Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)

Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)
ASC episode 41


__ADS_3

Rey mengetuk ngetukan kaki nya di dalam mobil, entah kenapa, hari ini waktu terasa sangat lambat, tidak hanya konsultasi untuk terapi yang akan ia lakukan, rey melakukan rontgen,


ada sedikit kelegaan saat melihat hasil rontgen kaki nya, keretakan nya tidak lah terlalu parah, semoga ini tidak akan memakan waktu lama, untuk masa penyembuhan..


rey rindu istri nya,


sekarang ketika pergi sedikit lama, yang ia rindukan adalah rumah, terlebih istri dan anak nya,..


merogoh HP di saku celana nya, rey mendapatkan beberapa notif pesan dari sang istri,


"ayah, gimana konsultasi nya??"


"jam berapa pulang?? "


"apa sudah makan siang?? โ€œ


" ko ga bales??? (dengan emoticon sedih ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ)โ€œ


rey tersenyum melihat pesan dari sang istri,


mengabaikan notif yang lain walaupun sangat lah penting, hanya pesan dari istri nya yang mampu menarik perhatian nya,


"kamu kangen hmm?? "


(balas rey pada rena)


merasa HP nya bergetar, rena bangun dari duduk nya, ia sedang menemani Nino, menikmati cemilan sambil menonton TV,


seperti anak ABG, senyum senyum sendiri saat mendapat kan pesan..


"engga, aku cuma hawatir" ( jawab rena singkat)


"hmmm, baiklah, karna kamu ga kangen, aku ga akan pulang" (jawab rey menggoda)


rena melotot di tempat nya. mendapat jawaban seperti itu dari sang suami


"bener ga akan pulang?? syukurlah kalo begitu aku mau pergi ya"


rey tidak kalah melotot mendapat pesan seperti itu,


" silahkan saja tuan putri, memang mau pergi kemana? kamu ga tau langkah mu terkunci di rumah?? "


"begitu ya? kalo begitu aku mau menghilang saja"


rey tidak pernah suka membahas pergi dan menghilang, walaupun itu hanya sekedar becanda.. ia tidak mau kehilangan siapa siapa lagi, terlebih kata kata itu keluar dari mulut rena.


menggenggam HP nya erat, rey mengetuk ngetuk HP pada dagu nya,


ia menyesali membuka bahasan seperti itu terlebih rena pernah meminta pulang ke Bandung setelah ke jadian di mana frans balas dendam pada Galih,..


rey sedikit takut, tersirat dalam pikiran nya, apa rena tidak nyaman di rumah? apa rena tidak suka dengan peraturan peraturan ketat yang ia buat?


rey khawatir, kejadian penculikan sang istri yang mengakibatkan mereka kehilangan calon anak mereka,

__ADS_1


rena pun tidak pernah suka mendapat pengawalan ketat, apa aku terlalu posesif?? rey bergumam dalam hati nya,


rena membaca lagi pesan nya dengan sang suami, rey tidak lagi membalas, ia selalu memiliki rasa tidak enak, takut takut perkataan nya salah untuk orang lain,


"hey, apa aku ada salah ngomong? ko ga bales?? (rena mengirimkan lagi pesan)


getaran di HP menyadarkan lamunan rey,


ia tersenyum lagi, begitulah sang istri, jika pesan nya tidak ia balas, ia akan mengirim pesan bernada begitu,


" engga sayang, mau aku bawain apa? kamu lagi pengen sesuatu?? aku lagi di jalan arah pulang"


(jawab rey cepat)


frans melihat lewat spion,


bos nya senyum senyum sendiri,


"lihatlah tuan, bagaimana rena telah mampu meluluhkan hidup mu, bahkan keluarga mu sangat menyukai perempuan itu" (gumam nya dalam hati)


"engga ada yah, ayah cepet pulang aja aku udah seneng, hati hati di jalan.. mmmuacch"


walau terdengar sedikit gombal. entah mengapa rey menyukai nya, jujur ia bukan tipe lelaki yang sangat romantis, namun dengan rena, tangan, tubuh, bahkan bibir nya reflek mengutarakan rasa sayang nya begitu saja,


"frans, mampir ke mini market ya, Nino sama rena suka coklat dan eskrim. mereka pasti senang"


(kata rey, nada nya tersirat rasa bahagia, frans tidak bisa tidak tersenyum)


"sesuai permintaan tuan"


rena membantu Nino memakai baju, tina sang pengasuh merasa tidak enak, rena memaksa untuk melakukan nya, padahal tina sudah dapat peringatan bahwa nyonya muda nya tidak boleh lelah


"ini ga cape tina, aku bosan,... "


rena merajuk,


"bu, tapi kata bapak... "


"syuuuutttt" (rena meminta tina untuk diam, "habis lah aku" teriak tina di dalam hati)


menyisir rambut jagoan nya, lalu memberi bedak sedikit di wajah rey junior, rena tersenyum, memeluk Nino erat,


"jagoan bunda udah wangi, bunda kangen pengen main, pengen mandi bola"


"kata ayah bunda ga boleh kemana mana, biar dede bayi nya sehat"


rena manyun, bagaimana bisa anak sekecil Nino bisa ikut ikutan melarang nya, ia tadinya ingin mempengaruhi Nino, dengan berkata begitu, rena berharap Nino akan merajuk nanti pada rey, namun semua tidak seperti yang ia inginkan,


"bunda sedih di rumah aja, bunda bosen, anter Nino sekolah ga boleh, main ga boleh"


"kalo ayah ada, bakal bosen ga?? "


suara rey terdengar jelas di depan pintu kamar Nino, rena terkejut, bukan karna kedatangan suami nya, tapi melihat rey berdiri di sana, tidak ada kursi roda, rey memakai tongkat di tangan sebelah kiri nya

__ADS_1


"ayahhhh.... " Nino berlari menuju sang ayah, memeluk kaki ayah nya,


rena bangun, mendekat pada suami yang masih berdiri di ambang pintu,


"sayang, apa sudah boleh pakai tongkat?? " (tanya rena senang)


"tentu saja, kaki ku baik baik saja sayang"


rena memeluk suami nya,


"jagoan ayah, sudah wangi, mau kemana sih?? "


"Nino mau maen sepeda di depan sama kak tina ya ayah?? " ( meminta ijin pada ayah nya)


"boleh dong, hati hati ya.."


"yeayyyy dah ayah.... "


ia begitu senang, mendapat ijin sang ayah,


kini hanya ada rey dan rena


"aku kangen" (menatap sayang pada suami nya)


"jangan menatap begitu sayang, ingat aku harus puasa... "


ahahaa, rena tertawa,


memeluk suami nya, bersandar di dada yang jadi tempat Favorit nya,


"aku punya hadiah kecil" (bisik rey)


"hmmm, apa? ( melonggarkan pelukan nya, rena penasaran)


" taraaa, coklat, dan eskrim kesukaan kalian" ( menaikan tangan kakan nya, ada sebuah paperbag di sana)


"wah... ayah tau aja bunda lagi pengen coklat"


"katanya tadi ga mau titip apa apa?? โ€œ (jawab rey)


" baru aja pengen ny, tiba tiba kepikiran kalo makan coklat enak kayanya"


"kun fayakun " ( rey tersenyum bangga)


rena sedikit berjinjit, menargetkan bibir sang suami untuk ia kecup..


"mmmuaccchhhh, makasih sayang"


rey melongo, tidak biasa nya rena seperti itu,


"sama sama bunda,, coba se kali lagi ucapan Terima kasih nya"


rena semakin tertawa, menenggelamkan wajah nya di dada rey lagi, menggeleng di sana

__ADS_1


"ga mau.. takut khilaf"...


__ADS_2