tapi takdir Allah mau bagaimana lagi dapat di rubah..
"sayang, kamu tau kenapa Allah memberikan beban pada umat nya,
karna Allah yakin kita mampu"
"walaupun akhir nya harus menyerah dengan ke matian misal nya?? "
Al merasa aneh dengan ucapan putri nya,
"walau akhir nya kita di takdirkan untuk meninggalkan semua, tapi Allah telah melihat kita sudah berusaha semaksimal mungkin, dan balasan kesabaran adalah surga.. "
July terdiam, ia sedikit melonggarkan pelukan nya,
"ini memang sulit sayang, kamu akan menikah dan tidak ada sosok mamah di samping mu, tapi bukan berarti papah tidak bisa menggantikan posisi mamah mu, cerita lah, apa yang membuat kamu menangis seperti ini..?? "
July hanya menggeleng,
ia melepaskan pelukan nya.
"July cuma kangen mamah, ga ada yang lain.. "
Al menatap mata putri nya lekat..
"istirahat lah besok kamu akan menikah.. liat mata mu sembab karna menangis, itu akan terlihat jelek esok nak"
July menyeka airmata nya,
"iya pah.. "
"papah kembali ke kamar, aktifkan dulu HP mu, siapa tau ada yang penting dari Nino"
"baiklah.. "
__ADS_1
Al pergi, entah kenapa July merasa jadi wanita cengeng, matanya terus meneteskan air tanpa permisi...