
Benar saja setelah perbincangan dengan Arnold waktu itu, Nadia langsung membicarakannya dengan Andre dan Papa Nilam. Akhirnya mereka memutuskan untuk mendaftarkan anak-anak ke sekolah Anara dan Abel. Tentunya dengan dekat kedua kakak mereka pasti kalau ada apa-apa cepat diantisipasi.
"Abang, hari ini kita daftarin ke sekolahnya kak Anara dan Abel bersama dengan Nilam ya" ucap Nadia setelah melihat semuanya sudah berangkat.
Arnold mengalihkan pandangannya kearah sang bunda yang tersenyum lembut kepadanya. Nadia berusaha meyakinkan Arnold lewat tatapan matanya agar anaknya itu tetap melanjutkan sekolahnya tanpa ragu. Arnold menganggukkan kepalanya membuat Nadia bertambah senyum lebar.
"Abang adi ke cekolah? Unda, Alan uga mau itut cekolah ya. Talo bica malah Alan itut di daptalin" ucap Alan dengan yakin.
"Usianya belum cukup, nak. Tapi untuk pendaftaran ini nanti Alan juga bisa ikut" ucap Nadia sambil tertawa.
Walaupun kecewa karena tak berhasil membujuk bundanya, namun Alan tetap menganggukkan kepalanya. Ia masih ingin menghabiskan waktu di rumah bersama dengan abangnya itu, namun apalah daya jika Arnold wajib untuk melanjutkan pendidikannya.
Nadia pun membantu keduanya untuk mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih rapi. Arnold juga sudah membawa tas berisi satu buku, pensil, dan bolpoint didalamnya. Tas yang sudah tersampir di punggungnya itu membuat Nadia begitu bahagia. Akhirnya ia bisa melihat kembali moment anaknya itu sekolah, walaupun baru pendaftaran.
"Ayo kita berangkat. Kita harus jemput Nilam dulu soalnya papanya tadi menitipkannya pada bunda" ucap Nadia yang kemudian menggandeng keduanya.
Keduanya mengangguk kemudian berjalan keluar dari rumah. Sudah ada sopir yang disiapkan Andre untuk mengantar jemput anak juga istrinya. Ketiganya segera masuk mobil kemudian sopir melajukan mobilnya ke rumah Nilam.
***
Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk mereka sampai di depan rumah Nilam. Nilam sudah duduk di teras rumahnya bersama dengan ART yang bekerja disana. Mama Vivi sudah bercerai dari papanya Nilam membuat sekarang gadis kecil itu hanya diasuh oleh ART saja.
Namun setidaknya Papa Nilam tak melihat kesakitan di tubuh atau mata kedua anaknya setelah berpisah dengan mantan istrinya itu. Lagi pula selama ini Mama Vivi memang tak pernah menerima kehadiran kedua anaknya itu. Akan kasihan jika kedua anaknya dibiarkan tinggal bersama dengan Mama Vivi tanpa pengawasan terlebih Papa Nilam tak selalu berada di rumah.
"Bunda..." seru Nilam dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
Dengan digandeng oleh sang ART, Nilam berjalan kearah mobil Nadia yang jendela kacanya memang sudah terbuka. Nadia tersenyum melihat Nilam begitu antusias saat akan mendaftar ke sekolah barunya. Sedangkan Arnold hanya melambaikan tangannya kearah Nilam.
Arnold duduk di kursi samping kemudi sedangkan Nadia memangku Alan di belakang. Nilam segera masuk dan duduk disamping Nadia dibantu oleh ART nya.
"Terimakasih, bi. Nanti kami antarkan Nilam kembali pulang setelah selesai mendaftarkan sekolahnya" ucap Nadia sambil tersenyum.
ART itu menganggukkan kepalanya kemudian sopir segera melajukan mobilnya kearah sekolah yang dituju. Sepanjang perjalanan terus diisi celotehan Alan yang bertanya kepada Nilam.
"Dalitadi kak Ilam cenyum-cenyum. Cenang ya cekolah baleng abang" ucap Alan dengan tatapan penasaran.
"Jelas dong. Kita bisa main dan cerita bareng terus nanti dapat teman banyak" ucap Nilam dengan antusias.
"Unda, anti Alan mau cali wewek uga tayak abang bial ndak kecepian di lumah" ucap Alan tiba-tiba setelah mendengar alasan dari Nilam.
Nadia hanya tertawa mendengar celotehan anaknya yang takut sekali jika ditinggal di rumah oleh kakak-kakaknya sekolah. Nadia menciumi pipi Alan membuat bocah kecil itu protes sehingga didalam mobil hanya ada tawa dan rengekan saja.
Hal ini dikarenakan persaingan antar siswa yang lumayang banyak sehingga pendaftaran akan dilakukan dari jauh hari. Kemudian satu minggu setelahnya akan diadakan tes seleksi. Mereka duduk sambil menunggu sesuai antrian datang untuk menyerahkan beberapa berkas.
Kini giliran Nadia yang maju ke depan bersama dengan Nilam dan Arnold. Alan memilih untuk duduk di kursi antrian saja daripada ikut bersama dengan bunda dan saudaranya itu.
"Untuk jadwal tes nya besok senin ya, bu. Minta tolong untuk dipersiapkan mengenai materinya ini tentang kehidupan sehari-sehari dan pertanyaan umum saja" ucap petugas pendaftaran itu.
Nadia menganggukkan kepalanya kemudian mengucapkan terimakasih. Arnold dan Nilam juga langsung pergi diikuti oleh Nadia. Ketiganya kembali ke tempat tunggu untuk menemui Alan namun ternyata bocah laki-laki itu tak berada di tempatnya.
"Tadi keluar sendiri lewat pintu belakang, bu" ucap salah satu ibu-ibu yang tahu tentang kepanikan Nadia.
__ADS_1
Nadia mengucapkan terimakasih kemudian menggandeng Arnold dan Nilam agar bisa mencari keberadaan Alan. Dengan langkah begitu cepat ketiganya mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat terdekat ruangan itu.
"Itu Alan, bun" seru Arnold sambil menunjuk adiknya yang duduk dibawah pohon.
Alan duduk dibawah pohon ditemani oleh seorang gadis kecil yang sepertinya juga sedang menunggu orangtuanya. Didekatnya itu ada seorang suster yang sepertinya adalah pengasuh dari gadis kecil itu.
Bahkan kini Alan menyuapi gadis kecil itu roti sandwich yang ada di kotak makanannya. Begitu pula dengan sebaliknya gadis itu juga menyuapinya balik.
"Astaga... Disini pada nyariin panik, dia asyik-asyikan makan sama cewek" ucap Nadia pelan sambil mengelus dadanya sabar.
"Biar aja bunda. Kan Alan tadi udah bilang mau cari cewek biar nggak kesepian" ucap Arnold yang membela adiknya.
Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah keduanya yang hampir mirip bahkan terkesan sama persis itu. Terlebih ini soal cewek, pasti otak Alan sudah terkontaminasi oleh ajaran Arnold.
"Kalian itu masih kecil, nggak boleh ada cewek-cewekan" gerutu Nadia sambil mengerucutkan bibirnya.
Nadia segera mendekat kearah Alan yang masih asyik suap-suapan itu. Bahkan Alan tak menyadari kehadiran Nadia yang raut wajahnya bak ingin memakannya hidup-hidup itu.
"Alan...." seru Nadia sambil berkacak pinggang.
Alan mengalihkan pandangannya kearah Nadia dengan cengengesan. Sedangkan gadis kecil disampingnya menatap aneh teman barunya yang terlihat panik saat kedatangan seorang wanita dewasa.
"Tamu capa? Angan malah-malahin Michael" seru gadis kecil itu berani seakan melindungi Alan.
"Michael?" ucap Nadia bertanya-tanya.
__ADS_1
Nadia heran kita gadis kecil itu menyebut Alan dengan panggilan Michael. Bahkan kini Alan hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena ketahuan oleh sang bunda.
"Iya, dia Michael...