
Pagi datang lagi,
Rena menyiapkan pakaian untuk Rey, Rey libur hari ini, ia akan menemani sangat istri menyiapkan kejutan untuk Nino dan July,
bersekongkol dengan Al, Rena dan Rey akan datang ke apartemen mereka karena July bisa pulang siang ini,
"ayah mau kasih kado apa buat Nino? "
Rey mendekat, ia memeluk istri nya dari belakang
"bagaimana kalo rumah, Nino belum punya rumah"
Rena berpikir sejenak,
walaupun Nino inshaAllah mampu membeli sebuah rumah, tapi memang Rey dan Rena bingung soal hadiah pernikahan putra nya itu,
"ide yang bagus,
jadi kita akan datang melamar July dan menentukan tanggal pernikahan?? “ tanya Rena
" betul sayang.. putra mu tidak sabaran untuk menikah " Rey memberikan kecupan di pipi istri nya, ia menjauh, Rey belum berpakaian..
"jam berapa kita berangkat? “
" kata Al July akan pulang sekitar jam 10pagi" Rey memakai pakaian nya,
"ayo kita siap, aku belum memberitahu shanum.. "
Rena hendak pergi, namun Rey memegang tangan nya, menahan nya, Rey tersenyum
"sini, aku mau peluk.. "
Rena mendekat dengan wajah yang penuh curiga.. apa maksud suami nya berprilaku seperti itu, Rey memeluk nya erat..
Rena pun begitu,
"sayang, anak kita sudah besar, itu tak luput dari campur tangan mu, kamu ibu yang terbaik, Nino tidak lahir dari rahim mu, tapi kamu ga pernah membedakan nya dengan shanum... "
Rey mencium puncak kepala istri nya,
"kini dia mau menikah, aku ga nyangka, waktu cepat sekali berlalu..
sungguh Rena aku bahagia, atas semua yang telah kamu berikan untuk kami semua... "
"kamu lupa suami ku, sebelum aku suka sama kamu aku lebih dulu menyukai Nino" Rena tertawa kecil, ia sedikit menjauhkan kepalanya, agar bisa memandang Rey,
"iya, dan karena dia kita jadi dekat" Rey mengusap kepala istri nya,
"kamu tau waktu itu momi mengundang ku untuk makan malam, dan anak kecil itu mengagetkan ku dengan memanggil ku bunda... " Rena bernostalgia..
Rey tertawa
"aku ingat itu, dan dia menempel terus pada mu, sampai makan pun mau kamu suapi"
Rena mengangguk,
"Nino anak ku ayah, aku ga akan pernah membedakan nya dengan shanum,
dia kebanggan ku, anak laki laki ku,
aku ingat betul bagaimana ia sangat bahagia dulu saat di sekolah, mendapat nilai 100 karna tugasnya aku bantu mengerjakan,
dengan bangga ia bilang pada guru dan teman teman nya, bunda ku yang mengajarkan ini, kami bekerja sama di rumah.. "
Rey ingat, bahkan ia sering di telpon untuk pulang segera setiap Nino mendapat nilai 100 dari guru nya, padahal waktu baru menunjukan jam 11siang,
__ADS_1
Nino akan menempelkan nya di papan tulis yang sengaja Rena buat untuk menempel hasil karya nya, sampai papan itu penuh dengan hasil karya nya...
"anak kita sudah besar, dia akan menikah, setelah lulus SMA dia pergi kuliah, dan aku tidak khawatir, tapi entah kenapa saat ia akan menikah aku khawatir,
aku akan kehilangan nya, karena perhatian nya akan terbagi pada istri nya, waktu nya akan sedikit bersama kita" mata Rena memanas.. ia terisak...
"kamu cemburu hmmm?? " Rey menggoda
Rena tertawa, sambil mengusap sudut matanya yang basah,,
"sangat, aku sangat cemburu...
padahal nanti mungkin mereka akan tinggal di sini, tapi aku merasa kita akan berjauhan " ucap Rena.
"apa kita harus meminta mereka supaya tinggal di sini?? " tanya Rey
"ayah.. anak anak sekarang ga seperti kita dulu, mereka kini senang tinggal terpisah..
apa lagi Ana, ia terbiasa hidup sendiri, pasti akan sangat kontras perbedaan nya jika mereka tinggal di sini"
"ya setidak nya, setelah mereka menikah, mereka tidak langsung pindah, mungkin satu, dua, atau tiga bulan dulu di sini, .. "
Rena tertawa lagi,
"satu, dua, tiga, empat, lima.... "
ia meledek suami nya
"biarlah, mereka butuh privasi,
aku ga keberatan jika mereka langsung pindah ke rumah mereka nanti" kata Rena lagi,
Rey menatap istri nya dalam..
"terimakasih,
sudah menjadi wanita tangguh dalam setiap situasi, aku tau itu ga mudah,
tapi kamu mampu memenangkan semua dan kini kita tinggal menikmati hasil perjuangan kita"
"sama sama sayang, bukan hanya aku yang berjuang, kamu lah penunjuk arah dalam setiap perjalanan, kami ayah terbaik"
Rena mengusap pipi suami nya,
Rey mencium nya di bibir, memberikan sentuhan di sana sini, sampai Rena tersadar kalau mereka harus segera bersiap
"hey, kita mau berangkat, aku ga mau terlambat" Rena melepaskan ciuman nya.
Rey manyun,
"baiklah, nanti malam aku lanjutkan" bisik nya terdengar nakal, Rey memberikan sentuhan akhir yang membuat Rena Bergidik, ia mencium telinga istri nya,
"ayahhh.... " ia menghindar
"oke oke.... " Rey mengangkat tangan nya, berjalan mundur.. ia akan melanjutkan dandan nya yang tertunda...
**
dokter Fera memeriksa keadaan July untuk laporan terakhir nya,
pasien nya, yang juga calon istri dari pemilik RS ini sudah sangat sehat, Fera memberi ijin nya untuk July pulang,
"bos, mau aku apa kan dia? " ucap Edward pada July melalui telpon,
Nino tadi jam 7 pergi ke ruang kerja nya, ia belum kembali lagi.
__ADS_1
"apa betul dia orang nya? " tanya July,
"sangat betul" ucap Edward yakin
"selama dia hanya mengganggu ku, aku tidak masalah, tapi kalau dia sudah melakukan sesuatu pada orang orang yang aku sayang, aku tidak membiarkan nya hidup"
"baik bos, jadi kita hanya mengawasi nya saja..? “
" ya ed, sementara itu saja dulu"
Nino masuk ke ruangan,
"apa yang sementara?? “ tanya Nino, ia mendengar July mengucapkan kata itu di telpon..
" baiklah, kakak akan pulang sebentar lagi, " July tiba tiba mengalihkan percakapan nya, dan Edward di sebrang sana sangat tau apa arti nya itu, bos nya m ngalihkan pembicaraan.
"baik kakak.. " Edwar tertawa meledek nona muda nya itu...
July mengakhiri telpon nya, dan beralih pada Nino.
"siapa? " tanya Nino
"Edward bertanya kapan aku pulang.. "
"kalian dekat?? “ tanya Nino, wajah nya tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. tapi nada bicara nya sedikit berbeda menurut July
" dia asisten ku, Edward bisa di andalkan dalam pekerjaan nya" ucap July membenahi tas nya, ia sudah siap akan pulang.
"kenapa assisten mu tidak perempuan lagi"
_ apa itu cemburu dokter?? _
July tersenyum,
"entah lah aku sudah nyaman sama dia" ucap July jujur
Nino mengangguk,
"baiklah, kamu sudah siap?? ayo kita pulang" Nino pergi meninggalkan July ke luar begitu saja,
tadi nya ia akan menelpon papah Al dulu, July takut kalo papah nya menjemput, sedangkan Nino juga mengajak nya pulang...
July menyusul dokter itu,
Nino menunggu nya di luar, meraih tangan July, Nino menggandeng nya ke luar kamar,
_ ya Allah, apa yang dokter ini lakukan, semua mata tertuju pada kita berdua saat melintas di beberapa tempat yang cukup ramai_
July menundukan kepala nya, ia dapat melihat beberapa perawat dan dokter yang berpapasan menganggukan kepala nya pada Nino,
belum lagi saat di lobby, July merasa terintimidasi,
Rio memberikan kunci mobil pada Nino, mobil nya sudah terparkir sempurna,
entah kenapa Nino jadi sedikit aneh, ia membukakan pintu mobil untuk July, Nino juga memakai kan sabuk pengaman, namun wajah nya terlihat datar sekali tanpa senyum seperti biasa nya..
mobil sudah melaju sekitar 10menit, namun tidak sama sekali ada suara dari mereka berdua.. July beberapa kali melirik Nino, namun yang di lirik menatap lurus ke jalan sana..
"Nino... " July memanggil nya..
"hmmmm"
"kenapa diem aja? apa aku ada salah? “
Nino terlihat membuang pandangan nya ke luar, terdengar ia menarik nafas dalam...
__ADS_1
" aku cemburu Ana, apa kamu ga ngerti? "
Ana tertegun, ia tau Nino marah....