
Pembicaraan malam itu membuat hubungan antara Andre dan Nadia sedikit canggung. Pasalnya malam itu juga Andre menolak keinginan dari istrinya. Sebenarnya ia juga ingin mendapatkan anak bayi lagi terlebih anak-anaknya kini yang sudah semakin besar dan susah untuk dimanja-manja. Namun trauma yang mendominasi pikirannya membuatnya harus menolak keinginan sang istri. Ia tak mau melihat istrinya terbaring lemah di ranjang rumah sakit selama berbulan-bulan lagi.
"Maaf sayang, untuk kali ini aku harus menolak keinginanmu. Aku tak bisa mengabulkan keinginanmu karena kehamilanmu hanya akan membuatku trauma kembali" ucap Andre menjelaskannya semalam.
Raut wajah Nadia tampak kecewa karena tak bisa mendapatkan keinginannya. Walaupun begitu, Nadia mencoba tersenyum agar suaminya tak khawatir. Senyum paksa lebih tepatnya, setelahnya pun Nadia memilih tidur sambil memeluk suaminya untuk menyembunyikan kegundahan hatinya.
***
Saat pagi ini pun, Nadia masih menyiapkan pakaian dan juga membangunkan Andre seperti biasa. Namun Nadia terlihat lebih menjadi pendiam saat bertemu dengan Andre. Terlihat sekali ada kekecewaan di mata Nadia bahkan kadang ia menyembunyikan air mata yang hendak jatuh.
"Sayang..." panggil Andre saat memeluk istrinya yang tengah duduk di meja rias.
Andre membenamkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Ia tak tahan dengan situasi seperti ini terlebih Nadia lebih banyak diamnya. Setelah membersihkan dirinya tadi, dia yang melihat Nadia tengah duduk pun akhirnya memberanikan diri untuk mendekatinya.
Nadia tak menjawab panggilan dari suaminya, ia hanya mengelus pergelangan tangan Andre yang melingkar pada perutnya. Senyum tipis ia sunggingkan untuk menandakan bahwa dirinya baik-baik saja. Melihat respons istrinya yang tak sesuai harapan, Andre memutar tubuh Nadia agar menghadap kearahnya. Andre berjongkok di hadapan sang istri kemudian mengecup kedua tangan Nadia dengan lembut secara bergantian.
"Kalau kamu jadi mendiamkanku seperti ini karena masalah semalam, aku minta maaf. Tapi harus kamu mengerti bahwa aku melakukan semua ini untuk kebahagiaan kita. Aku juga ingin punya baby lagi, tapi bagaimana dengan kamu yang akan mengalami peristiwa mengerikan itu lagi? Kamu juga harus memikirkan anak-anak, mereka yang tahu kamu tak bangun-bangun saja membuat hatiku ngilu setiap harinya. Aku dan anak-anak belum siap jika peristiwa itu terjadi lagi" ucap Andre dengan lembut.
Nadia terdiam mendengar penjelasan dari Andre. Dirinya terlalu terprovokasi oleh ucapan tetangga perumahannya membuatnya tak memikirkan bagaimana perasaan suami dan anaknya. Nadia menghela nafasnya kasar kemudian memeluk suaminya yang berjongkok dibawahnya itu. Nadia menangis didalam pelukan Andre dengan isakan lirih.
"Maafkan aku... Maaf karena aku terlalu egois sehingga tak memikirkan perasaanmu dan anak-anak. Mulai sekarang aku takkan pernah mempedulikan ucapan oranglain karena yang mengerti apa yang terjadi sebenarnya adalah keluargaku sendiri" ucap Nadia bertekad.
__ADS_1
Andre balik memeluk istrinya itu dengan erat. Ternyata benar ucapan mamanya dulu, jika ada masalah harus diselesaikan dengan otak bukan otot. Bahkan jika ada salah paham dengan sang istri maka ia harus sabar memberitahunya tanpa harus menggunakan nada keras.
"Ya Allah... Pagi-pagi dah pelukan aja, kan jadi pengen dipeluk ayang juga" seru Arnold yang kini tengah berdiri di pintu kamar bersama dengan ketiga saudaranya.
Awalnya Arnold ingin bertemu dengan bundanya namun ketiga saudaranya malah ikut-ikutan mengikutinya masuk kedalam kamar. Pintu kamar kedua orangtuanya yang sedikit terbuka pun membuat Arnold langsung membuka pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Saat pintu terbuka, ternyata Arnold melihat kedua orangtuanya tengah terduduk di lantai sambil berpelukan.
Nadia dan Andre yang mendengar seruan dari Arnold itu pun langsung melepaskan pelukan keduanya. Mereka menatap Arnold dengan tatapan selidiknya membuat bocah laki-laki itu salah tingkah.
"Tahu kata-kata ayang darimana?" tanya Andre dengan tatapan selidiknya.
Andre dan Nadia langsung berjalan mendekat kearah anak-anaknya. Andre langsung mengambil Arnold kedalam gendongannya kemudian menciumnya bertubi-tubi membuat bocah kecil itu tergelak. Apalagi anaknya ini kalau berkata menggunakan kosa kata yang membuatnya tercengang. Bahkan Andre selalu tak menyangka jika anaknya bisa secerdas ini.
"Ayo kita turun sarapan" ajak Nadia.
Saat semuanya hampir saja akan berjalan keluar dari kamar, Arnold langsung melarang mereka. Arnold yang masih berada digendongan papanya pun meronta minta untuk diturunkan. Andre segera saja menurunkan anaknya itu yang kemudian Arnold berjalan mendekat kearah sang bunda.
"Bunda, jongkok dong. Arnold nggak nyampe" titahnya yang langsung dituruti oleh Nadia.
Tanpa diduga, Arnold menghapus air mata yang masih ada di kedua pipi Nadia dengan tangan mungilnya. Pemandangan itu membuat Andre begitu terenyuh, ternyata walaupun sang anak bersikap tengil namun dialah yang paling peka dengan keadaan sekitarnya. Bahkan kini mata Nadia sudah berkaca-kaca karena begitu terharu dengan apa yang dilakukan oleh Arnold.
"Bundaku yang paling cantik, jangan biarkan air mata ini jatuh untuk menangisi sesuatu yang tak penting. Cukuplah air mata ini turun karena rasa bahagia dikelilingi oleh anak-anakmu yang cantik dan tampan ini" ucapnya dengan menggombal.
__ADS_1
"Karena papa yang tampan juga dong" seru Andre tak terima.
"Ish... Masih tampanan Arnold dan Alan lah daripada papa" ketus Arnold.
Andre hanya berdecak kesal mendengar ucapan anaknya yang menistakan dirinya. Sedangkan Arnold juga kesal pasalnya gombalan yang sudah ia ciptakan itu akhirnya hancur karena ulah papanya. Sedangkan Anara, Abel, dan Nadia begitu terhibur dengan adegan anak dengan ayahnya yang berdebat itu.
"Gombalan maut Arnold hancur sudah..." gerutu Arnold yang kemudian pergi berlalu keluar dari kamar kedua orangtuanya.
"Kamu sih, mas. Ngambek kan tuh anaknya" ucap Nadia dengan menyikut perut suaminya dengan lengan sikunya.
"Biarin, ngambek ya udah nggak usah kasih uang jajan" ucap Andre cuek.
Andre segera saja mengambil Alan untuk digendongnya kemudian Nadia menggandeng kedua anak gadisnya. Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruang makan menyusul Arnold yang lebih dulu berjalan. Benar saja, saat mereka sampai di ruang makan terlihatlah Arnold sudah duduk disana bersama dengan nenek dan kakeknya.
"Selamat pagi nenek, kakek" sapa Anara dan Abel.
"Pagi sayang" sapa balik Mama Anisa dan Papa Reza secara bersamaan.
"Sayang-sayang dia ada yang punya... Asyeeekkkk" ucap Arnold menirukan sebuah lirik lagu.
Para orang dewasa hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar kosa kata Arnold yang begitu banyaknya. Bahkan mereka sepertinya ketinggalan dengan perkembangan Arnold tentang penyerapan informasi ini. Ini adalah PR bagi Nadia untuk mencari tahu darimana anaknya itu mendapatkan kosa kata seperti itu.
__ADS_1
Sedangkan Alan pagi ini terlihat masih sangat mengantuk jadi lebih banyak diamnya. Mereka semua akhirnya duduk kemudian memulai sarapannya bersama. Hanya ada keheningan disana, pasalnya Arnold kini tengah serius makan tanpa mau mengucapkan candaan apapun.