Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Napa Lihat-Lihat?


__ADS_3

"Napa lihat-lihat? Iya tahu kalau Arnold itu tampan dan kaya, tapi liatnya ya jangan kaya mau nerkam dong. Daging Arnold nggak enak kalau dimakan, mending ambil punya nenek aja. Lebih empuk soalnya udah tua" seru Arnold.


Arnold yang merasa terus ditatap oleh Adeline pun merasa risih terutama saat tatapan itu seperti ingin memakannya hidup-hidup. Mama Anisa yang disebut oleh cucunya pun hanya mencebikkan bibirnya kesal. Dirinya dibilang tua oleh cucunya sendiri sedangkan Papa Reza dan Andre sudah menahan tawanya.


Adeline yang ketahuan pun akhirnya memilih menundukkan kepalanya. Walaupun Arnold masih kecil namun tatapannya itu sangatlah menyeramkan bagi Adeline. Terutama disini ada tiga pawang yang siap menerkamnya jika dia macam-macam dengan salah satu cucu keluarga Farda itu.


"Kok jadi dibandingin sama nenek sih" protes Mama Anisa.


"Ya gimana? Arnold kan berbicara fakta" jawab Arnold dengan polosnya.


Mendengar jawaban itu tentunya Mama Anisa hanya pasrah saja menerima apa yang diucapkan oleh sang cucu. Namun ia juga langsung saja menatap kearah Adeline yang saat ini mati kutu karena adanya Arnold disini. Walaupun masih anak kecil namun Arnold bukanlah lawan yang mudah untuk ditaklukkan.


"Ini napa papa nggak di kantor? Tadi kami ke kantor lho tapi ternyata malah enak-enakan makan sama cewek" tanyanya mengalihkan pembicaraan lain.


"Papa ada urusan di luar" jawab Andre seadanya.


"Urusan sama itu? Mending urusannya sama bunda yang lebih cantik darinya" ucap Arnold sambil menunjuk kearah Adeline.


Kedua tangan yang ada di pangkuan Adeline seketika mengepal karena merasa direndahkan oleh anak kecil. Walaupun ucapannya terkesan polos, namun Adeline tahu jika Arnold tak menyukai keberadaannya disini.


"Mohon maaf adik kecil, saya disini juga karena undangan papa anda. Kalau kau memang tak suka, ya sudah mending pergi aja sana dan sembunyi dibalik ketiak mamamu" ketus Adeline.

__ADS_1


Sedari tadi ia sudah tak tahan ingin menghujat bahkan mengamuk karena merasa direndahkan. Terlebih mereka tak menghargainya sama sekali padahal disini Andre lah yang membutuhkan jasanya. Sedari tadi sudah dua orang yang berpikir tentangnya yang tidak-tidak padahal biasanya client terlihat biasa saja dengan caranya berbicara.


"Wah... Papa salah undang orang nih" ejek Arnold.


Bahkan Arnold sama sekali tak takut setelah mendengar sindiran dari Adeline. Baginya siapapun yang mendekati sang papa berarti sudah menjadi daftar list hitam miliknya. Dia harus waspada terlebih gestur tubuh wanita didepannya ini sangat mencurigakan.


"Sialan..." gumam Adeline.


Adeline tak menyangka jika ucapannya tak mampu membuat mental Arnold menurun. Bahkan lidahnya semakin tajam saja untuk menyudutkan dirinya. Adeline yang tak terima pun akhirnya memilih berdiri kemudian menatap tajam semua orang yang ada disana. Bahkan Andre sudah mati kutu jika berhadapan dengan Arnold dan mamanya.


"Kerja sama kita batal. Lebih baik anda cari EO lainnya saja yang kuat sama ocehan ibu dan anak anda. Anda itu sudah dewasa, namun sayangnya masih bergantung di ketiak ibu anda" ucap Adeline dengan ketus.


"Andre tuh nggak macam-macam lho. Ini rencana mau buat kejutan bunda, kenapa kalian malah menghancurkannya?" ucap Andre lesu.


Semua persiapan untuk membuat kejutan buat Nadia akhirnya gagal sudah. Padahal tadinya ia ingin sekali memberikan kejutan tanpa ada keluarganya yang mengetahui sama sekali. Namun rencana itu akhirnya gagal karena ulah mama dan anaknya.


"Papa itu harusnya minta tolong sama Arnold dan nenek. Kita jauh lebih pintar lho kalau merencanakan sesuatu. Bahkan jika kami yang mengerjakannya, papa nggak perlu bayar mahal-mahal" ucap Arnold menawarkan dirinya.


Mendengar hal itu tentunya Mama Anisa langsung melemparkan dua jempolnya kearah sang cucu. Mama Anisa ingin jika Andre itu lebih percaya untuk menyerahkan semuanya kepada keluarga daripada oranglain atau si Adeline itu yang tentunya akan rawan godaan.


Papa Reza yang melihat anaknya sudah menyerah menghadapi sepasang nenek dan cucu itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sedangkan Andre menatap keduanya dengan pandangan tak percaya, pasalnya jika meminta bantuan mereka tentunya hasilnya akan aneh. Bahkan ia ingin suasana romantis yang diinginkannya menjadi acara keluarga.

__ADS_1


"Baiklah, kalian atur saja semuanya. Pokoknya malam minggu besok papa ingin suasana romantis berdua dengan bunda" ucap Andre.


"Jangan lupa dekorasinya yang banyak bunga dan lilin" lanjutnya.


Setelah Andre mengutarakan semua keinginannya, Arnold dan Mama Anisa begitu tercengang. Keduanya segera saja terdiam kemudian memikirkan sesuatu yang unik agar membuat semua keinginan Andre tercapai. Setelah merasa semuanya siap, akhirnya keduanya dengan kompak menengadahkan kedua tangannya ke hadapan Andre.


"Apaan nih?" tanya Andre sambil mengernyitkan dahinya heran.


Bukannya tadi mereka bilang tidak meminta bayaran, namun mengapa keduanya malah dengan kompak menengadahkan kedua tangannya? Andre benarbenar dibuat bingung oleh sikap keduanya itu. Namun keduanya malah menatap sinis kearah Andre yang kebingungan itu.


"Beli lilin dan bunga memangnya pakai daun?" seru Mama Anisa dan Arnold secara bersamaan.


Seruan itu membuat beberapa pengunjung cafe mengarahkan perhatiannya kearah mereka. Hal itu membuat Andre hanya menutup wajahnya dengan tubuh Arnold yang berada di pangkuannya. Sedangkan Mama Anisa dan Arnold terlihat biasa saja karena memang menurutnya tak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan.


"Baiklah, demi rencana yang mulus maka aku akan transfer uang ke rekening mama. Tapi ingat ya kalian harus membuat semuanya berjalan lancar dan juga kamu Arnold, jangan biarkan Alan dan kedua kakakmu mengganggu acara bunda juga papa" peringat Andre pada anaknya itu.


"Oh... Itu sudah beda urusan dong. Kami kan hanya minta uang untuk acara, kalau nambah Arnold harus menghalangi Alan, Abel dan Anara berarti ada uang tambahan" ucap Arnold dengan bangga.


Andre hanya bisa menepuk dahinya pelan karena ternyata berurusan dengan Arnold itu membuat dompetnya terkuras. Anak itu sudah mengerti uang membuatnya tak bisa leluasa untuk menyuruhnya seenak hati. Sedangkan Mama Anisa dan Papa Reza hanya bisa tertawa kecil melihat pemandangan itu.


Mereka tak menyangka kalau Arnold sangatlah pintar bernegosiasi demi mendapatkan sebuah keuntungan. Hal ini tentunya sudah bisa menggambarkan jika kelak perusahaan akan sukses dibawah pimpinan Arnold. Setelah selesai, akhirnya Arnold dan Mama Anisa memutuskan untuk pulang ke rumah. Sedangkan Andre dan Mama Anisa harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2