Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kesedihan Fikri


__ADS_3

Fikri sudah ada didalam mobil milik Andre setelah drama perpisahan antara dirinya dengan Arnold dan Alan yang membuat semuanya menahan tawa. Bahkan kini Fikri masih tersenyum-senyum sendiri mengingat moment yang terjadi tadi. Baru kali ini dirinya merasakan ditunggu untuk kembali pulang membuatnya merasa tersanjung.


"Kak Ikli, becok ke cini agi ya. Angan cali adik di lual sana, ukup kami beldua caja" ucap Alan dengan senyumannya.


Alan sudah tak kesal lagi kepada Fikri karena lebih membela dan dekat dengan kakaknya. Justru karena adanya Fikri, membuat suasana di rumah semakin seru. Terlebih dalam bermain game PS membuat Arnold dan Alan yang memang belum mengetahuinya jadi paham.


Mereka berdua diajari banyak hal terutama permainan yang seru. Hal ini membuat pengetahuan mereka bertambah banyak. Permainan sederhana seperti ingkling juga tadi sempat mereka mainkan walaupun hanya sebentar.


"Iya, awas aja kalau sampai kakak cari adik lain. Arnold cubit kakinya biar nggak bisa pergi lagi. Lagian mana ada adik-adik lucu kaya kami di luaran sana. Iya kan Alan?" tanya Arnold meminta persetujuan adiknya.


"Tul" seru Alan dengan bersemangat.


Tentunya semuanya hanya bisa tertawa mendengar celotehan kedua anak kecil itu. Mereka berdua memang selalu percaya diri dengan ucapannya terlebih untuk menyenangkan diri.


***


"Kamu nyaman didekat keluarga, om?" tanya Andre memecahkan keheningan.


Fikri menganggukkan kepalanya dengan semangat. Bahkan senyumnya tak pernah luntur dari bibirnya itu. Andre sungguh bahagia jika anak-anaknya dan keluarganya bisa membuat orang disekitarnya merasa nyaman didekat mereka.


"Gimana sih om caranya punya keluarga yang bisa sayang antar sesama? Bahkan saling peduli" tanya Fikri tiba-tiba.

__ADS_1


Andre sedikit terkejut dengan pertanyaan dari Fikri, ia juga sedikit mencuri pandang kearah bocah laki-laki itu. Tatapan matanya terlihat sendu dan banyak luka didalamnya, tak ada binaran cerah seperti tadi saat membicarakan kebersamaan bersama keluarganya.


"Itu adalah urusan orang dewasa yang membangunnya sejak awal, nak. Kalau saat ini keluarga tak saling peduli, berarti semuanya harus berkumpul dan membicarakan tentang apa yang sebenarnya terjadi" ucap Andre dengan senyum tulusnya.


"Aku pernah lho, om. Ngajak mama dan papa ngobrol tapi mereka sibuk dengan ponselnya. Mau pulang atau enggak juga didiemin aja. Nggak kaya keluarga om, aku merasa disana kaya diharapkan untuk kembali lagi" jelas Fikri dengan menghela nafasnya.


Sesak... Itu yang dirasakan Andre saat mendengar cerita dari Fikri. Dulunya ia juga cuek dengan keadaan anaknya yang terpenting kebutuhan mereka terpenuhi dan ada yang menjaga ketiganya. Namun saat Nadia hadir, dirinya sadar jika perbuatannya selama ini adalah salah. Bagaimanapun juga anak-anaknya butuh sosok orangtua yang menyayangi mereka.


"Apalagi aku anak tunggal, mau main siapa aku kalau kedua orangtuaku saja tak peduli padaku? ART? Mereka sibuk membersihkan rumah" lanjutnya.


Bahkan kini mata Fikri kelihatan berkaca-kaca. Andre sungguh melihat sosok Fikri ini sebagai cerminan masa lalu kehidupan anak-anaknya. Anak-anaknya tak pernah mengungkapkan keinginannya untuk dia selalu hadir dengan mengalihkan semuanya agar bisa lupa dengan kasih sayang yang tak pernah mereka dapatkan.


Fikri hanya menganggukkan kepalanya walaupun sedikit tak mengerti dengan maksud ucapan Andre. Bahkan kini ia memeluk Andre dari samping karena sekarang dirinya ingin merasakan sebentar saja pelukan dari sosok seorang ayah.


"Kamu harus bahagia walaupun orangtuamu tak peduli. Tunjukkan prestasimu walaupun tak ada orang yang menghargaimu, siapa tahu suatu saat nanti orangtuamu dan yang lainnya akan menengok kearahmu. Kamu juga bisa menganggap kami keluargamu" lanjutnya.


Fikri menganggukkan kepalanya kemudian melepaskan pelukannya dari Andre. Ia mengusap kasar air mata yang tiba-tiba saja jatuh tak tertahan di kedua pipinya saat menikmati pelukan hangat dari Andre.


"Ayo Fikri, tunjukkan pada dunia kalau kau bisa dan mampu membuat semua orang menoleh padamu" seru Fikri bersemangat.


Andre tertawa mendengar seruan Fikri yang sudah seperti teriakan itu. Ia bangga jika ucapannya mampu memotivasi oranglain untuk berprestasi. Terlebih anak seusia Fikri yang masih dalam masa ambisius-ambisiusnya dalam mengejar apa yang diimpikannya.

__ADS_1


"Kata Arnold, laki-laki nggak boleh cengeng. Tapi tadi kok Fikri malah jadi nangis ya? Om, jangan ngadu ke Arnold ya kalau tadi Fikri nangis. Nanti aku diledekin" lanjutnya.


Andre menganggukkan kepalanya, terlebih jika sudah berurusan dengan Arnold. Dia akan menjadikan sesuatu jadi bulan-bulanannya kalau tahu oranglain tak melakukan sesuai dengan apa yang diucapkannya. Tentunya untuk menghindari Fikri agar tak malu berdekatan dengan Arnold lagi memang dia harus menyembunyikan hal ini darinya.


***


Tak berapa lama mobil yang dikendarai oleh Andre berhenti tepat didepan rumah milik Fikri setelah tadi masuk melewati gerbang yang dibuka oleh satpam yang berjaga. Terlihat sekali jika rumah ini begitu sepi bahkan tak ada satupun yang menyambut kedatangan mereka.


"Nggak ada ART yang buka pintu?" tanya Andre dengan wajah herannya.


"Enggak, om. Mereka semua ada di rumah belakang kalau jam segini, aku sudah bawa kunci rumahnya" ucap Fikri dengan menghela nafasnya kasar.


Fikri menunjukkan kunci rumah yang ia pegang kepada Andre hal ini tentu membuatnya terkejut. Apalagi Fikri hanya tinggal di rumah utama bersama dengan kedua orangtuanya sedangkan ART semua ada di rumah belakang. Kalau orangtuanya belum pulang bekerja berarti Fikri akan tinggal di rumah utama sendirian.


Astaga... Andre tak bisa membayangkan bagaimana kesepiannya Fikri. Ternyata lebih beruntung anak-anaknya yang ditemani nenek dan kakeknya jika ia sedang bekerja. Fikri juga saat ini terlihat begitu santai menghadapi tatapan iba dari Andre.


"Fikri masuk dulu ya, om. Terimakasih sudah mau memaafkan dan menerima Fikri di keluarga kalian. Semoga kedepannya Fikri diijinkan main lagi ke rumah om dan tante" ucap Fikri dengan tulus.


Andre menganggukkan kepalanya dengan bibir kelu untuk menjawab ucapan pamit dari Fikri. Fikri pun masuk kedalam rumah setelah melambaikan tangannya kearah Andre yang sebelumnya harus membuka pintu rumahnya dulu. Terlihat sekali jika dalam pancaran mata Fikri ada semangat begitu membara untuk menyambut hari esok.


Andre pun memilih untuk segera pulang ke rumahnya. Ia mengendarai mobilnya keluar dari area rumah Fikri. Tak berapa lama setelah mobil Andre keluar gerbang, ada dua buah kendaraan beroda empat memasuki halaman rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2