Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Fokus Kesembuhan


__ADS_3

"Untung kita tadi pintar juga membuat alasan tentang masalah yang semalam. Kalau enggak? Udah pasti kita dipecat dari sekolah ini" ucap Ibu Nengsih dengan pelan kepada Ibu Laili.


"Lagian napa juga sih ibu tadi malam ngomong nggak ngijinin? Kan kalau ntar dalam olimpiade kalah, kita nggak disalahin sama sekolah. Kita bisa mengkambinghitamkan anak-anak yang nggak mau belajar itu" ucap Ibu Laili dengan julidnya.


Setelah dari ruang kepala sekolah tadi, mereka semua keluar saat semua masalah dirasa sudah selesai. Ibu Nengsih dan Ibu Laili yang mendapatkan pesan untuk tak lagi gegabah mengumbar masalah di grup begitu kesal. Grup itu sebenarnya dibuat untuk orang-orang yang suka gosip saja diantara para guru. Namun saat itu Ibu Yuni yang tak sengaja mendengar tentang adanya grup itu langsung saja meminta agar semua guru dimasukkan disana.


Gea yang ada di belakang keduanya tanpa mereka sadari itu hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan dua guru itu. Tak menyangka jika tadi didalam ruang kepala sekolah mereka terlihat begitu bijak namun faktanya malah jadi bahan gosip seperti ini. Gea yang memang disini statusnya hanya kontrak untuk olimpiade saja tentu tak berhak untuk melaporkannya.


"Ingat bu ibu... Jangan suka merencanakan hal yang jahat apalagi menjadikan anak-anak kambing hitamnya. Kalau nanti anak-anak kalian diperlakukan seperti itu berarti itu karma dari ibunya sendiri" ucap Gea langsung berkomentar.


Sontak saja keduanya berjengit kaget mendengar ada suara yang menanggapi ucapan mereka dari belakang. Keduanya menghentikan jalannya kemudian menatap kearah belakang dengan raut wajah sinisnya. Walaupun terkejut dengan kehadiran Gea namun mereka tak takut jika hanya menghadapi gadis itu.


"Nggak usah ikut campur. Kamu ini disini hanya dibutuhkan saat olimpiade saja, setelahnya juga akan ditendang" ucap Ibu Nengsih dengan ketusnya.


"Kalau prestasinya bagus, saya pastikan kalau Ibu Gea akan mengajar disini. Justru orang-orang yang bermuka dua dihadapan kepala sekolah, wali siswa, dan pengurus yayasan itu lah yang nanti akan saya tendang dari sekolah ini" ucap seseorang yang baru saja muncul.


Seseorang itu sebenarnya sudah sedari tadi mendengar pedebatan antara ketiga orang disana. Namun ia sengaja tak menampakkan dirinya agar nanti bisa mengambil keputusan yang tepat. Seseorang itu adalah Ibu Yuni yang memang sengaja mengikuti mereka dari arah lain untuk mengetahui maksud dari Ibu Nengsih dan Ibu Laili.


Ibu Nengsih dan Ibu Laili terkejut melihat kedatangan dari Ibu Yuni yang menatap keduanya dengan tajam. Keduanya hanya bisa menundukkan kepalanya karena Ibu Yuni juga lah yang mengambil keputusan untuk pemecatan guru. Beruntung Ibu Yuni merupakan orang yang bijak dan tegas maka takkan ada ampun bagi mereka yang bermain di sekolahnya.


"Kalian berdua masuk lagi ke ruangan saya. Untuk Ibu Gea, silahkan bisa kembali ke ruangan yang disediakan. Saya minta tolong beri beberapa soal pada anak-anak yang ikut olimpiade melewati walinya" ucap Ibu Yuni dengan tegasnya.

__ADS_1


Gea menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan sedangkan Ibu Nengsih dan Ibu Laili langsung berjalan mengikuti Ibu Yuni. Gea hanya bisa mengelus dadanya sabar melihat tingkah dua guru yang menurutnya aneh itu. Gea segera pergi dari sana menuju ruangan khusus yang disediakan untuknya.


***


Papa Reza dan Andre sudah sampai di kantornya. Bayu yang melihat kedatangan Andre begitu sumringah karena merasa bahwa pekerjaannya akan segera beruntung. Berbeda dengan Bayu, Andre justru terlihat geli melihat tingkah sekretarisnya yang tengah menatapnya sambil tersenyum.


"Bay, loe masih lurus kan? Gue jadi takut deh pas loe lihatin kaya gitu. Jangan-jangan loe suka lagi sama gue" ucap Andre dengan sedikit menjauh dari Bayu.


Bayu yang tadinya tersenyum langsung saja melunturkan senyumannya. Bahkan Bayu yang sudah berdiri itu langsung saja melempar satu berkas dari tumpukan itu kearah wajah Andre. Beruntungnya Andre dengan mudahnya bisa langsung menangkap berkas itu hingga tak mengenai wajahnya.


"Enak aja nih si bos. Jomblo-jomblo gini saya juga masih lurus, suka sama perempuan" ucap Bayu dengan ketusnya.


"Emang ya, punya sekretaris nggak ada akhlaknya gini" ucap Andre sambil geleng-geleng kepala.


"Situ jadi bos juga nggak ada akhlaknya" ucap Bayu yang tak sengaja mendengar ucapan Andre.


Andre langsung masuk ke dalam ruangannya menyusul Bayu yang telah selesai meletakkan semua berkasnya diatas meja. Bayu segera menunjuk kearah berkas itu kemudian pergi berlalu dari ruangan Andre. Andre yang melihat tumpukan berkas itu hanya menghela nafasnya pasrah.


"Astaga... Nggak bisa apa ini kertas cuma satu atau dua saja hari ini" gumam Andre yang langsung duduk di kursi kebesarannya.


***

__ADS_1


"Bunda, kami nggak mau sekolah dulu besok. Pokoknya kita nggak mau" ucap Anara merengek.


Kini Anara dan Abel yang kondisinya sudah mulai membaik itu sedari tadi terus saja menempel pada bundanya. Bahkan Arnold dan Alan hanya bisa menatap ketiga perempuan itu dengan bingungnya. Pasalnya Nadia tak diijinkan sama sekali untuk beranjak dari kasurnya.


"Iya. Kita fokus kesembuhan kalian dulu ya. Papa juga sudah mengijinkan kalian pada pihak sekolah kok" ucap Nadia menangkan sambil mengusap kepala keduanya secara bergantian.


Kondisi keduanya yang begitu manja saat sakit ini sudah bukan hal asing baginya. Ia pun memahaminya walaupun harus memperhatikan Alan dan Arnold juga. Ia tak ingin jika nanti Alan dan Arnold sampai cemburu bahkan merasa tak diperhatikan kalau ia hanya memperhatikan kedua kakaknya.


"Unda, Alan dan abang elum di elus-elus lho cedali adi" ucap Alan mulai melayangkan protesnya.


Nadia merasa sedikit bersalah pada kedua anak laki-lakinya itu. Terlebih memang sudah kebiasaan keduanya jika akan tidur pasti akan dielus-elus oleh Nadia. Namun Nadia yang kini berada pada dekapan kedua kakaknya tentu tak bisa bergerak leluasa.


"Sini abang elus aja lalu Alan tidur. Kan bunda lagi mengurus kakak" ucap Arnold dengan sikap dewasanya.


Alan pun menganggukkan kepalanya kemudian merebahkan dirinya diatas karpet dengan kepala berada dalam pangkuan Arnold. Arnold dengan sigap mengelus kepala adiknya itu membuat tak berapa lama Alan langsung tertidur. Nadia begitu bangga dengan Arnold yang mau mengerti dan mengalah pada saudaranya sendiri.


"Maafin kita ya bunda. Karena sakit jadi ngerepotin bunda" ucap Abel merasa bersalah.


"Jangan bilang seperti itu. Bunda merasa nggak direpotin kok" ucap Nadia yang kemudian mengelus kepala keduanya hingga tertidur.


Bahkan kini Arnold juga sudah tertidur dengan posisi duduknya. Nadia segera membaringkan Anara dan Abel di kasurnya kemudian membenarkan posisi Arnold. Ia tak tega dengan Arnold yang tidur dalam posisi duduk sambil bersandar kursi sofa seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2