
Andre berangkat menuju ke perusahaannya dengan hati yang lebih tenang karena sudah menyelesaikan masalahnya dengan Nadia. Namun disisi lain dirinya masih sedikit kesal dengan Aneta yang terus menerus mengganggu kehidupannya setelah Abel kembali pada keluarganya. Kini Andre harus memikirkan bagaimana cara untuk menyelesaikan masalahnya dengan wanita itu, pasalnya orang seperti Aneta dan keluarga suaminya itu takkan jera kalau hanya di penjara saja. Lagi pula Nadia dan Mama Anisa juga sudah memberikan pelajaran pada mereka namun tetap saja belum jera juga.
Saat dirinya tengah fokus dengan kemudi dan pikirannya, tiba-tiba saja ada sebuah mobil hitam yang menyalip sebelah kanan mobilnya kemudian menghadangnya. Dengan refleks, Andre mengerem mobilnya dengan mendadak sampai dahinya sedikit terkantuk stir kemudi mobil.
"Shitt..." umpat Andre sambil memegangi dahinya yang terasa nyeri.
Beberapa orang berbaju hitam seperti bodyguard turun dari mobil itu kemudian mengetuk jendela mobil milik Andre berulang kali. Andre mengernyitkan dahinya heran karena merasa tak pernah berurusan dengan orang-orang yang mempunyai bodyguard seperti ini. Andre sedikit menghela nafasnya kasar kemudian segera keluar dari mobilnya dengan perasaan dongkol.
"Silahkan anda ikut dengan kami. Bos kami sedang menunggu kedatangan anda" ucap salah satu bodyguard itu.
"Siapa bos kalian? Saya tak merasa kenal dengan seseorang yang memakai jasa bodyguard seperti kalian" ucap Andre dengan tatapan menyelidik.
"Kami hanya menjalankan tugas, bukan untuk menjawab pertanyaan anda. Silahkan ikut bersama kami dengan cara halus sebelum kami menggunakan cara kasar" ucap bodyguard itu lagi.
"Saya akan mengikuti kalian menggunakan mobil sendiri. Saya berjanji tidak akan kabur, kalau kalian masih tidak percaya silahkan salah satu dari kalian bisa berada satu mobil dengan saya" ucap Andre.
Andre memutuskan untuk ikut mereka karena ia penasaran dengan seseorang yang ingin bertemu dengannya. Empat bodyguard itu saling menatap seakan sedang berdiskusi lewat tatapan mata kemudian menganggukkan kepalanya. Akhirnya salah satu dari mereka masuk kedalam mobil Andre sebagai sopir dan Andre duduk di sebelah kemudi. Mobil milik Andre melaju mengikuti mobil hitam yang tadi menghadangnya.
***
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya kedua mobil hitam itu sampai di depan sebuah rumah sederhana. Andre melihat kearah sekitar rumah itu, dirinya nampak asing dengan daerah ini. Pasalnya selama ini tak ada kolega bisnis ataupun kerabatnya yang tinggal di daerah ini. Andre mulai bertanya-tanya tentang siapa orang yang disebut bos oleh keempat bodyguard itu.
__ADS_1
Andre segera keluar dari mobil setelah dibukakan pintu oleh salah satu bodyguard itu, kemudian ia mengikuti orang-orang itu masuk ke dalam rumah. Saat melihat siapa orang yang ada di ruang tamu, matanya membelalak kaget karena yang mempunyai rumah dan bodyguard itu adalah Parno.
Dirinya yang sudah penasaran setengah mati, ternyata hanya berhadapan dengan Parno. Dirinya menepuk dahinya pelan kemudian berjalan mendekat kearah Parno yang menampilkan wajah menantangnya. Tanpa disuruh, Andre duduk di kursi sofa ruang tamu itu menghadap kearah Parno.
"Dasar tidak sopan. main duduk padahal belum disuruh" ketus Parno dengan menampilkan wajah juteknya.
"Ambilkan saya minum" perintah Andre.
Tanpa mempedulikan ucapan Parno, Andre menyuruh salah satu bodyguard laki-laki itu untuk mengambilkan minum. Bahkan kini Andre sudah seperti yang punya rumah saja tanpa mempedulikan Parno yang kini menatapnya julid. Salah satu bodyguard itu menurut kemudian mengambilkan minum untuk Andre padahal sang punya rumah belum menyetujuinya.
"Ada apa sampai kau menyuruh bodyguardmu itu untuk membawaku? Emang kau tak bisa menemuiku sendiri, dasar pengecut" ejek Andre.
Merasa mendapatkan ejekan dari Andre, membuat Parno kesal bukan main hingga melemparkan sapu tangannya kearah wajah Andre. Andre dengan sigap mengelak kemudian memeletkan lidahnya saat sapu tangan itu tak mengenai wajahnya.
Hueekkkkk...
"Habis buat apaan nih sapu tangan? Baunya menjijikkan sekali" ucap Andre yang kemudian membuang sapu tangan yang tadi terjatuh ditangannya.
"Tadi habis buat lap ingus Parno dong" jawab Parno dengan bangganya.
Andre yang mendengar hal itu segera saja mengambil hand sanitizer dari saku jasnya kemudian menyemprot pada tangannya berulang kali. Andre bergidik ngeri menatap sapu tangan yang sudah tergeletak di lantai itu. Dia menahan mualnya akibat ucapan dari Parno yang menurutnya sangat jorok itu.
__ADS_1
"Cepat katakan apa tujuanmu membawaku kesini. Gara-gara kau, aku harus meninggalkan pekerjaanku yang bisa menghasilkan satu milyar dalam sehari itu" ucap Andre dengan nada sombongnya.
Parno yang medengar ucapan Andre pun hanya menatapnya sinis kemudian mengatakan maksud dari tindakannya ini.
"Aku ingin menawarkan beberapa hal padamu. Aku ingin kita bersaing untuk mendapatkan Nadia dengan beberapa pertandingan. Kalau seandainya kamu menang maka aku akan mundur. Namun jika kamu kalah, maka kamu harus pergi dari kehidupan Nadia" ucap Parno memberikan penawaran.
"Keempat bodyguardku ini yang akan menjadi jurinya" lanjutnya.
Andre hanya bisa menahan tawanya mendengar apa yang diucapkan oleh Parno. Tanpa bersaing atau bertanding dalam hal apapun, sudah dapat dipastikan kalau dirinya yang akan memenangkan hati Nadia. Lagi pula kini mereka sudah resmi pacaran, jadi buat apa hal ini terjadi. Sungguh Parno sangat kekanak-kanakan.
Dia melihat kearah Parno dari atas ke bawah dengan tatapan menilai, ia ingin tahu apa saja keahlian laki-laki ini sehingga bisa dengan mudahnya menantang dirinya.
"Kau harus mau" ucap Parno dengan tatapan garangnya.
Bukannya takut, Andre malah memalingkan wajahnya karena merasa wajah Parno sangat lucu. Akhirnya Andre menganggukkan kepalanya menyetujui apa permintaan Parno. Lumayan juga kalau dirinya menang maka si Parno ini takkan mengganggu hubungannya dengan Nadia.
"Jadi kita akan bertanding apa?" tanya Andre.
Andre sudah membuka jas mewahnya hingga terlihat kemeja putihnya saja. Kemudian ia menggulungkan lengan kemejanya keatas membuatnya terlihat seperti pria sempurna yang dipuja-puja oleh banyak wanita karena terlihat otot-otot tangannya yang begitu menggoda. Parno yang melihat itu meneguk salivanya kasar dan melirik kearah lengannya yang hanya terlihat tulang belulangnya saja. Parno segera mengalihkan pandangannya, kemudian segera berdiri dan dengan percaya dirinya berjalan keluar rumah diikuti oleh Andre yang mengikuti dibelakangnya.
Mereka kini ada di halaman rumah Parno yang dikelilingi pepohonan yang rindang.
__ADS_1
"Kita akan bertanding... Lompat tali" seru Parno sambil menunjuk benda yang terinjak oleh Andre.
Andre segera melihat apa yang ditunjuk oleh Parno kemudian menjatuhkan rahangnya. Dirinya bermain lompat tali? Seorang pengusaha restorant dan property bertanding lompat tali untuk mendapatkan seorang gadis? Dia menggeleng tak percaya dengan apa yang dilihat dan diucapkan oleh Parno. Permainan anak kecil digunakan untuk bertanding merebutkan perempuan sungguh membuat Andre shock. Sedangkan keempat bodyguard yang ada disana seketika menahan tawanya saat melihat bagaimana wajah shock Andre yang menatap tidak percaya.