Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Mati Kutu


__ADS_3

"Kenapa kok gelisah begitu, tante?" tanya Papa Reza dengan sinisnya.


"Oh ya... Mana Dewi?" lanjutnya.


Budhe Ana terlihat gelisah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Papa Reza itu. Terlebih kini Papa Reza sedang melihat rumah Budhe Ana yang terlihat lebih mencolok dibandingkan dengan punya warga yang lainnya. Papa Reza menelisik setiap sudut rumah dengan seksama bahkan kini pandangannya menatap foto keluarga dengan disana ada Dewi.


"Kamu ini ngomong apa, Za? Kan Dewi sudah meninggal karena hilang di gunung waktu itu" ucap Budhe Ana dengan sedikit gugup.


"Waktu itu kan Dewi hilangnya saat umur 19 tahun kan ya, tan? Lalu kok bisa orang meninggal lahirin anak. Nih anaknya aja baru 5 tahunan gini" ucap Papa Reza dengan santai.


Budhe Ana sontak saja menatap terkejut kearah Reza. Ia tak menyangka jika anak dari pamannya ini ternyata sudah mengetahui kalau Zunai merupakan anak dari adiknya. Matanya bergerak gelisah untuk mencari alasan yang tepat.


"Anak siapa maksudmu? Dewi ya sudah hilang di gunung itu" ucap Budhe Ana mencoba untuk meyakinkan Papa Reza.


Papa Reza mendengus kesal karena ternyata Budhe Ana ini tak mau berkata jujur. Ia pun mengeluarkan sebuah kertas fotocopy KTP dan Kartu Keluarga milik Dewi kemudian menunjukkannya kepada Budhe Ana.


"Lihat ini. Agustina Dewi Farda, dia sudah menikah dan mempunyai anak yaitu Zunai dan Ega. Bahkan Zunai ada disini. Dan asal tante tahu, keluarga yang menggunakan marga Farda itu hanya keluargaku saja" ucap Papa Reza penuh penekanan.


Budhe Ana terdiam karena sudah tak bisa mencari alasan lagi. Terlebih Papa Reza memang sulit untuk dibohongi dengan bukti-bukti yang sudah ada. Tak menyangka juga kalau Zunai bisa bertemu dengan keluarga Reza.

__ADS_1


Bahkan kini Budhe Ana langsung menatap Zunai yang menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Andre. Gelisah, gugup, dan panik membuat Budhe Ana sampai tak bisa berpikir. Sepertinya ia telah mati kutu menghadapi kejelian Papa Reza.


"Bisa tante jelaskan mengapa sampai Dewi bisa menikah dan mempunyai anak? Padahal waktu itu polisi sudah menyatakan kalau adik saya itu hilang di gunung dan menyerah. Bahkan kesaksian dari warga sekitar kalau kalian kesini itu dari umur Dewi 20an bukan? Bahkan datangnya bersama kalian lagi" tanya Papa Reza mencerca berbagai pertanyaan kepada Budhe Ana.


Budhe Ana langsung menatap Papa Reza dengan tatapan tak percaya. Budhe Ana merasa kalau Papa Reza sudah jauh meneliti semua pergerakannya hingga kini sampai informasi sedetail itu pun ia sudah mengetahuinya. Budhe Ana langsung menatap tajam kearah Pak RT yang pastinya sebagai pemberi informasinya.


Tangan Budhe Ana terkepal dengan eratnya karena sudah tak bisa lagi mengelak atas apa yang ia perbuat. Terlebih mungkin Papa Reza juga sudah menyelidiki keterlibatan dirinya dalam kasus penelantaran anak dari Dewi. Sekali lagi... Budhe Ana menghela nafasnya panjang karena begitu frustasi.


"Ya, Dewi tidak hilang di gunung. Ia memang jatuh sewaktu kegiatan di gunung itu tapi diselamatkan oleh warga sekitar. Kami memang sengaja juga pindah rumah agar kau tak bisa menemui adikmu. Gara-gara kau yang terlalu dekat dengan Dewi malah membuatnya ingin tinggal denganmu" seru Budhe Ana kesal.


Papa Reza menatap tak percaya kearah Budhe Ana yang dengan tega membohonginya agar adiknya jauh darinya. Bahkan hanya karena keinginan Dewi yang ingin tinggal dengannya malah membuat Budhe Ana bertindak seperti ini.


Benar saja, Papa Reza akan menanyakan mengenai penelantaran anak ini. Papa Reza masih tak habis pikir dengan jalan pikiran Budhe Ana yang malah menyembunyikan adiknya itu dari kakaknya sendiri. Padahal selama ini kalau memang Budhe Ana tak ingin pisah dengan Dewi, boleh saja jika mau ikut tinggal bersama Papa Reza.


Sedangkan kini Budhe Ana merasa sedikit tak enak hati melihat wajah frustasi dari Papa Reza. Pasti keponakannya itu berpikir kalau Dewi telah meninggal. Mendengar ucapan Papa Reza pun membuatnya berpikir kalau dulunya dia dan suami tak dewasa dalam mengambil tindakan.


"Kami nggak menelantarkan anak-anaknya. Tapi rumah kita memang tak muat untuk menampung mereka" elak Budhe Ana yang mencoba mempertahankan sisi jahatnya.


"Tidak muat?" tanya Papa Reza yang langsung berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Brakk....


Tak disangka jika kini Papa Reza langsung menuju kearah tempat sampah yang ada di dekat pintu gerbang. Ia membawa tumpukan sampah itu dengan kedua tangannya tanpa jijik kemudian membawanya didekat pintu masuk rumah. Papa Reza langsung saja melempar tumpukan sampah itu ke dalam rumah Budhe Ana.


Sontak saja kejadian itu membuat tetangga Budhe Ana begitu salut akan keberanian Papa Reza. Mereka berbondong-bondong mengintip didekat gerbang rumah sedangkan Budhe Ana juga langsung berdiri. Ia mencoba mencegah agar Papa Reza tak semakin brutal mengacak-acak sampah itu.


"Reza, jangan mengacak-acak sampah itu. Nanti rumahku bau" teriak Budhe Ana dengan menarik tangan Papa Reza.


"Biarkan saja. Sampah ini bahkan lebih cocok tinggal di rumah mewah ini daripada anda. Bahkan sampah ini jauh lebih berharga daripada anda yang memiliki otak dan hati yang busuk" seru Papa Reza.


Sepertinya Papa Reza sudah mulai emosi karena mengetahui Budhe Ana melakukan semua ini hanya sifat irinya. Bahkan masih mengelak dengan kasus penelantaran anak dengan dalih rumah tak cukup. Rumah besar dengan dua lantai kalau hanya mendapatkan tambahan penghuni anak kecil yang badannya tak seberapa itu tentu takkan berpengaruh apa-apa.


Andre segera saja membawa Zunai yang ketakutan itu agar dibawa pergi oleh Bu RT. Ketiganya segera keluar dari area halaman rumah karena takut kena amukan. Sedangkan Andre sendiri langsung mendekati papanya yang masih mengacak-acak sampah kemudian ia hamburkan ke dalam rumah Budhe Ana.


"Reza, ini bau sekali. Nanti tante susah bersihinnya" seru Budhe Ana sambil menutup hidungnya.


"Kembalikan uang yang anda ambil dari Zunai dan Ega termasuk penjualan rumah orangtuanya. Dasar tak punya hati, menjual rumah orangtua dari dua anak kecil yang tak tahu apa-apa" teriak Papa Reza yang sudah begitu emosi.


Budhe Ana sontak saja memundurkan langkahnya setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Papa Reza itu. Budhe Ana menggelengkan kepalanya tak percaya pada apa yang didengarnya. Kini dirinya langsung melihat kearah depan rumah kemudian seketika saja ia berlari menuju seseorang yang terlihat masuk gerbang.

__ADS_1


Brugh....


__ADS_2