Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)

Akhir Sebuah Cerita (Rey & Rena)
berjalan lancar


__ADS_3

Rena menemani July sampai di depan ruang oprasi, Nino di dampingi se orang dokter perempuan dan dua orang perawat telah siap dengan pakaian khas nya berwarna biru langit,


"semua akan baik baik saja bun, Nino sendiri yang akan menangani ana"


Rena terlihat berlinang air mata nya,


mungkin ini yang Allah tujukan,


putra nya ingin menempuh jurusan inj, bukan ahli jantung yang seperti Rena sarankan, karna Rena merasa dulu mendiang mamah meninggal karna jantung,


"bunda percaya sayang, kamu pasti melakukan yang terbaik sebelum bunda minta, kamu juga yang sabar oke, terus berdoa dalam hati"


Rena memeluk dan mencium kening putra nya, setelah itu Nino mendorong ranjang sang istri untuk siap di posisi nya,


July akan melakukan anestesi, ketika dokter perempuan itu melakukan nya, Nino merasakan genggaman sang istri menguat, bagaimana tidak jarum panjang menembus tulang belakang nya agar July tidak merasakan apa apa,


"aku kasih kamu obat tidur oke, karna kita ga tau prosesnya akan berapa lama, anastesi hanya menimbulkan kebal di punggung ke kaki"


July mengangguk dan tersenyum


"lakukan lah dokter"


Nino mengecup kening sang istri,


"apa kaki sudah terasa berat bu? “ tanya. dokter sonya


" ya seperti kesemutan"


"baik" dokter itu tersenyum karna obat sudah bereaksi..


"berdoa sayang sebelum kamu tertidur" bisik Nino di telinga istri nya, mengusap pelan kepala July hingga July merasakan berat di mata nya dan begitu saja ia tertidur,


"semua sudah siap dok" ucap dokter sonya,


"ayo kita lakukan"


***


kuretase berjalan selama kurang lebih satu jam, keadaan sang istri terus Nino pantau tentang detang jantung dan tekanan darah nya sampai semua telah selesai,


Nino tersenyum getir..


ini semacam aborsi, tapi memang harus di lakukan, yang membuat hati nya mencelos, ini darah daging nya sendiri yang ia gugurkan..


mendekati istri nya yang telah rapih seperti semula, Nino membangunkan nya,


"sayang... " July belum bereaksi mungkin karna pengaruh obat tidur nya belum hilang, Nino memutuskan untuk membawa sang istri ke ruang perawatan nya,


lagi lagi, July harus di hadapkan dengan rumah sakit baru saja ia sembuh dari luka tembakan nya itu, kini di tubuh yang lain harus merasakan sakit,


Rena tersenyum,


orang yang pertama July lihat saat siuman adalah bunda nya, ia masih loding, mengerjapkan mata beberapa kali.


"sayang... " Rena mengusap pipi July, July tersenyum.


"bun.. "


"alhamdulillah, sudah selesai, kamu udah di ruangan kami lagi"


July mengangguk,


"apa ada keluhan? “

__ADS_1


" engga bun"


"kamu haus??


" iya bun.. "


Rena merubah ranjang tidur July, mengangkat bagian atas agar July bisa lebih tegap,


memberikan botol minum dengan sedotan nya, Rena sungguh menyayangi menantu nya,


Nino masuk,


ia seketika tersenyum melihat sang istri sudah siuman,


"mas darimana? " tanya July pelan


"membereskan semua nya sayang"


"jadi udah ga ada janin lagi di dalam perut ku? “ tanya July lagi


Nino melirik bunda nya,


" sudah bersih sayang, sekarang kamu harus hidup lebih sehat, dan alhamdulillah kista yang ada di dalam sini, inshaAllah bisa kita atasi tanpa operasi, ukuran nya masih kecil"


July tersenyum, "alhamdulillah, setidak nya aku ga akan berhadapan lagi dengan ruang oprasi" ucap nya,


Rena tentu ikut senang,


"nah, kalian bicara lah, bunda keluar dulu ya? “


" bunda ga akan pulang dulu kan? “


"engga sayang, hari ini bunda free untuk kalian" Rena mengusap kepala menantu nya


"iya sayang, bunda keluar oke"


Nino dan July mengangguk,


tanpa July tau, di luar sudah ada papah Al, Rakha dan Edward,


"apa merasa tidak nyaman di sini? “ Nino mengusap perut istri nya


" ada sedikit nyeri, tapi masih bisa aku tahan "


"setelah makan, kamu harus minum obat, dan sedikit banyak obat nya"


July manyun, membuat Nino tertawa


"semenjak nikah aku banyak minum obat"


"ya mau gimana lagi"


July lagi lagi terpaksa mengangguk,


"kamu harus sehat, supaya rahim cepat pulih"


"apa nanti aku bisa mengandung lagi? “


" tentu sayang, atas ijin Allah" Nino membawa tangan sangat istri untuk ia cium.


"aku malu" ucap July


"malu apa? "

__ADS_1


"saat kuret, kan di lakukan di sini" mata nya melirik ke area sensitif nya


"lalu apa yang bikin kamu malu? “


" ya, kan itu di buka menggunakan alat? ya aku malu lah"


"untung kamu ga sadar ya?? " Nino malah menggoda istri nya


"maaas, malah ngomong gitu,


apa mas ga punya perasaan liat itu?? “ pertanyaan ambigu July lontar kan pada suami nya


"Ana istri ku" ucap Nino menahan tawa dengan melipat bibir nya perkataan nya mungkin akan membuat sangat istri marah nanti nya


"sebelum liat yang kamu, aku sudah banyak liat punya cewek cewek yang lain"


"maksud mas apa? “ wajah July seketika berubah


" ya kan mas sering bantu persalinan, jadi sering liat yang begitu an"


"jadi maksud mas, karna udah biasa liat yang aku juga ga ada rasa?? " July langsung nyolot


"sayang bukan begitu,


begini teori nya,


kamu istri mas,


bukan mas ga bernafsu liat punya kamu waktu tadi, karna momen nya beda sayang, tadi kan oprasi, kecuali kalo berduaan sama kamu dalam momen yang lain baru lah, mas cowok normal, masa iya ga mau liat kamu.


terus amit amit, kalo mas nafsuan, sedangkan kerjaan mas begini, masa tiap liat yang lahiran mas pengen"


July masih cemberut, tetap saja di hati nya merasa dongkol mengetahui fakta bahwa suami nya terbiasa melihat hal sensitif


"aku cemburu mas, mas ganti kerjaan aja deh, jangan ikut periksa periksa lagi"


"khusus periksa kamu aja ya?? “ Nino mendekat membuat July tersenyum


" periksa apa? “


"apa aja, yang penting berkaitan dengan kamu"


tangan Nino terangkat, mengusap pipi istri nya, mendekat memberikan beberapa kecupan di bibir July,


"mas akan fokus di kantor saja mulai bulan depan, biar praktek di lakukan sama dokter yang lain"


July tersenyum lebih lebar,


"makasih mas"


"sama sama"


Nino hendak mencium lagi bibir istri nya, namun suara deheman terdengar di pintu. papah Al di sana, Nino mengurungkan niat nya, saling melempar senyum malu dengan sang istri


"papah" July merentangkan kedua tangan nya, tanpa basa basi, Al memeluk putri nya erat


"maaf sayang papah baru datang"


"it's okay pap"


July menangis, Al mengusap punggung putri nya dengan lembut


"kamu wanita hebat sayang, kami semua sayang sama kamu"

__ADS_1


__ADS_2