Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Ketegasan Andre


__ADS_3

Ucapan dan ancaman dari Andre bukanlah bualan semata. Melalui pengacara keluarganya, Andre mengajukan surat peninjauan agar Sukma dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa agar obsesinya terhadap harta dan membuat kekacauan bisa lebih mereda. Hanya butuh 2 hari saja peninjauan itu langsung disetujui dengan adanya barang bukti CCTV dan beberapa saksi. Bahkan Lian, Rudi, dan Aneta pun memberikan kesaksian atas apa yang sudah dilakukan oleh Sukma.


Hari ini juga Sukma akan dipindahkan ke rumah sakit jiwa dengan pengawasan pihak berwajib tentunya karena mereka tak ingin wanita paruh baya itu memiliki kesempatan untuk kabur. Mereka harus mewaspadai otak licik dari wanita paruh baya itu.


Sedari pagi wanita paruh baya itu sudah meronta walaupun telah diborgol dan dipegangi oleh beberapa petugas rumah sakit. Andre dan Papa Reza pun sudah berada disana untuk memastikan sendiri bagaimana proses itu. Mereka tak ingin kecolongan lagi karena bisa mengganggu kelancaran pernikahan Andre dan Nadia.


"Akan ku balas kalian semua..." teriak Sukma.


"Andre, Reza... Akan ku hancurkan hidup kalian semua" lanjutnya.


Teriakan-teriakan dari Sukma itu tentunya menarik perhatian beberapa tahanan lainnya. Semuanya seketika berkerumun untuk melihat proses evakuasi Sukma oleh pihak rumah sakit jiwa. Mereka hanya bisa bersyukur dalam hati karena Sukma sudah pergi dari rutan itu. Pasalnya ketika di rutan, Sukma sangat sombong dan suka bersikap seenaknya kepada tahanan lain dengan dalih mempunyai uang banyak.


Setelah melihat Sukma dimasukkan kedalam mobil ambulane, semua tahanan seketika langsung membubarkan diri. Sedangkan Papa Reza dan Andre segera saja pergi dari sana untuk mengikuti mobil ambulance yang membawa Sukma dengan dikawal beberapa anggota kepolisian.


Aneta, Lian, dan Rudi hanya menatap nanar kepergian ibu juga istrinya itu yang dibawa oleh ambulance. Mereka hanya bisa pasrah sekarang karena kejahatan Sukma memang sudah diambang batasnya. Mungkin mulai sekarang mereka hanya bisa berdo'a agar Sukma segera sembuh.


***

__ADS_1


Sesampainya di sebuah rumah sakit jiwa terkenal di kota itu, Sukma segera turun dengan tangan masih diborgol. Tak ada pemberontakan sama sekali dari wanita paruh baya itu, hanya tatapan sinis dan tajam yang dilayangkan untuk para petugas serta Andre dan Papa Reza saja yang terlihtat. Ekspresinya bahkan tak bisa diartikan sama sekali, hal itulah yang membuat Andre sedikit was-was.


"Kita harus waspada, pa. Dibalik ekspresinya itu, aku yakin dia punya rencana buruk agar bisa keluar dari sini" bisik Andre pada papanya.


Papa Reza hanya menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang diucapkan oleh Andre. Dia juga yakin kalau habis ini pasti akan ada drama kembali. Benar saja belum ada 10 menit mereka semua memasuki rumah sakit jiwa itu, Sukma hendak berlari kabur dari rumah sakit jiwa disaat para petugas tengah mempersiapkan administrasinya.


"Berhenti..." seru petugas rumah sakit jiwa saat melihat Sukma berlari.


Para petugas rumah sakit itu segera berlari mengejar Sukma diikuti oleh beberapa anggota polisi yang membantu. Andre dan Papa Reza yang tadinya sedang fokus berbincang dengan anggota polisi yang lainpun ikut terkejut mendengar teriakan itu. Sedangkan para penghuni rumah sakit jiwa yang melihat aksi kejar-kejaran itu ikut tertawa senang seakan mendapat hiburan gratis.


Namun usahanya gagal karena ada salah satu penghuni rumah sakit jiwa melemparkan kulit pisang di jalanan lantai yang dilewati oleh Sukma. Alhasil Sukma yang tengah berlari itu dan tak melihat adanya kulit pisang, terpeleset hingga jatuh terjungkal. Sontak saja kejadian itu membuat tawa semua penghuni rumah sakit jiwa menggema.


"Dasar gila, main buang sampah dilantai. Sakitnya pinggang dan tanganku" umpat Sukma sambil mengeluh kesakitan.


Para petugas rumah sakit dan anggota polisi segera saja menangkap Sukma yang masih mengumpat dan terduduk dilantai. Bahkan wanita paruh baya itu begitu kesal karena ditertawakan oleh penghuni rumah sakit jiwa itu.


"Segera masukkan saja ke ruangan. Pastikan dia untuk tak kabur lagi, kalau perlu rantai saja tangan dan kakinya itu di ranjang tempat tidur" tegas Andre sambil menatap tajam Sukma.

__ADS_1


Petugas rumah sakit pun hanya menganggukkan kepalanya menyetujui usulan Andre itu. Pasalnya Sukma ini baru saja beberapa menit sampai sudah membuat kegaduhan dan merepotkan semua orang. Mereka segera membawa paksa Sukma masuk kedalam ruangannya karena kali ini wanita paruh baya itu sudah mulai memberontak.


"Sialan kau Andre. Ku do'akan semoga pernikahanmu kali ini takkan pernah menemukan kebahagiaan" seru Sukma yang perlahan sudah mulai menjauh.


Melihat Sukma perlahan menjauh, Andre seketika berpikir keras tentang ucapan do'a yang didengarnya dari wanita paruh baya itu. Entah mengapa dia khawatir jika apa yang diucapkan oleh Sukma akan benar-benar terjadi di pernikahannya kali ini.


"Kamu jangan terlalu memikirkan yang tidak-tidak, apalagi ucapan si Sukma itu. Yang menentukan kamu bahagia atau tidak di kehidupan pernikahanmu hanya Tuhan dan kalian berdua. Jangan sampai pikiran negatif seperti ini malah membuatmu berpikiran jelek terus dan pernikahanmu bisa benar-benar gagal" ucap Papa Reza mengerti bahwa anaknya kini tengah memikirkan ucapan Sukma.


Andre menganggukkan kepalanya mengerti atas ucapan papanya. Keduanya kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan Sukma. Saat sampai disana ternyata, wanita itu diberikan suntikan obat penenang karena sedari tadi histeris dan memberontak. Saat memastikan jika wanita itu aman, Andre dan Papa Reza segera saja berlalu untuk pergi ke kantor.


***


Kini Andre sudah sampai di perusahaannya dan berada di ruangannya. Ia tengah berdiri memandang keluar dinding kaca yang menghadap kearah jalanan kota. Pemandangan hiruk pikuk jalanan dan gedung-gedung tinggi itu membuat Andre nyaman dengan lamunannya. Andre memang sudah tak memikirkan ucapan dari Sukma, namun kali ini dia sedang memastikan perasaannya pada Nadia.


"Memang benar apa kata mama, kalau orang mau nikah itu pasti ada saja ujiannya. Perasaan yang tiba-tiba ragu atau datangnya masalah dari masa lalu bisa saja menghancurkan apa yang sudah direncanakan. Namun aku laki-laki, harus tegas dalam hal perasaan. Aku tak boleh plin plan apalagi sampai memberikan harapan palsu pada seorang perempuan" gumam Andre dengan memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


"Ya, aku mencintai Nadia. Hanya dia satu-satunya perempuan yang mampu merobohkan dinding hatiku, bahkan rasa traumaku terhadap wanita dan pernikahan juga hilang karena hadirnya. Aku tak boleh menyakiti ataupun meninggalkannya" lanjutnya dengan yakin.

__ADS_1


Setelah yakin dengan keputusannya Andre segera saja berjalan kembali dan duduk di kursi kerjanya untuk melanjutkan menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia harus segera menyelesaikan semuanya sebelum acara pernikahannya digelar agar bisa istirahat dan berbulan madu bersama istrinya lebih lama.


__ADS_2