
" Tuan Rey, kontraksi nona tidak meningkat, kami khawatir ini akan membahayakan bayi di dalam nya, ketuban juga sudah rembes"
"apa harus ada tindakan? "
"ada dua pilihan tuan, proses induksi atau Cesar"
"apa itu? " sarah memilih kata yang mudah untuk di cerna dalam situasi seperti ini, agar tidak ada perdebatan,
"induksi ini rangsangan untuk kontraksi, sebelum nya nona mengatakan tidak mau melahirkan Cesar"
"tapi jika itu harus di lakukan kenapa tidak" kata Rey "apa yang terbaik untuk rena dan calon anakku? "
"begini tuan, jika induksi, memang akan melahirkan normal, namun ada waktu sedikit lama proses nya, itu bisa sampai sore nona melahirkan, dan bayi harus d pantau terus karna di takutkan melemah, karna proses pemberian induksi melalui infus jadi efek nya lama,
namun jika akan cesar, sekitar sejam lagi juga kita bisa lakukan "
"lakukan yang terbaik" ucap Rey,
"lebih baik Cesar saja lebih cepat, aku ga mau terjadi sesuatu dengan anak ku, terlebih dengan rena"
"jadi akan Cesar? " dokter sarah meyakin kan, rey terlihat diam, jika dulu istri nya Marsya melalui Cesar sendiri, ia akan menemani rena ia harus memastikan kedua nya baik baik saja.
"ya kita Cesar" jawab rey
"baik tuan kami akan siapkan"
Rey kembali pada istri nya, rena sudah terlihat tidak enak diam,
Rey memberikan minum untuk istri nya,
sarah langsung mengecek detak jantung bayi, tensi darah rena dll.
sarah tersenyum, melihat begitu siaga nya rey, beberapa perawat yang berjaga menyaksikan, bagaimana pemilik RS itu begitu tegang dan khawatir pada istri nya.
"apa?? " rena bertanya,
rey tersenyum, menggenggam tangan istri nya, ia menyimpan nya di pipi.
"kamu harus Cesar sayang, untuk anak kita, kamu lemah dan anak kita takut keracunan ketuban"
rena kini yang tersenyum,
"aku siap, lakukan lah"
ruang oprasi telah di siapkan, dokter Sarah sendiri yang datang membawakan baju steril untuk Rena pakai,
"nona, anda harus ganti baju"
rena menegang, memandangi baju khas RS itu,
"biar saya yang gantikan " ucap rey, Sarah memberikan nya,
"ya Allah aku paling takut mendengar kata oprasi, dan kini hal itu harus aku lewati" rena bergumam dalam hati nya,
rey membantu, membuka kerudung dan pakaian istri nya, memberikan kecupan di beberapa tempat,
mereka sama sama tegang, pandangan mata mereka bertemu,
"aku kangen mamah" ucap rena "aku mau di temenin mamah"
"sayang" rey langsung memeluk nya,
"mamah sudah tenang, ada aku di sini, aku akan ikut masuk oke"
rena meremas kemeja suami nya, ia takut..
"kita punya Allah, jangan takut"
rena mencoba tersenyum. padahal ia pun melihat ketegangan di wajah suami nya
"ya aku bisa... " ucap nya kemudian
"ini baru satu, bukan kah kamu mau lima? β rey menggoda istri nya rena cemberut,
__ADS_1
" akan ku pertimbangan lagi nanti"
itu membuat rey tertawa,
"kamu ibu yang kuat sayang"
Rena di bawa ke ruang oprasi, seketika suasana tegang, mereka yang bertugas tidak pernah menyangka akan mendapatkan kehormatan melayani bos mereka ini,
Sarah mendekat, rena di bangunkan,.
"kita akan suntik nona, jangan tegang oke"
rena mengangguk,
Sarah memberikan arahan posisi untuk rena, punggung nya ia tegak kan,
rey melotot melihat jarum suntik anestesi, yang kan dokter laki laki itu lakukan,
"dok" rey memanggil nya,
"iya tuan" dokter farhan berbalik,
Sarah menyadari itu, rey pasti akan protes,
ia memberanikan diri, karna takut akan ber efek pada rena Protes suami nya itu
"tuan" Sarah mengedipkan kedua mata nya dengan dalam,
rey diam, ia mengangguk,
dokter farhan melanjutkan lagi tugas nya, mengoleskan alkohol di tempat yang akan ia suntik
"tarik nafas nona" kata farhan
rena menarik nafas, "bismillah ya Allah"
tubuh rena seketika tersentak merasakan tusukan dari jarum itu, ia terlihat menundukkan kepala menahan sakit,
dokter sarah memberikan obat tidur untuk rena, agar ia tidak tegang, karna efek bius hanya dari perut sampai kaki saja..
rena mulai merasakan kebas, kaki nya berat untuk di gerakan,
rey duduk di sebelah nya memandang istri nya,
"berdoa sayang " rey menggenggam kan tasbih kecil, untuk rena genggam dan rey pun menggenggam tangan istri nya, rena mulai tertidur, mata nya sangat berat untuk ia buka.
kedua dokter dan tiga perawat membaca doa sebelum melakukan operasi, meminta pada Tuhan agar di beri kelancaran,
rey memandang wajah istri nya, bagaimana bisa Tuhan menciptakan wanita seperti rena,
pertemuan mereka tidak terduga di hotel tempat rena bekerja dan yang tak lain milik rey,
Rey melihat bagaimana rena memperhatikan Nino, sejak ia turun dari mobil, dan entah mengapa, rey memiliki perasaan tertarik pada rena, setelah lima tahun hati nya dilanda kegersangan,
rey ingin selalu menatap nya, padahal di Sana begitu banyak orang, hanya rena lah yang ingin ia lihat, semesta memihak nya untuk dekat dengan rena walaupun Rena awal nya harus terluka,
jangan, jangan lagi ada perpisahan, cukup ia dan kenangan nya dulu, cukup rey dan Marsya yang berpisah,
rey memperhatikan tangan mereka yang saling menggenggam walaupun tangan rena mengendur karna ia tertidur, suara peralatan medis dan percakapan sarah dan farhan menjadi backsound adegan demi adegan, entah berapa lama terlewati, rey begitu betah menatap wajah teduh istri nya, wanita yang selalu terluka secara tidak langsung karna nya, begitu banyak kejadian dari awal pernikahan mereka, namun rey janji, akan selalu membuat wanita nya tersenyum, membuat wanita nya bahagia, cukup sudah kejadian kejadian di masa lalu, kini mereka harus bahagia..
"MasyaAllah" Dokter Sarah berseru..
suara tangisan bayi memecahkan lamunan rey, seketika bibir nya tertarik, rey menangis, namun tangis bahagia,
di ciumi nya tangan rena dalam genggaman, tangan nya mengusap pipi sangat istri,,
"selamat sayang.. " ucap nya, rey bangkit mencium kening rena,
dokter Sarah menegang, bayi yang sedang ia bawa ke ranjang bayi berjenis kelamin perempuan prediksi nya salah total, ini baru pertama kali nya terjadi selama dia menjadi seorang dokter, Sarah tersenyum,
"doa mu sangat kuat rena.. kamu mau anak perempuan bukan? doa mu begitu Allah dengar"
Sarah segera membersihkan si bayi yang begitu lucu, mata nya berkaca, ia ingin segera membangun kan rena memberi kabar
__ADS_1
"dok.. detak jantung nona rena melemah"
susan meminta perawat melanjutkan pengurusan si bayi,
" rena.. " Susan memperhatikan monitor, pergerakan detak jantung rena naik turun..
"dok ada apa? " rey bertanya ia jelas khawatir,
"tuan detak jantung nona melemah
rey memandang lagi istri nya,
" tuan saya mohon maaf, anak anda perempuan bukan laki laki" dokter sarah terdengar gemetar suara nya namun rey tersenyum,
"dimana putri ku, bawa kemari"
sarah mengangguk,
ia cepat cepat, membawa tuan putri pada ayah nya, ia masih menangis, rey menggendong nya, mencium pipi kanan dan kiri nya.
"ayo bangun kan bunda mu sayang"
dokter farhan telah menyelesaikan tugas nya, rena sudah rapih kembali,
rey membawa putri nya mendekat ke wajah sangat istri,
"sayang lihat anak kita perempuan, bangun lah.. "
jantung nya berdebar, rey bersiap mengazankan putri nya, dokter Sarah sangat terharu, ia mengabadikan nya,
menyorot layar monitor, dan bergantian menyorot rey dan rena...
lantunan adzan terdengar begitu mengharukan, suara rey bergetar, mereka semua menyaksikan bagaimana cinta rey ter alunkan lewat suara adzan nya..
"meningkat" ucap farhan, Sarah benar benar tidak percaya ini, benarkah ini bukti dari kasih sayang?
rey melanjutkan melantunkan iqomah, sang putri berhenti menangis, ia seperti sudah mengenal suara ayah nya, bayi lucu itu terdiam, mata nya masih berkedip kedip, menyesuaikan cahaya di sekitar nya,
rey menciumi putri nya lagi,
"sayang, ayo bangun dia mau minum susu" rey terus berbisik,
semua proses Cesar sudah selesai,
rena harus ia bangunkan, detak jantung nya sudah kembali normal.
Sarah mengusap lengan rena
"nona.... sudah selesai ya.. "
Sarah beberapa kali membangunkan nya, dan akhir nya rena bergerak, ia terlihat menghirup udara sedikit dalam..
mata nya bergerak
"alhamdulillah... " semua mengucap syukur rey pun tak henti henti nya berucap syukur, rena benar benar membuat nya kehilangan, dia berhasil membuat orang orang di sana melihat cinta reynan baskara pada istri nya,
rena melihat suami nya menggendong bayi, tubuh nya masih lemah, dan sedikit susah di gerak kan.. Sarah mengusap kaki rena.
rena masih terlihat bingung, ia memang begitu ketika bangun tidur, itu salah satu yang membuat rey gemas pada istri nya,
"sayang..."
akhir nya rena tersenyum, itu membuat rey mendadak mencium bibir nya, perawat di sana yang melihat nya langsung menutup mata, tak terkecuali Sarah, ia tertawa...
"yah.. "
"hmmm.. ada kejutan untuk mu" ucap rey
rena terdiam,
"anak kita perempuan sayang" mata rena terbuka sempurna, benarkah apa yang suami nya bilang?
"sungguh? alhamdulillah" rena menangis, namun jelas ini tangisan bahagia, apa pun, laki laki ataupun perempuan bagi mereka sama saja, buah hati mereka yang akan selalu mereka sayangi...
__ADS_1