Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Saingan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 pagi, Andre berniat untuk menjemput ketiga anaknya dan Nadia dari sekolah. Peristiwa kemarin membuatnya sedikit takut membiarkan ketiga anaknya berjalan kaki saat pulang ke rumah. Walaupun sebenarnya niat awalnya untuk melakukan pendekatan dengan Nadia, namun disisi lain juga demi keamanan ketiga anaknya.


Pagi ini Andre sama sekali tak mengerjakan pekerjaannya karena sibuk berpikir tentang rencana pendekatannya dengan Nadia. Andre segera saja mengambil kunci mobilnya dan keluar dari ruangannya dengan senyum-senyum sendiri. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya pun terpesona dengan senyuman manis yang diperlihatkan oleh bosnya itu.


"Gila sih, baru kali ini lihat senyuman si bos semanis ini. Biasanya kan hanya senyum tipis gitu"


"Mungkin benar yang ada di group gosip kalau si bos lagi jatuh cinta"


"Si bos udah punya pacar, patah hati dong gue"


Begitulah pekikan-pekikan yang terdengar dari mulut para karyawan perusahaan, namun Andre membiarkan semua itu karena ia malas menanggapi. Walaupun mungkin kini dirinya menjadi bahan gosipan seluruh kantor, namun dirinya tak peduli. Yang terpenting tak ada yang mengusik keluarganya.


Sesampainya diparkiran, Andre segera masuk kedalam mobilnya dan melanjukannya ke sekolah TK tempat kedua anaknya menempuh pendidikan. Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya Andre sampai di sekolah itu, terlihat sekali banyak anak-anak yang tengah digandeng ibu atau pengasuhnya keluar dari area sekolah.


Andre segera turun dari mobil kemudian mencari keberadaan Nadia dan ketiga anaknya. Setelah melihat Nadia dan ketiga anaknya berjalan keluar kelas, dia segera mendekat kearah mereka.


"Papa.." seru Anara saat melihat kehadiran papanya.


Anara segera berlari memeluk papanya, begitupun dengan Abel. Sedangkan Arnold masih setia berada digendongan Nadia. Andre memeluk kedua anaknya dengan erat, setelahnya segera menggendong keduanya secara bersamaan. Nadia yang melihat kedatangan Andre segera mendekat kearahnya.


"Tumben jemput? Kami bisa pulang jalan kaki" ucap Nadia acuh tak acuh.


"Aku keburu kangen nih, pengen cepat-cepat ketemu sama ketiga anakku" ucap Andre kemudian menciumi pipi kedua anak perempuannya.


Setelahnya Andre mendekat kearah telinga Nadia membuat gadis itu terheran-heran.


"Aku juga keburu pengen ketemu bundanya anak-anakku" bisiknya tepat ditelinga Nadia.


Nadia yang mendengar bisikan Andre seketika bergidik ngeri, apalagi nafas laki-laki itu begitu terasa menyapu sampai kedalam telinganya. Nadia segera menjauhkan kepalanya dari Andre dan menatap sinis kearah laki-laki itu. Sedangkan Andre hanya cengengesan melihat Nadia yang menatapnya begitu sinis dan acuh tak acuh.

__ADS_1


"Cepat nikahin tuh Mbak Nadianya, Mas Andre. Kalau Mas Andre nggak nikah-nikahin juga, biar saya jodohin sama anak saya yang masih bujang" seru salah satu ibu-ibu yang masih ada disana.


"Enak aja, Nadia itu punya saya. Saya ajakin gulat anak ibu kalau sampai ngambil Nadia dari saya" seru Andre tak terima.


Sedangkan ibu-ibu itu hanya tertawa, pasalnya niatnya dia hanya bercanda karena terlalu gemas dengan Nadia dan Andre. Sedangkan Nadia segera memalingkan wajahnya agar Andre tak melihat kalau dia sedang tersipu malu.


"Nak aja, unda tu unya Anol ukan papa" celetuk Arnold.


"Wah... Saingannya berat ya Mas Andre, anak sendiri hahaha" ucap ibu itu dengan tertawa meledek.


Andre hanya mendengus kesal sedangkan ibu-ibu itu segera pergi dari area sekolah setelah puas meledek Andre. Andre mengutuk anak laki-lakinya yang begitu menyebalkan itu didalam hatinya. Akhirnya mereka semua berjalan kearah mobil Andre dan masuk kedalamnya dengan posisi duduk seperti berangkat tadi.


***


Sesaat setelah sampai didepan rumah, ketiga anak Andre segera diturunkan dari mobil dan mereka berlari memasuki rumah mewah itu. Sedangkan Nadia sedang membawa dua tas milik Anara dan Abel sehingga keluar dari mobil lebih lama. Andre yang melihat itu segera memanfaatkan keadaan.


"Apa-apaan sih? Lepasin nggak" ketus Nadia.


Andre segera membungkam mulut Nadia dengan tangannya kemudian menyeret gadis itu kearah pohon mangga. Setelah sampai disana, Andre segera saja melepaskan bekapan itu dan Nadia meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Loe mau bunuh gue?" seru Nadia dengan nafas tersengal-sengal.


"Habisnya loe cerewet, entar kalau kedengaran si bocil Arnold bisa-bisa dia ikutan kesini" kesal Andre.


"Lah... Emang kenapa kalau Arnold kesini? Harusnya anak itu ada disini biar tahu kalau Bundanya yang cantik dan bohay ini mau dibunuh sama papanya" ucap Nadia dengan percaya dirinya.


Andre yang mendengar hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja dan memilih menyerah untuk berdebat dengan Nadia. Ia harus segera mengatakan tujuannya sebelum ketiga bocil itu datang mencari keduanya.


"Gue nggak ada niat bunuh loe. Gue pengen ngomong sesuatu" kesal Andre.

__ADS_1


"Ngomong ya tinggal ngomong aja sih" ucap Nadia.


"Nanti malam kita pergi ke pasar malam" ucap Andre.


"Ogah, males" jawab Nadia dengan acuh tak acuh.


Sebenarnya Nadia sempat tertarik dengan ajakan dari Andre untuk ke pasar malam namun dirinya terlalu gengsi. Sedangkan Andre yang ajakannya ditolak pun kini sedang mengutuk karyawannya yang memberikan ide itu didalam hatinya.


"Ini bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Jadi nggak ada alasan kamu bisa nolak" ucap Andre dengan tegas.


"Dih... siapa anda? Bapak saya, ibu saya, pakdhe sa..."


"Calon suami anda kalau saja anda amnesia" sela Andre sebelum Nadia mengucapkan kalimat asalnya.


"Pokoknya saya tak mau tahu, nanti malam kau harus ikut denganku ke pasar malam. Setelah anak-anak tidur, kita berangkat" putusnya.


Nadia yang ucapannya dipotong oleh Andre pun kesal bukan main. Pada akhirnya dia pasrah saja jika nanti malam akan pergi ke pasar malam bersama laki-laki itu. Ya hitung-hitung hiburan lah ya sekalian minta jajan sama majikannya.


"Oke, tapi traktir jajan cilok, telur gulung, siomay, batagor, arum manis,..."


"Arum jeram pun saya kasih nggak perlu arum manis" kesal Andre dengan memotong apa yang dikatakan Nadia.


Menurut Andre, Nadia begitu cerewet jika sedang dalam mode menyebalkan seperti ini. Nadia yang mendengar ucapan Andre pun mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Namun tiba-tiba saja ada ketiga anak kecil ikut menimbrung pembahasan mereka setelah daritadi hanya mendengarkannya saja. Tentu saja ketiga anak kecil itu adalah anak Andre. Mereka sudah ada disana sejak pembahasan tentang pasar malam.


"Mau juga dong arum manis" ucap Anara.


"Ita mau ke pacal alam,... Horeeee" seru Arnold.


Andre dan Nadia yang mendengar suara celotehan anak kecil pun segera mengalihkan pandangannya, tampaklah ketiga anak kecil sedang menatap mereka dengan polosnya. Andre hanya bisa menepuk dahinya pelan karena merasa acaranya nanti malam akan gagal kalau mereka ikut.

__ADS_1


__ADS_2