
"maaasssss" July berteriak di dalam kamar mandi, ia masih setengah sadar saat bangun barusan,
Nino cepat cepat datang menyusul istri nya
"ada apa? “ tanya nya cemas
"apa ini?? “ July menunjuk leher nya, beberapa tanda merah berada di sana
"coba aku lihat" tanpa rasa bersalah Nino memperhatikan tanda itu,
"aku malu, nanti bunda sama yang lain lihat kenapa di sini sih"
July merajuk, Nino tertawa mencium pipi istri nya
"aku kan bilang jangan di sini malu"
"aku ga sadar sayang, lagian kamu juga ga cegah aku"
"aku ga ngerasa kamu bikin ini, kalo tau pasti aku cegah"
"saking enak nya ya?? ampe ga sadar" Nino memeluk istri nya,.
"mas malah ngeledek deh, aku mandi dulu ah"
"ayo aku bantu" tangan Nino sudah masuk ke dalam piyama istri nya
"mas, bentar lagi subuh, kita harus mandi"
"sekali aja" bisik Nino lagi,
bagaimana July bisa menolak, Nino telah membuka semua kancing piyama nya dengan cepat
***
Rena tersenyum melihat menantu nya telah turun, ia terpesona pada July yang sangat cantik,
"Nino pasti meminta nya menggunakan jilbab" ucap Rena pada bi Sari,
"MasyaAllah cantik ya bun non Ana"
"iya bi"
"pagi sayang" ucap Rena tersenyum,
"pagi bun, July bantu bikin sarapan ya? "
"boleh sayang"
July terlihat salah tingkah, ia takut di tanya bunda nya kenapa pakai kerudung,
"mas ini gimana nutupin nya, aku udh coba tutup pake bedak tapi masih keliatan" July dan Nino berdebat, tapi Nino malah tertawa melihat July yang panik,
"tutup saja pakai rambut" ucap Nino enteng
"mas ini di depan banget, masa aku lilit rambut aku di leher, nanti kalo ga sadar aku iket rambut gimana? “
Nino berpikir sejenak,
dia mendapat kan ide, meraih HP nya di meja, Nino mengirimkan pesan pada shanum
" dek pinjem jilbab rumahan"
"buat apa kak? “
" kakak mu mau belajar pake jilbab"
"wah, MasyaAllah, aku punya kebetulan baru beli kemaren, belum di pake"
"nah kebetulan, sini kakak beli, kakak ke sana ya"
"oke"
"tunggu di sini" ucap Nino pada istri ny
5menit July menunggu, Nino datang membawa paperbag di tangan nya
"apa itu? “
" jilbab" ucap Nino
July terdiam
"buat nutupin itu, kan aman pake jilbab" July manyun, ia m mukul dada Nino pelan
"ahahaa, maaf oke, anggap aja ini hidayah dari Allah, kamu kan jadi pake jilbab deh"
July memakainya, ada dua jilbab di sana shanum juga memberikan ciput untuk July pakai, Nino tersenyum senang melihat istri nya,
"sayang kamu beneran cantik deh"
"aku belum PD mas"
"kamu percaya ga sama aku?, aku ga boong, kamu cantik beneran"
Nino memeluk nya,
"nanti siang kita jalan oke, aku beliin kamu jilbab yang banyak"
__ADS_1
July tersenyum, walaupun gara gara tanda itu ia. menggunakan hijab, tapi benar kata Nino, mungkin saat nya ia menutup aurat nya walaupun July jarang sekali menggunakan baju terbuka,
"Ana.. " Rena memanggil menantu nya
"bunda titip ini ya.. bunda lupa obat bunda di kamar"
rena menyerahkan penggorengan pada July,
"siap bun" July tersenyum. bunda nya sedang membuat bakwan jagung,
Rena menaiki tangga menuju kamar nya,
ia berpikir ingin memberi hadiah pada July, Rena memiliki jilbab baru beberapa buah..
" ayah udah siap? " tanya Rena pada Rey,
"ayah baru mau ke bawah, bunda mau ngapain? “
" obat ketinggalan" Rena meraih kotak obat nya di atas meja
"kenapa ga minta tolong ayah, kamu baik turun tangga jadi nya"
"ada yang mau aku ambil juga yah"
Rena membuka lemari tempat kerudung nya, meraih nya di tempat paling atas, Rena tersenyum,
"bunga, kamu ingat aku pernah hadiahkan beberapa jilbab untuk mu,?
aku ga nyangka, kini aku akan memberikan jilbab ku untuk putri mu"
Rena cepat memasukan nya ke dalam kotak,
ia mengajak Rey untuk turun.
Nino dan shanum sudah berkumpul,
July menghidangkan makanan,
"MasyaAllah kan bunda jadi seneng, rumah ini jadi hangat" Rena duduk di kursi nya,
"bunda kak Ana cantik ya pake jilbab" shanum memuji,
"sangat sayang, lihat bunda bawa apa" Rena menaruh kotak yang ia bawa di atas meja
"sayang kemarilah"
Rena memanggil menantu nya, July mendekat..
"ini ada hadiah buat kamu, Terima ya"
"apa ini bunda? "
"kamu boleh buka sekarang atau nanti di kamar sayang"
July melirik suami nya
"buka lah " ucap Nino,
July terus tersenyum. melihat isi dari kotak yang bunda nya berikan,
"bunda ini bagus sekali, makasih ya" July memeluk Rena
"semoga istiqomah ya sayang, pelan pelan aja"
July mengangguk, ia terharu...
lain lagi dengan Nino yang senyum senyum penuh arti,
July dan shanum mengambil alih posisi Rena pagi ini, July melayani suami, dan bunda nya, dan shanum melayani ayah nya,
" terimakasih nak, sudah cukup" Rey tersenyum pada putri nya, mereka melanjutkan kegiatan sarapan dengan tenang.
hari terus berganti,
Nino di padat kan dengan pekerjaan nya, July pun demikian, ia sedang mengembangkan bisnisnya di Indonesia, Rakha merekrut banyak calon karyawan untuk di tugaskan di Indonesia,
pembangunan kantor mulai berjalan, July dan Nino sampai mengundur jadwal bulan madu mereka.
tepat hari ini, satu bulan sudah pernikahan mereka, Nino yang meliburkan praktek di RS membuat kejutan kecil kecilan,
makan malam romantis di sebuah cafe yang cukup terkenal di sini,
ini sudah jam 7 malam. namun July belum memberi kabar lagi akan kepulangan nya, Nino sempat protes pada nya karna selalu pulang melebihi jam kantor dan kelelahan,
Nino sampai di gedung kantor sementara yang July sewa,
mobil memang masih banyak terparkir di sana, menandakan karyawan yang lain pun belum pulang.
Nino menelpon lagi istri nya sebelum turun dari mobil, namun masih belum July angkat,
terpaksa ia harus turun dan menjemput paksa istri nya itu..
"malem pak dokter, mau jemput ibu ya? “ se orang security yang berjaga menyapa Nino
“iya nih. malem terus pulang nya" Nino menggelengkan kepala, security tersenyum
"iya dok, lagi sibuk ya ibu nya? "
__ADS_1
HP Nino bergetar panggilan masuk dari Rakha,
_ Rakha? bukan nya dia di dalem? _
Nino mengangkat panggilan nya langsung
"kak, ada dimana? " Rakha langsung memberondong Nino dengan pertanyaan nya
"kakak di depan kantor, ada apa? “
" cepet masuk kak, kak July pingsan "
tanpa menjawab perkataan Rakha, Nino masuk cepat ke ruangan sang istri, July sudah di baringkan di sofa, Rakha terlihat takut pada Nino,
Nino mendekat, mengusap pipi istri nya
"sayang... "
"dari kapan kakak mu pingsan"
"baru saja kak"
Nino mengecek detak jantung istri nya, masih normal,
"Rakha, Ana biasa nya bawa kayu putih di tas nya, coba cek"
Rakha langsung meraih tas July di kursi kerja nya
"ada kak"
"bawa sini... "
Nino membuka sepatu istri nya, mengusapkan kayu putih di telapak kaki dan mendekatkan ke hidung "sayang... bangun" Nino terus menatap istri nya beberapa orang pegawai memperhatikan mereka,
July terusik, ia bangun,
Nino membuang nafas nya lega, memakaikan lagi sepatu di kaki istri nya, Nino meminta Rakha membawa kan tas July, ia menggendong nya menuju mobil
"mas, ada apa? "
Nino terlihat marah, ia tidak menjawab pertanyaan istri nya, July pasrah akan di apakan oleh suaminya ini..
"makasih Rakha, aku bawa Ana ke RS dulu" ucap Nino pada Rakha, rakha hanya mengangguk, ia mendapat tatapan yang tidak dapat ia artikan dari kakak nya July,
mobil melaju sedikit kencang, July yang baru siuman merasa tidak enak hati,
Nino menghindar dari sebuah motor di depan nya yang hampir saja ia tabrak
"mas... " July sedikit berteriak
"mas pelan pelan.. "
Nino malah memarkirkan mobil nya di pinggir jalan, ia memberhentikan mobil nya
" jadi sekarang bagaimana mau mu? “ tanya Nino pada July, July belum mengerti tentang apa yang Nino tanya kan
panggilan masuk Nino Terima dari pengelola kafe, ia telah 'reservasi, namun Nino belum datang
"ya... "
"batalkan saja, bagikan saja makanan nya ke pegawai di sana"
July memperhatikan Nino,
Nino menutup telepon nya, tanpa ada percakapan mereka sampai di rumah,
Nino begitu saja keluar dari mobil tanpa menunggu July, July melihat suami nya masuk ke rumah,
_ ya, aku salah mas maaf, aku tidak menggunakan kepercayaan mu, tapi di kantor sangat rumit, dan papah di Singapura sakit _
July hanya bisa berkata dalam hati nya, ia turun perlahan dari mobil, tapi kepala nya lagi lagi terasa berputar.. penjaga gerbang yang melihat July hampir jatuh menghampiri,
"ibu ga apa apa? “
"aku pusing" July bersandar di mobil,
"sep. penjaga berteriak"
"ada apa? “
" tolong panggil den Nino, ibu pusing"
asep langsung berlari, ia melihat Nino di ruang makan tadi,
"den.. den... ibu".
Nino melihat agus masuk tergesa
" ibu pusing mau jatoh"
Nino cepat kembali ke mobil, July telah berjalan memegang tangan penjaga,
"sayang maaf" Nino memeluk nya,
July menangis begitu saja, ia terisak,
"kepala ku pusing mas"
__ADS_1